MENYIBAK PASAR (II)

Pasar bisa diciptakan, cipta Efek Rumah Kaca

Sebelumnya, pernah kumenyibak pasar-pasar di Tanah Jawa.

Bukan Aku sombong karena telah banyak menyibak pasar; Aku hanya gemar bermain di pasar,

Sesederhana itu Aku berbahagia, mengunjungi pasar yang belum pernah Kukunjungi.


Silungkang,

Pada jumat bukan di hari petang

Aku menyibak pasar yang sebenarnya tak pernah disebut dengan nama apapun, bukan juga dengan pasar Silungkang.

Bukan di hari petang,

Aku merengek kepada si Mbah, agar diberi kesempatan untuk menelisik pasar di Sumatera,

kulo tumut ting pasar, nggih Mbah?”, Aku berusaha menyusun kalimat agar terlontar bahasa Jawa Krama.

Kau tahu, Aku sangat mengagumi budaya Jawa. Usahaku adalah belajar berbahasa Jawa Krama — menurutku itulah aksi konkret yang bisa kulakukan dalam mengagumi budayaku sendiri.

Berbahagialah Aku jika bisa fasih dalam hal tersebut, namun nyatanya mudah adalah sebuah kepura-puraan.

Susah payah kuberbicara bahasa Jawa Krama, ternyata Aku berada di Tanah Sumatera.

Sudah Kauduga, Aku tak bisa.


Bagimu — Kau lebih senang merobek keperawanan lembar demi lembar buku-buku bacaan,

Bagi laki-laki sepertinya — Ia lebih berbahagia merobek selaput dara perempuan,

Sedang Aku? — merobek keperawanan jarak sudah sangat menggembirakan; merobak jarak dari rumah menuju pasar yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Benar-benar menggembirakan.

Ada kekhususan,

Aku bergembira dengan mengunjungi pasar-pasar di desa.

Bukan Aku tak suka dengan kota,

Terlalu membencipun kurasa tidak.

Hanya saja kota terlalu rumit,

Begitu pula dengan pasar-pasarnya.

Terlalu kapitalis,

Aku bahkan enggan menilainya manis,

Meliriknya pun dengan tatapan agak sinis.

Sialnya, Aku mendoa agar pasar kapitalis tetap laris.


Penjaja tiwul di Pasar Sumatera kutemukan!

Akhirnya ku kebingungan,

Ah sial jauh-jauh ku ke Sumatera, penjaja yang kutemukan adalah orang Jawa.

Walau lagu-lagu yang disetel di Pasar adalah (sudah) lagu Minang, bukan lagi lagu-lagu seperti yang dinyanyikan oleh Superglad, Efek Rumah Kaca, Banda Neira, Payung Teduh, Float, Frau, dan dari band-band Indie lokal lainnya.

Tetap saja banyak dari penjaja yang berbicara bahasa Jawa,

Praduga kusalah, nyatanya Tanah Sumatera pun sudi mengajarkanku berbicara bahasa Jawa Krama.

Sedang Aku hanya mampu menanggapi dengan kosa kata Jawa Krama “Nggih”.

Hanya beberapa penjaja yang kudengar menggunakan Bahasa Minang,

Uda penjual cabai dan bawang, salah satunya.

Ya begitulah, hanya dua bahasa yang sering kudengar di sini; Jawa dan Minang. Yang lainnya? Kurasa tidak.

Tapi tak mengapa,

Bagiku pasar tetaplah pasar yang diciptakan untuk membantu orang lain menemukan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk membuat dapur ngebul,

Diciptakan untuk membantuku menggembirakan diri,

Diciptakan untuk hal-hal lain, yang mungkin belum Aku ketahui tujuan dan manfaat lainnya.

Salam,

Penggemar Pasar yang sedang meracau.

-Silungkang, Sumatera Barat (19 Mei 2017)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.