Memberi Gagal pada Sesal

Penyesalan adalah salah satu hal yang paling memuakan dalam hidup. Ia datang datang belakangan dan tak pernah bisa ditebak kemunculannya.

Bisa dipastikan bahwa tidak ada manusia yang tak pernah bertemu dengan penyesalan. Entah dari persoalan yang kecil hingga yang besar. Mulai dari persolan memilih makanan, jam tidur, hingga cara bertutur kata dapat menimbulkan penyesalan-penyesalan kecil, namun hal tersebut bukan masalah yang besar karena kegiatan-kegiatan tersebut adalah sesuatu yang biasa kita lakukan sehari-hari dan dapat diubah di kemudian hari untuk menghindari penyesalan yang sama.

Akan menjadi sesuatu yang lebih rumit apabila penyesalan datang pada hal yang berdampak sangat besar, semisal menentukan masa depan. Rasa sesal baru akan datang dalam waktu yang sangat lama dari penentuan masa depan tersebut. Akhirnya penyesalan itu hanya akan menjadi kesakitan tak berujung karena tak ada upaya untuk memperbaikinya seperti pergi ke masa lalu.

Namun apabila kita amati lebih dalam pada penyebabnya, penyesalan sebenarnya muncul karena diri sendiri. Kita cenderung mendapat rasa sesal begitu ada akibat buruk yang berhadapan dengan kita. Hal ini membuat kita mulai berpikir mengapa tidak memilih hal lain untuk menghindari hal tersebut, namun semua sudah terlambat dan kita hanya bisa menatap rasa sesal.

Pada dasarnya sebelum memulai sebuah tindakan, kita selalu dapat memilih. Memilih untuk melakukan hal A, B, C, atau tidak melakukan apapun. Semua dapat dipertimbangkan secara bebas dan rasional sebelum kita benar-benar memilih untuk melakukannya. Tetapi apakah dari semua pilihan itu kita dapat mengetahui tindakan mana yang tidak akan menimbulkan suatu penyesalan?

Jawabannya tentu saja tidak. Penyesalan selalu datang tanpa diduga dan ia memang tak pernah dapat kita atur. Manusia memang mempunyai kehendak bebas dalam mengatur apa yang akan ia lakukan dan memperkirakan apa yang akan terjadi, namun Tuhan Semesta Alam mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengatur bebagai hal di luar kehendak kita.

Mungkin kita telah menyesal dengan segala pilihan yang telah kita tentukan semasa hidup yang menimbulkan berbagai hal buruk. Terkadang kita membayangkan mungkin akan lebih baik jika dulu kita memilih untuk menjalankan hal yang lain dan hal itu tak akan menimbulkan penyesalan. Bahkan kita bisa saja membayangkan menjadi orang lain karena mereka menjalani hidup yang terlihat lebih baik tanpa menghadapi kepahitan yang kita alami.

Namun apakah orang lain yang kita idamkan tidak mengalami penyesalan selama hidup? Bisa saja sebenarnya ia menginginkan hidup seperti yang kita alami dan tidak menginginkan hidup yang ia jalani selama ini.

Maka membayangkan melakukan suatu pilihan yang terlanjur tidak kita pilih adalah suatu hal yang tiada guna, ia hanya akan menjadi bayang-bayang yang terus menerus menyakiti angan kita.

Pada dasarnya setiap pilihan hidup yang akan kita jalani sudah pasti akan menghasilkan sebuah penyesalan.

Semisal kita mempunyai pilihan hidup menjadi dokter atau penulis. Begitu kita memilih menjadi dokter, penyesalan karena tak memilih menjadi penulis akan timbul begitu semua kenyataan pahit menjadi dokter mulai muncul. Hal yang sama akan terjadi begitu kita memilih menjadi penulis, kita juga akan menyesal karena tidak memilih menjadi dokter.

Bagaimana jika kita tak memilih untuk menjadi keduanya? Penyesalan juga akan terjadi begitu resiko-resiko buruk terealisasi pada pilihan ketiga ini dan kita mulai menyesal karena telah menyianyiakan dua pilihan berharga.

Memilih keduanya bisa menjadi opsi juga, tetapi kita tetap dapat menyesal karena energi dan waktu yang terbuang olehnya. Tetap ada penyesalan karena tak menjalani satu pilihan saja.

Pada kasus sederhana tersebut dapat kita buktikan bahwa manusia memang tak akan dapat menghindari penyesalan pada semua kesempatan yang akan dipilihnya. Sebesar apapun kehendak bebas kita, penyesalan tetap akan datang.

Satu-satunya menghadapi masa depan dan takdir yang tak bisa ditebak adalah menerimanya dengan rasa suka, apapun resikonya. Penyesalan pasti datang dan bersahabat dengannya adalah solusi terbaik.

Dengan mencintai takdir, kita akan menjadi manusia dengan rasa sesal yang berkurang dari waktu ke waktu. Resiko-resiko buruk dan tak terduga yang awalnya tidak kita sukai perlahan menjadi sahabat yang akan menuntun kita.

Dengan yakin bahwa hidup adalah rangkain pilihan bagi manusia, maka resiko-resiko buruk tersebut juga menghadirkan pilihan bagi kita untuk menghadapinya daripada sekadar menyesal tanpa guna. Pola pikir seperti ini akan membuat kita menjadi lebih tangguh dalam menghdapi masa depan dengan segala pilihan dan resiko yang ada.

Rasa syukur tetap harus hadir pada setiap ihwal yang telah menerpa kita selama hidup. Semua hal baik dan buruk yang menimpa kita di masa lalu yang membuat kita masih bertahan hidup selama ini dan belum tentu orang lain dapat melakukannya juga.

Tak ada yang lebih baik dalam menghadapi takdir Ilahi kecuali dengan terus mencintainya. Mencintai segala yang akan dan telah terjadi entah itu hal yang baik atau buruk bagi kita. Rasa cinta inilah yang nantinya menghadirkan kegagalan pada rasa sesal yang akan menjadikan kita sebagai manusia yang hancur dan tak berguna.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.