Ricardo Suwandy
Aug 26, 2017 · 2 min read

10 tahun yang lalu, Efek Rumah Kaca melahirkan album self titled Efek Rumah Kaca. Album yang berisi 12 tracks dengan hits andalan “Di Udara” lagu yang dipersembahkan untuk Alm. Munir, “Sebelah Mata” yang ditulis oleh Adrian Yunan yang kala itu mulai mengalami gangguan dengan penglihatannya dan “Desember” sebuah tembang yang terlalu syahdu untuk tidak dinyanyikan saat hujan turun.

Kehadiran Efek Rumah Kaca di kancah musik Indonesia merupakan sebuah anugerah bagi pendengar musik tanah air. Sindiran-sindiran, ilmu yang dibagikan ke para pendengarnya sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Coba bayangkan berada di tengah kerumunan para penonton setia mereka yang terkadang rela datang dari luar kota dan bernyanyi bersama. Magis!

Kekuatan lirik yang diusung Efek Rumah Kaca juga merupakan bagian yang menonjol. Cholil sebgai frontman dari Efek Rumah Kaca merupakan salah satu lirikus terbaik di era sekarang. Mereka dengan bangga menggunakan lirik dalam bahasa Indonesia di seluruh lagunya. Beberapa kata terkadang masih terasa aneh untuk didengar telinga kaum awam, namun mereka selalu berhasil menghipnotis para pendengarnya untuk hafal lirik mereka.

Satu hal menarik yang saya ingat tentang Efek Rumah Kaca adalah kejadian dimana ada seorang fans yang sempat tidak membayar HTM karena salah antri, namun akhirnya Ia rela menunggu bahkan mengepost kalau Ia merasa berhak untuk membayar sejumlah uang karena sudah menyaksikan Efek Rumah Kaca. Berita ini sempat viral dan menuai begitu banyak pujian untuk Efek Rumah Kaca. Sebuah band yang baik dan berkarya dengan hati memiliki ikatan yang kuat dengan pendengarnya hingga menghasilkan attitude yang sangat baik dari fansnya! Rispek tertinggi saya untuk Efek Rumah Kaca.

10 tahun kini sudah berselang, Efek Rumah Kaca kini hadir dengan format yang sedikit berbeda. Cholil masih bertindak sebagai gitar dan vokal, Akbar masih betugas sebagai penggebuk drum, namun posisi Adrian kini digantikan oleh Poppy di bagian bass. Adrian sendiri memilih keluar dikarenakan ingin fokus dengan project solonya dan kesembuhan penyakitnya.

Jadilah bagian dari live recording session album pamungkas milik Efek Rumah Kaca hanya di Together Whatever Session yang akan berlangsung Selasa, 29 Agustus 2017 di eighty nine Kemang, Jakarta! #togetherwhatever #efekrumahkaca

)
    Ricardo Suwandy

    Written by

    A random photographer and a 'whatever topic' writer. Instagram : @paman_edo