The Spring’s Hope

…………「春の希望」…………

Salju mulai bertransformasi menjadi tetesan air dari dahan pohon. Musim semi telah tiba. Bertepatan dengan itu, seorang gadis manis lahir.

Bayi berpipi bagai persik itu diberi nama Furukawa Nozomi, nama kecilnya menandakan bahwa ia adalah harapan bagi keluarganya.

Masa kecil Nozomi yang dipenuhi suara merdu kebahagiaan tidak berlangsung lama, keluarganya tertimpa musibah. Bisnis yang ditekuni ayahnya hancur dan mengharuskan beliau untuk bekerja di sebuah bar.

Namun, seiring berjalannya waktu, sang ayah menjadi tidak karuan. Pemabuk berat yang menghabiskan upah kecilnya untuk bersenang-senang. Keluarga kecil itu mendadak terguncang.

Sang ibu melarikan diri dari rumah karena tidak tahan. Beliau meninggalkan lelaki sulung dan putri bungsu yang masih belia. Tidak pernah lagi kedua anak itu mendengar suara pisau mengiris sayuran, atau suara air mendidih di dapur. Tidak pernah, kecuali salah satu dari mereka yang memasak.

Nozomi dan kakaknya, Furukawa Seta mulai membiasakan diri hidup tanpa sang ibu dan dalam tekanan serta cacian sang ayah.

Sejak kecil, Nozomi memiliki bakat menyanyi. Suaranya lembut dan menghangatkan. Baik ia maupun Seta memiliki suara dengan tipe yang hampir mirip. Namun, Seta kurang mengasah bakatnya tersebut.

Nozomi beberapa kali mengikuti kompetisi vokal yang membanggakan sekolahnya serta nama baik keluarga Furukawa. Tetapi, bagi ayahnya bakat gadis ini tidak berguna. Di mata pria itu, anak ini hanyalah seonggok daging yang tidak becus.

Suatu ketika, Nozomi direkomendasikan untuk mengikuti audisi sebuah agensi dunia hiburan milik Korea Selatan yaitu HS Entertainment. Gadis itu sempat bimbang, baginya sangat tidak mungkin menjadi bintang di negeri seberang.

Rupanya Seta juga mendukung Nozomi untuk mengikuti audisi itu. Gadis ini pun berpikir ulang dan memantapkan diri. Nozomi akan menunjukkan bakatnya secara optimal demi menggapai tujuannya.

Menjadi bintang di Korea Selatan.

Dengan audisi ini, apa kehidupanku dan Nii-chan bisa lebih baik? Aku bisa mengembalikan ayah seperti dahulu dan bertemu dengan ibu lagi? Semoga.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.