Perlukah Matahari Lekas Terbenam dan Lekas Terbit?

Panca Bagus Andrianto
Nov 1 · 2 min read
Pict from Pixabay

Iya aku paham kenapa terbit dan terbenamnya matahari adalah hal yang menawan, lalu terik membuatmu gerah dan hujan membuatmu resah. Tapi, maukah kita menikmati hari sejengkal demi sejengkal dengan segala kesyukuran?

Mari kita menikmati pagi dengan sederhana, memandangi indahnya cahaya yang malu-malu naik tanpa perlu terik. Dan jika hujan, maukah kita pandangi riuhnya karunia yang datang begitu dini? Aku akan membuatkanmu minuman hangat yang bisa kita seruput dengan nikmat.

Kau kemudian bertanya, apa yang bisa dinikmati dari siang yang terik selain hawa panas? Baru saja tadi siang aku menatap ke atas, dan langit yang membiru juga awan yang seperti permen kapas berwarna putih mengatakan ia rindu ditatap meski orang-orang mengeluhkan panas.

Dan jika siangmu hujan, tenanglah. Kita bisa menikmati kisah. Karena hujan adalah sebuah kisah merelakan paling pasrah. Air yang telah diangkat tinggi, rela jatuh berdebum dengan tanah, atap, aspal, pohon, dan hal-hal yang telah ditakdirkan ada di bawah, mencari celah untuk menjadi berarti dalam sela-sela bumi yang basah. Air itu juga rela bertemu dengan tubuhmu, jika kau mau.

Siang kadang menjadi waktu yang ingin segera dilewatkan. Namun dengan terik atau hujannya, ia bersabar dengan keluhan-keluhan. Ia tahu bahwa senja tidak akan ada tanpanya.

Lalu waktu akan berjalan dengan perlahan, mengantarkan matahari pelan-pelan ke peraduan. Menuju senja yang selama ini banyak dipuisikan. Mengamini orang-orang yang ingin mentari sore disegerakan. Lalu senja dapat kita nikmati dengan apa-apa yang kita tafsirkan dalam kepala yang penuh keramaian.

Lantas apa yang perlu kita nikmati dari malam? Ada yang menjadikan malam sebagai tempat bersembunyi ataupun menampakkan diri. Rasa-rasanya, malam hadir sebagai kontradiksi, di satu sisi diartikan sebagai sepi, di satu sisi, diartikan sebagai ramai. Kita dapat menikmati malam dengan cara kita sendiri-sendiri. Tapi yang jelas, malam perlu dinikmati tanpa harus terburu-terburu menjadi pagi. Perlukah kita saling membacakan puisi tentang bagaimana kita menikmati hari dengan cara sendiri-sendiri?

Sore hari di Yogyakarta, 1 November 2019

Panca Bagus Andrianto

Written by

Seorang pemuda, penuntut ilmu syar’i, pejuang kemerdekaan dari pemikiran-pemikiran menyimpang dan menyesatkan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade