Kerja Remote atau Kerja ‘Kantoran’?

Selamat Siang semuanya, kali ini mau sharing sedikit nih. Sharing apa? Ya, sesuai sama judulnya kok dan berdasarkan pengalaman pribadi juga sih. Oiya temen-temen kalo ditawarin kerja lebih pilih kerja remote atau kerja ‘kantoran’? Apa jangan-jangan ada yang belum tau kerja remote itu apa? ehehe. Oke kita bahas satu-satu aja ya. Pertama, alasan bikin tulisan ini karena kemarin pas lagi buka Facebook tanpa sengaja ngeliat artikel ini dari detikcom judulnya “Generasi Tanpa Kantor”.

Tulisan ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pekerja fulltime di kantor (atau ‘kantoran’), hanya berdasarkan kepada pengalaman pribadi. Terima kasih.
remote ehehehe :v

Awal Mula
Oke ini sambil cerita pengalaman aja ya, jadi awal mula saya terjun ke dunia pemrograman udah pasti saat kuliah dulu, dimana Semester 1 udah dijejelin yang namanya Java yang memicu untuk ngoding dan akhirnya keterusan ngedevelop Android berbasis Java (dulu masih pake eclipse). Sekitar 2014 akhir atau 2015 awal saya dapet project pertama, duit pertama tanpa dikasih dari orang tua. Dari situ passion saya di pemrograman Android muncul, bikin banyak aplikasi iseng dan ada juga yang dijual, coba ikut Indonesia Android Academy di pertengahan 2015 (Alhamdulillah juga masuk 50 peserta terbaik), jadi volunteer sebagai pengajar di Indonesia Android Kejar selama 2 batch di 2016, mulai jadi asisten di lab kampus, ikut 2 lomba tingkat kota dan Jabodetabek (Alhamdulillah menang, keduanya juara 1), dan di tahun 2016 itu juga gue join ke sebuah startup yang bergerak dibidang IT Consulting. Bisa temen-temen bayangin ya dulu itu masih kuliah, jadwal kuliah udah padet ditambah segudang aktifitas lain. Masuk ke tahun 2017, di bulan Februari 2017 saya diajak masuk sebuah Perusahaan yang telah lama menjadi vendor untuk perusahaan plat merah yang bergerak dibidang telekomunikasi. Saat itu, saya masuk kesana tanpa meninggalkan posisi saya sebagai Android Developer (Senior) di startup sebelumnya, dan juga tidak meninggalkan posisi saya sebagai Asisten di lab kampus (Untungnya di lab posisi gua kroco :v). Oke, kesimpulan pertama, di awal 2017 saya kuliah sambil bekerja di 3 tempat berbeda dalam waktu bersamaan.

Kelihatan keren, tapi bermula disini…
Terlalu banyak openingnya ya, ehehe. Tahun lalu, banyak yang menilai saya sebagai pribadi yang mandiri, pribadi yang ‘gak ramah’ sama beberapa orang, dan sebagainya baik itu negatif dan posisif. Buat saya pribadi, saya punya beberapa tujuan hidup yang membuat saya bekerja begitu keras (tentu saja kuliah gak dilupain bro, saya termasuk yang lulus lebih awal dibanding teman saya yang lain), yang pada akhirnya membuat saya terlena sendiri. Sejak saya lulus, saya seperti berada pada zona nyaman dimana sampai saat ini bisa dibilang saya kerja remote, bisa juga dibilang kerja ‘kantoran’.

Stereotipe ‘Pengangguran’
Tak bisa dipungkiri, konsekuensi dari kerja remote adalah stereotipe pengangguran yang melekat pada orang itu. Banyak yang berpikiran orang yang setiap hari berdiam di rumahnya adalah seorang pengangguran yang tidak bisa menghasilkan apa-apa, percuma udah kuliah tapi gak kerja. Saat ini, pemikiran seperti itu rasanya kurang pas. Bagaimana jika di rumah tetap buka komputer, tetap mengerjakan task masing-masing, dan setiap bulan tetap ada uang yang masuk ke rekening? Apa yang seperti itu disebut pengangguran? Sekarang kita bandingkan dengan pekerja ‘kantoran’, saya pernah mendengar cerita dari teman saya dimana ia setiap hari berangkat pagi — pulang sore, setiap siang ada istirahat 1 jam, di hari sabtu masuk ½ hari, atasan semena-mena dalam memberikan task, harus berpakaian formal rapih, dan yang paling penting penghasilan yang diterima tidak sepadan dengan apa yang ia lakukan, sangat bertolak belakang dengan tipe pekerja remote seperti saya.

Budaya Kerja Berbeda
Ya, sebetulnya semua kembali ke budaya kerja yang berbeda disamping stereotipe masyarakat akan pekerja remote. Sebagai contoh, saya bekerja semi-remote dimana dalam seminggu saya harus masuk 2 hari (walaupun tidak full 8 jam) dan 3 hari bekerja secara remote, disamping itu saya juga mengembangkan 3 buah startup, dan 1 buah pekerjaan freelance atau sampingan. Berikut perhitungan jam terbang yang saya lakukan dalam 1 minggu :

2 hari x 8 jam kerja + 2 jam transportasi = 20 
3 hari x 8 jam kerja = 16
5 hari x 5 jam kerja = 25
2 hari akhir pekan = 15
total = 20 + 16 + 25 + 15 = 76 Jam / Minggu

Ya, maksimal sekitar 76 jam / minggu saya harus berada di depan komputer untuk mengerjakan banyak pekerjaan. Tapi pada kenyataannya tidak selalu 76 jam / minggu, kadang saya bekerja normal 40 jam / minggu atau bahkan kurang dari itu, tentu saja saya sering bekerja kurang dari 40 jam / minggu ehehehe. Sekarang kita analogikan dari segi penghasilan :

Kerja semi-remote = + 100% 
Kerja freelance = + 50%
Startup 1 = + 20%
Startup 2 = -
Startup 3 = -
Total = 170%/bulan dari penghasilan utama (semi-remote)

Dari segi penghasilan saya bisa mendapat 70% uang tambahan (tidak perlu banting tulang, hanya diperlukan manajemen waktu). Saya rasa dari segi keuangan tidak jauh berbeda dengan pekerja ‘kantoran’ dan mungkin relatif lebih besar dibanding pekerja ‘kantoran’ pada umumnya, ehehe. Nah sekarang keuntungan yang saya dapat selama bekerja semi-remote ini adalah :

  1. Waktu yang fleksibel
    ketika saya tidak ada task (dari perusahaan semi-remote) ataupun task pada hari itu sedikit dan langsung selesai, saya bisa menikmati waktu luang di hari kerja. Ketika saya pergi ke pusat perbelanjaan, naik transportasi umum, rekreasi dan lainnya semua dilakukan dengan suasana santai karena saat itu hari kerja dan tidak ramai. Pada intinya saya tidak perlu berdiam diri di kantor seharian (jika tidak ada task pada saat itu ataupun task sudah dikerjakan).
  2. Tetap berbadan hukum yang jelas
    Kekurangan dari tempat kerja saya saat ini adalah tidak adanya fasilitas bpjs dari kantor, walaupun saya baca itu adalah sebuah hal yang wajib. Tapi saya rasa itu setimpal dengan fleksibilitas waktu yang saya dapat, makan siang gratis di kantor, dan fasilitas lainnya tanpa mengurangi kekuatan hukum perusahaan tersebut.
  3. Tidak terlalu terikat (Ikatan Dinas)
    Ya, pada saat saya pertama masuk, saya mengalami masa probation selama 3 bulan dan setelah itu menjadi karyawan tetap. Mungkin untuk beberapa orang ikatan dinas menjadi nilai positif, tapi tidak untuk saya. Saya tidak pernah mengesampingkan startup yang saya kembangkan, saya optimis akan kemajuannya, jadi ketika nantinya saya diperlukan secara fulltime, saya dapat resign kapan pun saya mau tanpa harus membayar denda.
  4. Dekat dengan keluarga
    Ini mungkin adalah impian semua pria, terutama yang sudah memiliki keluarga sendiri. Buat saya pribadi, saya ingin lebih dekat dengan keluarga saya karena saya selalu berpikir ketika saya memiliki keluarga baru, maka saya akan jarang bertemu dengan kedua orang tua saya maupun adik saya. Jadi, saya sangat memanfaatkan waktu ini dibanding harus bekerja di kantor seharian.
  5. Lebih produktif
    Buat saya pribadi, bekerja secara remote membuat saya lebih produktif, saya dapat mengerjakan task lebih banyak dibanding ketika saya kerja di kantor.
  6. Pindah ‘kantor’ sesuka hati
    Saat ini banyak sekali co-working, kafe atau tempat lainnya dimana ketika saya bosan di rumah saya tinggal mendatanginya, dengan suasanya yang cozy biasanya lebih mudah in dalam mengerjakan task yang diberikan, sehingga produktifitas tetap terjaga.
  7. Tidak terlalu tertekan
    Pertama saya tidak merasa tertekan karena waktu masuk, jika terlambat potong gaji ehehehe. Ataupun tertekan oleh bos, jujur saja saya seperti tidak merasa punya bos walaupun ada atasan saya di kantor.

Diantara segudang benefit yang saya dapat dari kerja remote, ada beberapa yang menjadi rintangan terbesar dari bekerja remote, walaupun cenderung lebih sedikit sih, ini dia :

  1. Komunikasi
    Ya, ini yang menjadi masalah vital, ketika faktor lingkungan menjadi sebab koneksi internet memburuk, sepertinya menjadi masalah besar.
  2. Komitmen
    Kedua adalah komitmen, contohnya ketika saya sudah berkomitmen untuk menyelesaikan task, tetapi rekan kerja Anda tidak berkomitmen dan malah memperlama perkerjaan, itu adalah masalah yang sangat besar dan sering ditemukan dari bekerja secara remote.
  3. Transfer ilmu
    Ini yang jarang sekali terjadi, biasanya pekerja remote adalah orang yang menguasai bidangnya sehingga transfer ilmu antara junior-senior tidak terjadi disana karena cenderung fokus untuk mengerjakan tasknya.
  4. Stereotipe negatif dari banyak orang
    Pada awalnya orang tua saya tidak menyutujui saya bekerja remote, beberapa teman saya meremehkan saya, dan beberapa orang di sekitar lingkungan mencap saya orang yang gagal karena kuliah tapi pengangguran. Saya rasa ini normal dan hampir dirasakan banyak pekerja remote diluar sana.

Kesimpulan
Walaupun banyak orang yang menilai negatif, saya rasa lebih baik membiarkan itu semua berlalu demi kehidupan kita yang lebih bermakna dengan cara lebih dekat dengan keluarga, lebih dekat dengan yang Maha Kuasa, dan cara lainnya. Jadi, jangan terlalu menganggap omongan generasi jadul dengan pemikiran kerja harus berangkat pagi — pulang sore itu. Mungkin kita harus lebih bersimpati kepada mereka yang memiliki rutinitas berangkat pagi — pulang sore ke kantor, ehehe.

Bang mau gak kerja full-time di kantor?
Saya pribadi tetap terbuka untuk itu, tapi syaratnya pekerjaan tersebut harus mampu sepadan atau dapat memberikan yang lebih dari semua benefit yang saya dapat dari kerja remote. Jujur, selama ini saya sudah mencoba ke belasan atau lebih perusahaan, ada yang ditolak, ada juga yang diterima dan saya malah menolak. Alasannya ya karena ternyata belum sepadan dengan benefit kerja remote.

*btw ini bukti produktifitas saya selama bekerja remote setelah aktif menggunakan github, cekidot :

GitHub saya — https://github.com/pahlevikun