Pakyu Review: Bukaan 8

Film ini disebut-sebut sebagai film komedi, komedi cerdas pula. Sembarangan. Apa sih tolak ukur film komedi cerdas ? Pasti jumlah penonton yang membludak. Bukankah masyarakat kita katanya sudah cerdas ? Ya otomatis mereka akan menonton film yg sesuai dengan otak mereka itu. Terbukti, beberapa film komedi yang dibintangi oleh komedian (cerdas pula), berhasil menembus jutaan penonton.
Lalu, apakah film Bukaan 8 ini akan ditonton 5 juta manusia atau bahkan lebih (lalu diberi penghargaan dan disiarkan langsung oleh televisi) ? Jangan harap. Apa penyebabnya ? Ya level kecerdasan komedi yg disuguhkan di film ini sungguh meragukan.
Kita lihat saja komedian yg tampil di film ini, hanya ada 2 orang yg tampil. Durasi mereka tampil di film ini kalah telak dengan durasi mars partai yg kerap muncul di televisi.
Apa sih yg digemari oleh jutaan penonton saat ini ? Film yg bernafaskan surga, cinta dan bahagia. Lalu apa yg disuguhkan oleh film Bukaan 8 ini ? Ngga ada surganya, cinta yg ngga direstui, menderita pula sepanjang film.
Apalagi, film ini bertema tentang selebtwit. Target penontonnya adalah netizen. Netizen itu hidupnya bahagia. Tempat makan netizen itu selalu ada di Zomato. Netizen ngga doyan makan di warteg, duduk sebelahan sama kuli bangunan. Apa yg mau diposting di Instagram kalo tempat makannya begitu ? Jangan menyuguhkan derita kepada netizen yg hidupnya bahagia.
Terakhir, film ini bertema proses lahiran. Pembuat film ini seharusnya paham, netizen itu kalo mau lahiran, dalam otak mereka adalah water birth. Kenapa film ini menyajikan sesuatu yg kemungkinan besar ngga bakal diresapi dan dipahami oleh netizen ?
