Apa Obsesimu, Za? Bermusik!

Meski menurut saya, bertampang dangdut, Riza, terobsesi pada musik-musik rock. Jujur saja, secara musikalitas ia minim. Tapi kata bijak bestari, disiplin mengalahkan bakat.

Rajin masuk studio mengulik lagu. Cari studio murah yang sejamnya tak sampai Rp. 100.000, latihan ia di sana. Kadang, mengajak teman-teman yang main musiknya lebih establish. Ngulik-ngulik lagu. Dari R.E.M sampai Radiohead.

Maka di sinilah saya. Menulis untuk Riza. Semacam tulisan yang mencoba menerjemahkan obsesi Riza jadi musisi. Obsesi berkesenian.

Jelasnya, ia berasal dari Pacitan. Selain pantai dan goa, saya sendiri, yang kuper ini, jarang dengar band-band dari tanah lahir SBY.

Saya tak tahu detil bagaimana ia rekaman. Suatu ketika ia tanya ke saya software apa yang digunakan untuk edit audio, saya balik nanya, “Yang gratis apa yang berbayar?”

Tentu ia pilih yang pertama: yang gratis.

“Audacity, Za.”

Ya, kira-kira, dengan software itu-lah mungkin ia mengedit file-file audio yang ia rekam, ke Soundcloud.


Mulanya dari mana ia terobsesi ngeband. Saya tak tahu jelasnya. Tapi kalau kesukaannya menyumbat telinganya dengan headset, lantas tak menggubris dunia sekitar dan malah mengangguk-anggukkan kepala, saya tahu. Sudah sejak lama tentunya. Rambut yang dari awal kuliah dibiarkan gondrong, adalah cerminan Dave Grohl dan Kurt Cobain.

Khusus Cobain, Riza menaruh perhatian lebih. Ia punya buku, poster, dan film biopic Cobain yang diputar berulang-ulang. Meski begitu, ya, tentunya, tak bisa lepas begitu saja dari dangdut Pantura. Musik Pantai Utara.

Dua tahun lalu, saya mengiringinya masuk studio sewaan. Sialnya, saya ikut sewa meski hanya duduk diam memerhatikan ia, Anton, dan Wahyu. Baik, untuk bagian ini mungkin saya dikibuli. Paduan tiga orang ini, hanya nge-jam saja. Tak jelas mau ngulik lagu apa. Dua orang teman lain kebingungan. Terheran-heran.

“Aku kalau main gitar, gak pakai kunci. Asal nadanya sama saja?” ucap Riza.

Anton dan Wahyu, melengos.

Saya tak sampai hati menyampaikan ini ke Riza. Hati saya terlalu putih waktu itu.

Jelasnya, Wahyu, yang bersama band-nya pernah tampil di Rock in Solo, meminta Riza untuk latihan lebih lagi. Saran itu dilakukan dengan sepenuh hati, sampai sekarang.

Kawan, ayolah, saya ulangi sekali lagi. Bakat akan kalah dengan disiplin dan kerja keras, kan?


Saat menulis ini, saya sedang mendengarkan Riza meng-cover salah satu band kesukaan saya, apalagi kalau bukan R.E.M. Oke, ya, ini opini jujur, dari orang yang tak begitu mengerti masalah teknis bermusik dan kualitas audio.

Opini jujur saya, setelah mendengar satu lagu berjudul ‘Losing My Religion’: Cover-annya tidak buruk amat tapi sering telat masuknya, mungkin karena ia nyanyi sambil membaca lirik yang belum dihapal.

Itu saja, sih. Hahaha.

Band lain yang ia cover, beragam. Saya absen satu persatu, ada Lamb of God, Seether, Sting, R.E.M, Pearl Jam, Richard Marx, 3 Doors Down, Alice in Chain, Bush, dan Lady Gaga.

Semuanya berformat MP3 dan, tentu saja: RAW!

“Tak semuanya aku masukkin Soundcloud. Yang di Soundcloud, yang kalem-kalem.” begitu katanya lewat WhatsApp.

Maka, saya sarankan untuk berkunjung langsung ke Soundcloud-nya. Berikut link-nya. Saya sarankan untuk mengritiknya, kalau perlu dengan kata-kata yang pedas. Biar ia segera mengubur obsesinya bermusik, dan segera ikut jejak keluarganya: menjadi Pegawai Negeri Sipil.