Katakan saja kalau kau sedang muak pada semua situasi yang kau punyai. Kau ingin bunuh orang-orang yang kau temui setiap hari karena mereka sudah beratus kali mengucapkan kalimat yang sama dalam struktur bahasa yang tak berubah satu kata pun dari 60 hari sejak hari pertama kau mengenal kawan-kawan satu tongkrongan.

Aziz selalu mengatakan hal-hal sederhana dengan pelik. Sementara si gemuk yang jatah makanya melebihi jatah makanmu selama tiga hari, mengakhiri kalimat dengan wejangan motivasi penulis buku-buku how to.

Telingamu kehilangan daya dengarnya terhadap kalimat mereka. Saat Aziz menceritakan pria tetangga rumahnya yang didamprat istrinya lantaran lupa membersihkan kamar mandi seminggu sekali di hari minggu, kau pilih memikirkan kemuakanmu sambil menanggapinya sesekali dengan anggukan kepala dan gumaman hmm yang Aziz artikan setuju atas pendapatnya.

Kemuakanmu atas kalimat membosankan memuncak ketika status Tere Liye terpampang di beranda facebook. Sudut matamu memicing tajam, tenggorokan tercekat tak keluar satu cibiran yang mampu mewakili perasaanmu.

Laptop terbanting sesaat setelah kau putuskan menggerakkan tanganmu ke muka lcd kredit yang belum kau bayar lunas. Layar kaca lcd berpaling menangkupi lantai kontrakanmu. Pecah. Berisik.

Pintu terbuka. Lemi, istrimu, menatapmu heran dari belakang. Ia tahu kau kesal mendapati lcd pecah, dua tangan yang memegangi kepala, dan kucing hitam yang diam di pojokan tanpa suara, takut pada kegeramanmu.

'’Kau begini lagi Tarman’’ ucap istrimu, iba sekaligus muak pada tingkah lakumu dua minggu terakhir.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.