Aku, Senja, dan Bulan Juli
pagi ini fajar duduk termangu
ia bercerita, mengenai mimpi sendunya malam lalu
tentang detak jantung yang menderu,
tentang lutut dan kupu-kupu
dan sore itu, langit melukiskan rona merah ungu,
gurat manis yang selalu kuabadikan untukmu
bersama kopi yang mendingin di depanku
di tengah dunia yang membisu
jika ingin berlari, larilah
jika perlu mencaci, cacilah
sebab perihal hati yang lelah,
bahkan benci tidak tercela.
sayang…,
kalau kau cari kehidupan di mataku, esok pagi pun pasti belum usai
kalau kau intip ke dalam sadarku, kujamin tak ada ucap yang mampu kau rangkai.
mengenai cangkir kopi yang sampai saat ini masih terisi,
dan dedaunan yang meranggas tanpa henti,
seberapapun ditelusuri, memang tidak mudah untuk mengerti
tapi untuk berbicara perihal ikhlas;
tentang langkah yang bebas dan tawa yang lepas;
tentang yang bisa menerima,
dan yang tertelan duka;
tentang yang kembali,
dan yang harus pergi;
tentang lukamu hari ini,
dan bahagiamu kemudian hari;
tentang hujan deras di bulan juli,
dan curahan matahari pagi;
jangan kamu lupakan, sayang:
kasih tidak pernah — dan tidak akan pernah — hadir sia-sia.
Bandung, 26 Agustus 2017
Aku,
dan Rindu
