Tuhan pun bingung
Pagi di sebuah trotoar kota kecil yang sunyi, kala Suki sedang berjalan santai sembari mencari inspirasi, tiba-tiba ia dicegat seorang lelaki dari belakang. Suki sedikit terkejut, kontan iapun menoleh “Siapa pulak, orang ini?” batinnya kesal. Belum sempat menerawang tampang lelaki aneh itu, tanpa basa basi sedikitpun, si lelaki cepat mendeklarasikan dirinya dengan wajah yang mengiba “Tolong aku, aku adalah tuhan” serunya lesuh namun bersungguh-sungguh. Dengan perkenalan semacam itu, bila bukan Suki yang ia temui, barangkali ia akan menjadi korban kemarahan ormas-ormas agama yang lagi marak di negeri keparat ini. Beruntung, ia mencegat orang yang tepat. Perlahan, Suki memicingkan kedua matanya, menatap tajam ke arah lelaki aneh itu, sembari meneliti dari atas kepala hingga kaki, Suki menahan tawa sampai nyaris saja menyemburkan ludah dari mulutnya, tapi kemudian Suki lantas pergi, menjauh dari ketololan itu. Dan tentu saja Suki cuek, ia bukan tipe orang bodoh yang mudah percaya pada lelucon rendahan semacam itu. Terlebih, sudah lama ia tak lagi menaruh perhatian pada hal-hal yang tidak menyehatkan kinerja akal manusia , terutama perihal tuhan dkk. Kalian harus kenal Suki, sejak ia melahap habis buku-buku filsuf gila dari jerman itu, tuhan tak lebih dari sekedar konsep yang samar baginya.
“Oh, sekalipun kau benar-benar tuhan. Aku tak akan peduli!” Ucapnya.
Mendengar perkataan Suki, lelaki itu pun semakin lesuh, tapi sekalipun omongan Suki demikian sarkastik, lelaki itu tetap berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Tetap Suki tidak mendengarkannya. Tak mau menyerah, lelaki itu terus berusaha mendapat perhatian Suki.
Singkatnya, tiap kali Suki melangkah, ia pun ikut melangkah. Kemanapun Suki pergi, ia mengekor macam bayang-bayang. Tentu saja, Suki kesal. Siapa yang tidak kesal, saat kota belum disemaki lalu-lalang orang-orang, saat cuaca sedang sejuk dan tenang, saat kendaraan-kendaraan masih menggigil di parkiran, adalah saat yang paling tepat untuk mencari inspirasi, tapi tanpa aba-aba sedikipun, ditengah jalan pagi nan santai, kau malah dihampiri seseorang yang mendaku dirinya sebagai tuhan. Tentu saja, itu akan menjadi pagi yang paling menyebalkan dalam hidupmu.
“Aku butuh bantuanmu, aku mohon tolong aku” tuhan itupun merengek meminta pertolongan.
Suki kesal,
Sangki kesalnya, ia pun menghentikan langkahnya, menggigit giginya, kemudian menoleh ke arah lelaki itu. Suki mengamuk dan muak.
“Cukup! Kau udah merusak pagiku! Jangan kau ikuti aku, jangan kau ganggu aku. Dasar kontol!” rasanya Suki ingin meninju pelipis mata si tuhan itu.
“Pergi sana! Dasar orang gila!” lanjutnya lagi.
“Tapi aku memang tuhan” jelas lelaki itu buru-buru “tadi pagi aku bangun di sebelah selokan” terusnya “Baru aja bangun, kepalaku langsung pusing, perutku pun ikutan mual. Dalam beberapa menit, aku tak ingat apapun. Setelahnya, hal pertama yang aku ingat, hanya, aku adalah tuhan”
Sukipun semakin kesal. Ia merasa dibodohi dan di permainkan orang gila.
“Baiklah, kawan. Kalau kau ingin bermain-main denganku. Aku bakal ikuti permainanmu”. “Sekarang..” tantang Suki pada lelaki itu “kalau kau benar-benar tuhan, kenapa pulak kau butuh bantuanku? bukankah kau mahakuasa, mahatahu dan mahasegalanya, maccam mana pulak kau ini. Kalau kau benar-benar tuhan, kenapa kau tak berdoa pada dirimu sendiri aja, berdoa supaya tuhan menjawab pertanyaannya sendiri. Kau kan mahakuasa. Dasar kotoran kuda campur oli” lanjutnya kesal.
Si tuhanpun semakin bingung. ia berdiri lemas menatap penuh mata Suki. Ia membentur-benturkan kepalnya dengan tangannya “Aku benar-benar pusing, aku tidak paham apapun yang barusan kau bilang. Mahakuasa itu seperti apa? maafkan aku, aku benar-benar bingung dan kepalaku sangat pusing. Aku cuma tahu satu hal saja, bahwa aku ini adalah tuhan, selebihnya aku tak ingat apapun. Aku cuma butuh pertolonganmu, aku ingin kau membantu aku. Tolonglah aku, beri tahu aku, jelaskan padaku, seperti apakah aku sebenarnya, seperti apakah tuhan itu sebenarnya”
2014, Parapat.
