Merencanakan Kematian

Adapted from firstforwomen.co.za
Sekarang aku sudah 20 tahun, saatnya bekerja keras dan mencari uang
Nah, sekarang sudah 30 tahun, saatnya mempertimbangkan pengeluaran anak
Eh, udah 40 tahun saja, udah mesti siapin pensiun nanti mau gimana

Pernah terlintas pikiran-pikiran di atas? pikiran tersebut sangat sering terngiang di saat beberapa momen hidup kita, terutama saat kita menginjak tahap tertentu dalam hidup kita seperti ketika umur kita berganti kepala. Banyak riset-riset psikologi terbaru pula yang menekankan hal tersebut, di mana kita cenderung untuk memikirkan sesuatu, hanya ketika hal tersebut sudah tampak jelas di dekat kita atau kita sadari karena kejadian tertentu.

Tetapi, pernahkah Anda bertanya

Apa yang akan terjadi kalau saya meninggal esok hari?

Kematian adalah sesuatu yang selalu dekat dan merupakan hakikat setiap manusia untuk menghadapi kematian. Meskipun usia harapan hidup kita di Indonesia mencapai 70 tahun, bukan berarti kita dapat hanya harus memikirkan kematian pada saat sudah mendekati umur tersebut. Setidaknya terdapat 10% kemungkinan kita bahkan tidak hidup mencapai usia hidup 60 tahun, di negara maju sekalipun dengan harapan hidup yang jauh lebih tinggi. Artinya 1 dari 10 orang memiliki peluang untuk meninggal relatif lebih dahulu sebelum waktunya, angka yang cukup tinggi.

Walau tidak memikirkan hal ekstrim seperti kematian, bukanlah suatu hal yang buruk, tetapi ada baiknya jika kita dapat menggunakan gaya pemikiran yang dimiliki oleh Janus, seorang dewa Romawi yang memiliki dua wajah, satu menghadap ke belakang dan satunya menghadap ke depan, melambangkanpembelajaran yang berfokus pada masa lalu dan visi yang berfokus pada masa depan.

Bercermin ke masa lalu, tidaklah harus melihat ke masa lalu pribadi. Kita selalu dapat melihat masa lalu atau pengalaman dari orang lain atau kejadian lain. Di sini kita dapat mengambil contoh dari jatuhnya Orde Baru. Pada waktu itu, Orde Baru memiliki perencanaan yang sangat matang dengan Kebijaksanaan Pembangunan Pelita. Di mana Presiden Soeharto telah merencanakan dari pertama kali dia menjabat, Indonesia akan menjadi negara adidaya pada tahun 2013 dengan rencana dia.

Namun sayang, Presiden Soeharto kala itu tidak memperhitungkan sebuah kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu kemungkinan di mana Orde Baru akan jatuh. Di saat Orde Baru jatuh pada tahun 1998, begitu pula dengan rencana Presiden Soeharto untuk membuat Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2013 telah “mati” 15 tahun lebih awal. Sehingga seperti yang kita alami sekarang, negara kita gagal memenuhi perencanaan yang sudah “mati” tersebut.

Begitu juga dengan manusia, kita dapat melihat bahwa banyak orang-orang di sekitar kita meninggal di saat usia yang masih tampak muda, di saat orang-orang tersebut mungkin tidak menunjukan tanda-tanda bahwa mereka akan meninggal (seperti penyakit). Dan hal yang terjadi sesudahnya bukan hanya menimbulkan luka emosi terhadap orang-orang di sekitarnya, namun juga banyak kerugian finansial seperti warisan yang tidak jelas penerimanya dan diambil oleh yang bukan sepantasnya, kehidupan tanggungan (seperti anak) yang menjadi sulit, atau bahkan bisnis yang gagal berjalan karena kehilangan orang yang menjadi kuncinya.

Dan terkait melihat ke masa depan, sekarang sudah banyak profesi yang muncul karena adanya isu seperti isu mati terlalu muda, seperti misalnya profesi perencana keuangan. Profesi perencana keuangan cukup dibutuhkan untuk sisi kedua dari wajah Janus, di mana kita dapat merencanakan apa yang akan terjadi ke depannya dengan mempertimbangkan resiko atau kemungkinan yang dapat terjadi, termasuk di dalamnya adalah kematian.

Merencanakan kematian sendiri bukan berarti kita memiliki target kita akan meninggal pada umur berapa atau bahkan berharap kita akan meninggal cepat. Namun kita berfokus untuk meminimalisir dampak dari apa yang akan terjadi jika seandainya kita mengalami keadaan yang tidak diharapkan tersebut pada awalnya.

Contoh sederhana dari beberapa hal sederhana yang dapat Anda lakukan saat ini juga untuk “merencanakan kematian” Anda adalah dengan bertanya ke diri Anda sendiri beberapa pertanyaan

  • “Apakah jika saya meninggal esok hari, maka akankah keluarga terdekat saya akan mengalami kesulitan untuk melanjutkan hidup mereka?”
    Kalau jawaban Anda adalah iya, maka sudah saatnya Anda mulai mempertimbangkan asuransi untuk jiwa Anda.
  • “Apakah yang akan terjadi kepada apa yang saya miliki sekarang jika saya meninggal esok hari?”
    Jika Anda tidak mengetahui jawabannya, Anda dapat langsung mulai mempertimbangkan pembuatan wasiat Anda, tanpa memandang umur berapakah Anda sekarang.
  • “Jika saya meninggal esok hari akankah saya akan memberatkan keluarga saya? teman saya? anak saya?”
    Di beberapa kebudayaan, upacara kematian adalah upacara yang sakral dan membutuhkan biaya yang cukup banyak dan sering kalanya memberatkan keluarga melalui pembiayaannya. Anda dapat mengakalinya dengan mendaftar asuransi jiwa atau berinvestasi untuk dana tersebut.
  • “Dapatkah saya tetap membantu keluarga saya tetap bertahan hidup walau saya meninggal esok hari?”
    Jika jawaban Anda adalah tidak, selain Anda dapat mengasuransikan jiwa Anda, Anda juga dapat mulai merencanakan biaya pensiun dan merencanakan pewarisannya untuk membantu keluarga Anda untuk tetap melanjutkan hidup dengan cukup sejahtera.

Hal-hal tersebut mungkin terdengar cukup klise atau mungkin terlalu sederhana, namun percayalah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangatlah berguna. Seperti contoh skenario berikut di mana pertanyaan di atas menjadi instrumen “perencanaan kematian” yang berguna.

I Ketut Evan adalah pengusaha berusia 30 tahun yang sangat sukses dengan penghasilan hingga Rp 10 juta per bulan. Dia memiliki seorang istri dan bayi. Karena dia membaca artikel ini, dia mempertimbangkan untuk mendaftar asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan sebesar Rp 2 Miliar hanya dengan premi Rp 300 ribu per bulan (3% penghasilan bulanannya). Sayangnya ketika dia berusia 31 tahun, ia mengalami keracunan dan meninggal, sehingga usaha yang dirintisnya ikut jatuh juga.
Jika seandainya dia tidak mendaftar Asuransi mungkin istri dan anaknya dapat bertahan selama beberapa saat, namun dengan usaha yang menurun, maka istri dan anaknya akan membutuhkan usaha ekstra untuk bertahan hidup. Dengan tanggungan dari asuransi sebesar Rp 2 Miliar, maka keluarganya dapat bertahan.

Tentu saja, skenario ini tidak dapat berlaku di semua kehidupan orang, namun jika Anda membayangkan diri Anda berada di posisi tersebut, Anda akan semakin menghargai nilai dari “merencanakan kematian” itu sendiri. Selain itu, Anda tidak perlu merasa terbebani dengan kewajiban untuk mendaftarkan diri Anda pada asuransi, karena asuransi bukan satu-satunya alternatif untuk “merencanakan kematian” Anda. Namun, itu adalah salah satu alternatif yang cukup mudah dimanfaatkan dan jika Anda dapat menemukan instrumen yang Anda rasa lebih tepat tentu itu lebih baik.

Sebuah bacaan tidaklah berarti banyak tanpa adanya aksi oleh pembacanya. Oleh sebab itu, saya sarankan sekali lagi, sekali lagi, tanyakan kepada diri Anda saat ini juga, “Apa yang akan terjadi kalau saya meninggal esok hari?”

Pastikan perencanaan Anda sudah matang dan Anda akan dapat melanjutkan hidup dengan penuh percaya diri dengan terlindunginya/bersiapnya Anda dan orang di sekitar Anda dari resiko-resiko yang ada.

Tempat dengan harta terbanyak di dunia bukanlah tambang emas, melainkan kuburan yang memendam jutaan mimpi, pengetahuan, dan pikiran tak ternilai yang terkubur di dalamnya.