Jalankeun Aja

Bismillah
Bandung, 3 November 2019
Hari ini spek berbeda, setelah diklat fisik, kami diminta bersiap-siap secepatnya, makan secukupnya, yah pasti dapat ditebak, kami akan jalan jalan. Sebelumnya, kami sudah diminta untuk membawa spek khusus yaitu “kamera”, dan ini menjadi salah satu spek penting untuk perjalanan nanti.
Dibagi atas beberapa kelompok, kami diberi tantangan untuk pergi ke tempat yang telah diberi clue, tempat keluarga DK menunggu. Berbekal uang yang terbatas, kami harus bisa mempersiapkan alat dan bahan yang paling dibutuhkan sebelum berangkat. Masing-masing dari kami hanya boleh menggunakan uang 10 ribu, dan mengumpulkannya Bersama kelompok, berdiskusi tentang apa saja hal yang diperlukan dan hanya diberi waktu 15 menit untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan.
Setelah semua terkumpul, setiap kelompok diberi modal 15 ribu, dan bagaimana dengan kondisi yang ada dapat bertahan sampai tujuan dengan masalah paling minim. Kelompok yang berhasil sampai pada pos yang telah ditentukan dengan waktu paling cepat dan uang paling banyak akan menjadi pemenang. Mulailah perjalanan kami
Clue pertama “Taman merekam memori”.
Yang langsung terpikir pasti taman film, taman tempat orang biasa berkumpul terutama di sore hari, tepatnya didekat mall baltos. Setelah sepakat, kami langsung berangkat ke lokasi. Namun saat di taman film, kami tidak menemukan satupun ekspeditor DK, dan kami masih merasa harus berusaha mencari mereka di sekitar taman film. Sudah cukup lama, kami melihat kelompok lain yang “ternyata” juga nyasar ke taman ini. Lelah menunggu, kami yang sebelumnya telah mendapat kepastian dari pendiklat bahwa kami tidak salah tempat, ternyata setelah ditanya ulang, taman itu bukan taman film, namun taman foto. Kami harus berpikir keras bagaimana bisa sampai ke taman foto dengan cara cepat dan minim biaya. Yah mau tidak mau sembari berpikir, kami harus terus berjalan agar tidak terlalu lama berpikir dan tidak bergerak.
Setengah perjalanan, kami mulai bosan, terutama aku, berpikir bagaimana kondisi sebenarnya saat ekspedisi aku tidak punya banyak uang, dan hanya bisa memilih untuk “bernegosiasi”. Masih berpikir ketika benar di desa pedalaman, terlintas olehku mobil angkutan yang biasa digunakan untuk membawa sayur dan alat lainnya di bagian belakang( mobil pick up ), hanya hal itulah yang bisa diandalkan ketika ekspedisi. Dan tak lama, aku melihat mobil itu dan berencana bernegosiasi kepada pak supir. Beberapa mobil yang berlalu, akhirnya aku memberanikan diri
Saat mobil hampir pergi…
A : mas mas sebentar
M : iya kenapa mas
A : Mas mau kemanaya? Ke kanan gak (arah taman foto)
M : Emang kenapa ya mas ?
A : Saya boleh ikut numpang gak mas ? Saya teh mau pergi tapi udah gapunya uang lagi…
Dasar agus , tapii hasilnyaaaa (Abaikan wajah cape)

Walaupun taklama, setidaknya kami dapat beristirahat hehe
Sampai di taman foto, anggota keluarga DK ternyata telah menunggu dan menanyakan hal apa saja yang kami dapatkan. Ternyata pada pos ini mengajarkan kami untuk dapat menggunakan alat dokumentasi dengan sebaik-baiknya, bagaimana sebaik mungkin dapat mengomunikasikan setiap momen berharga dalam satu jepretan, karena setiap yang dibawakan terutama dokumenter kami diharapkan menginspirasi banyak orang.
Clue Kedua “ Taman tempat orang bungkuk berlari”
Setelah dari pos pertama, kami harus segera ke pos selanjutnya untuk menyelesaikan misi. Dari clue kami langsung mengetahui taman apa yang dimaksud, ya “taman lansia”. Namun telah masuk waktu shalat dzhuhur, sehingga kami harus singgah sebentar untuk melaksanakan shalat. Dari sini aku kembali harus ingat bahwa kondisi apapun, sekalipun saat ekspedisi, Allah tetap prioritas pertama.
Setelah sampai di taman lansia, para anggota keluarga DK kembali memberikan materi mengenai 3T. Diiring dinginnya cuaca yang berselimut hujan, benar cerita mereka sangat menarik, bagaimana kondisi sebenarnya disana, rintangan yang dihadapi dan banyak lagi, tak bisa aku ceritakan satupersatu. Hal ini mengajarkanku untuk kembali menguatkan niat, apa tuuan sebenarnya gabung DK, semoga Allah kuatkan.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan misi, pendiklat sepakat untuk mengembalikan kami ke BaseCamp bersama. Hujan yang semakin deras harus kami lalui untuk sampai kesana, kondisi inilah yang mengajarkan bagaimana lapangan tidak selamanya sama dengan apa yang kami rencanakan. Menerjang hujan adalah hal yang paling aku sukai, berkah yang sangat lama kunanti terutama warga jatinangor sudah sangat langka menikmati rintihan berkah yang diberikan Allah ini.
Sampai di BC, kami berkumpul menceritakan semua apa yang telah kami rasakan dari masing masing kelompok, cerita yang saling berbeda, merasakan hal dan rintangan yang berbeda, begitulah nyatanya yang akan dirasakan ekspeditor nantinya.
Syukuri saja, jalani saja, semoga terwujud…..
#DiseminasiKhususAMI2020
#Aku Masuk ITB2020
#AMI100TahunITB
#MenjelajahiNegriBersamaAMI
