Percaya tanpa Memaksa

Kenyataan berkata bahwa mereka yang menyebarkan kepercayaan melalui pemaksaan, perang, maupun invansi hanya bisa mengubah orang sampai tahap ritus. Bagaimana dengan iman mereka? Akhirnya hanya masing-masing insan yang tahu. Lihat saja kerajaan-kerajaan tertentu yang besar karena perang, begitu mereka runtuh penduduk asli mereka kembali ke kepercayaan yang mereka anut sebelumnya.

Bandingkanlah dengan penyebaran kepercayaan yang halus melalui kultur tanpa ada pemaksaan. Sampai para penyebarnya hilang pun, orang-orang masih nyaman dengan ajaran baru tersebut.

Bisa saja sekarang kita melihat orang yang melakukan ritus dengan rutin tetapi dia sebenarnya tidak mempunyai afiliasi terhadap kepercayaan manapun atau mungkin kita melihat seseorang yang tidak pernah melakukan ritus tetapi imannya terhadap ajaran tertentu sangat kuat. Dalam hal kepercayaan, fisik tidak akan bisa menyimbolkan yang nonfisik. Status orang benar-benar beriman pun harusnya hanya bisa diketahui oleh Yang Mahatahu (dalam hal ini Tuhan, jika kalian percaya padaNya).

Mencap orang lain sebagai infidel atau orang alim pun sebenarnya bukan hak kita, tahu apa kita tentang mereka? Ada orang yang berkata bahwa mencap saudara yang terlihat seiman sebagai infidel sangatlah dilarang. Seharusnya hal ini berlaku untuk semua orang bukan orang yang seiman saja, bisa saja kita juga sesat kan? Jadi Tuhan saja kalian jika tidak ingin salah.

Akhirnya penyebaran kepercayaan maupun pemikiran melalui kekerasan ataupun menganggap yang lain sesat hanya akan merendahkan kalian. Berpikiran terbukalah jika kalian juga ingin membuka pikiran orang lain. Masalah hasil tidak usah dipertanyakan, banyak juga yang berhasil justru ketika sudah mati, yang gagal? Entahlah. Toh hidup ini hanyalah perjuangan tanpa merugikan orang lain, bukan perkara menang atau kalah.

Like what you read? Give Atolah Renanda Yafi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.