Secang

Ini bukan tulisan mengenai kayu secang, atau tumbuhan sejenis secang, bukan. Melainkan tulisan mengenai seseorang.

Kuperkenalkan, Bu Siti.

Beliau adalah seorang pedagang lotek pinggir jalan bangjo Secang, Magelang.

Beliau menghampiriku setelah memperhatikanku berdiri di pinggir jalan selama hampir lebih kurang lima belas menit terhitung dari waktu Aku turun dari bis patas AC trayek Semarang-Jogja.

Memang kuakui, ini kali pertamanya Aku turun dari bis patas jurusan Semarang-Jogja di daerah Secang, sendirian. Raut wajah kebingungan tak sengaja kutunjukkan pada musisi-musisi jalanan, penjaja makanan-minuman, pengemis, dan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar bangjo Secang –membuat mereka ikut kebingungan pula.

Secang, senja, dan menuju hujan; ku masih kebingungan

Hampir setengah jam kuberdiri sendirian di pinggiran jalan yang berlalu-lintas cukup ramai, maklum saja hari itu adalah hari Sabtu; banyak pekerja dari kota yang pulang ke rumah — memenuhi jalan raya Secang.

Sial, sudah lelah berdiri menahan serbuan rintik hujan, tapi Kau tak kunjung datang. Aku mengutuki diri sendiri, menyadari: memang benar hal yang paling tak mengasyikkan adalah menunggu.

Sedang waktu masih menunjukkan “Kau harus menunggu lebih lama” kepadaku, Aku hanya berdiri pasrah menutupi wajah dengan masker, sembari berpikir bila tetiba hujan besar menyerbu, Aku harus berlari ke mana — sembari clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri, menelisik tempat-tempat yang sekiranya dapat menjadikanku aman di bawah guyuran hujan; membayangkan Aku akan selamat terhindar dari hujan besar yang tetiba menyerbu nantinya.

Kembali, Bu Siti.

Beliau menghampiriku, tersenyum, lalu menghujaniku dengan beberapa pertanyaan. Kemudian memberiku tempat untuk berteduh dan menunggu setelah kujelaskan apa yang menjadi maksud dan tujuanku datang ke Secang.

Yang kuamati, Beliau adalah perempuan penjual lotek di pinggir jalan Secang yang kira-kira usianya hampir enam puluh tahun.

Beliau memiliki dua orang anak yang keduanya sudah menikah. Sangat ramah, hangat, kukira begitulah orang Jawa bersikap. Aku mengaguminya, mungkin mengagumi orang-orang Jawa dalam bersikap, terlebih cara menyikapi orang yang baru dikenalnya dalam waktu beberapa jam saja; sangat terbuka dan menerima.

Kemudian kami bercerita satu sama lain, berbicara ngalor-ngidul, bahkan melebihi arah lor-kidul; “pacarmu orang mana nduk?”, tanya Bu Siti tiba-tiba.

“tak ada, Bu”, jawabku dengan sedikit rasa heran.

Kemudian berbicara lain hal hingga pembicaraan terkesan seru dan menggebu, lupa waktu, dan datanglah yang kutunggu.

“Nanti aja pulangnya, obrolan kita masih seru. Ibu mau ngenalin kamu sama ponakan Ibu yang lagi tugas di Jakarta, nduk” , Ujar Bu Siti sebelum Aku hendak berpamitan.

Aku tertawa dengan kalimat akhir Bu Siti yang bermakna candaan,

“Bu, Biar jadi sodara ya, saya dengan Ibu. Insya Allah saya main lagi ke sini” , sambungku setelah kami bertukar nomor telepon.

“Barangkali kita nanti jodoh, nduk. Hati-hati di jalan” — kalimat penutup Bu Siti saat Aku berpamitan sembari mencium tangan beliau.

Aku pamit,

Setangan melambai-lambai, salam perpisahan hangat dibalas dengan hangat pula.

-Secang, 19 Februari 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.