Talak 3 - Konsep Jodoh & Keikhlasan (Bukan Review)

Tahu apalah saya ini tentang jodoh? Namun kalau mau sok tahu, jodoh bisa jadi sebagiannya adalah soal keiklasan. Ikhlas menemani seseorang sampai akhir hayat, dan iklas juga tidak menghabiskan hidup bersama yang lainnya. Saya menemukan bahwa Talak 3 adalah film yang mengangkat tentang hal tersebut.

sidomi.com

Soal cinta segitiga (yang berujung pada salah satu pihak harus merelakan), tentu bukan sesuatu yang baru diangkat dalam film. Namun Talak 3 merupakan kisah cinta segitiga yang mengangkat salah satu aturan dalam Islam dalam hal ini mengenai perceraian dan perkara rujuk. Paradoks yang seolah memudahkan pasangan suami untuk bercerai, namun di sisi lain konsekuensi setelahnya menuntut pelakunya berpikir seribu kalau mau melakukan hal tersebut.

Berbeda dengan pendapat beberapa orang, saya sudah tertarik dari trailernya. Dari sana dapat terlihat bahwa ada kecermatan casting, apalagi bila menonton filmnya. Bagas (Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya Chintia Bella) sebagai (mantan) pasutri labil yang ingin rujuk setelah setuju talak tiga, serta orang ketiga yang lebih dewasa yaitu Bimo diperangkan sangat apik oleh Reza Rahadian.

Terlalu jarang saya melihat akting Laudya Cynthia Bella, namun saya terkesima. Karakter Risa yang dibawakannya menjadi sangat believable bila orang sudah pernah tahu yang seperti itu - yang somehow manipulatif dengan karakternya yang manja. Yang menarik, seberapapun kita dapat mengidolakan karakter Bimo, dia tetap seorang yang dalam satu scene menganggap dirinya tahu yang terbaik bagi wanita idamannya - dia tetap bukan nabi. Dan tidak lengkap bila tidak membahas tentang Bagas, sebuah karakter yang pada beberapa poin bisa membuat kita kesal. Karakter Bimo dan Bagas dalam kelebihan dan kekurangannya termasuk interaksi mereka terhadap karakter Risa dalam naskah yang digarap cukup apik dalam film coba memperlihatkan bagaimana harusnya menjadi pria.

Film ini sendiri menyentil banyak hal seperti misalnya budaya dan praktik korupsi dalam institusi. Soal budaya, misalnya soal masih kuatnya sistem kasta. Dalam hal ini diperlihatkan dalam film (yang jelas berlatar Yogyakarta) ketika Bimo yang anak pembantu hendak menikahi Risa, putri dari majikan orang tuanya dan beberapa kali mengalami ujian. Teringat saya akan komentar seorang sineas akan sebuah film Indonesia, kira-kira berbunyi “..Harusnya gak gitu.. di Sumatra anak pembantu tidak lagi jadi pembantu, dia bisa temenan sama anak majikan. Kalau di Jawa iya, anak pembantu tetap jadi pembantu anak majikan” –entah hal tersebut sepenuhnya benar atau tidak.

Kembali soal jodoh, saya teringat sebuah film Hong Kong Don’t Go Breaking My Heart (Johnnie To and Wai Ka-fai). Jodoh bisa jadi masih nyangkut ketika masih ada pihak yang belum ikhlas (makanya film Hong Kong ini punya dua sekuel). Talak 3 bisa jadi punya sekuel ketika salah satu di antara ketiganya ternyata belum ikhlas (bukan sebuah saran).