Memikirkan Bulan Februari

Kalau saja aku mengantuk dan lemah karena disergap hantu penutup mata, tentu saja aku tidak menuliskan ini:

Rangkaian bunga doa berjubah ala kadarnya sambil menggambar klepon Ibu Esthy bersama Tuan Putri yang senang Memanjat Pohon dan Bernyanyi. Memandangi whiteboard dan mengendalikan ujung spidol sambil menyalakan mesin motor Super Cup kami. Lalu, menyanyikan mars kebersihan dan membuang pikiran-pikiran yang celaka. Lalu duduk bersama dibawah asuhan cahaya, mengukir kopi Mangkuraja di dasar cangkir beraroma. Menyeduhnya. Menciumnya. Merasakan Februari dan bulan-bulan setelahnya yang menyelinap hampir tanpa sentimentil di antara daya reka manusia biasa terinspirasi sinar surya dan bulan purnama.

Ayo sambilan menanam kata. Menggambar segitiga. Menyirami kalimat agar menjadi lembaran baru. Tebarkan pupuk kandang singa di meja makan kaum petani, supaya kita bisa menulis bangunan yang lingkaran bersamamu.

Wahai temanku dan teman baiknya temanku. Ibuku selalu yakin, kalau Dia masih berputar. Tanpa perasaan. Tanpa suara yang mencari perhatian media sosial kesukaanmu. Wahai temanku, mata yang lelah ini, kadang tak tahu mengukur janji. Ingin memandang lagi. Bersama mata kupu-kupu yang bisa mendengar, bergandengan dengan hidungmu yang bisa melihat keharuman persahabatan. Mata kami sedang tertutup rapat, tapi ijinkanlah kami melihat Ibu Suci Sang Maha Pemberi Yang Tak Pernah Ingkar Janji, sekali lagi.

Sekarang. Pokoknya ya sekarang. Sebelum hantu tidur datang lagi untuk meminjam mata kami.

(Putri Hijau, 30 Januari 2016)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Patrick Manurung’s story.