Pikiran Anak Kami Tentang Perlunya Membunuh Semut Ciptaan Tuhan

Tulisan ini tak mengandung moral agamis khas Indonesia Raya, tapi inilah residu dari percakapan kami: Aku, Opi (ini sahabatku), seorang anak perempuan yang lahir di ujung tahun 2004, dan Ibu Mertuaku yang menyukai rokok Djarum Super.

Puluhan jam yang lalu, sebuah topik sederhana tentang “ciptaan Tuhan” mengudara. Bagaimana hal ini menjadi sebuah rangkaian yang perlu dicatat?Bagaimana topik ini berproses sehingga perlu direkayasa dan ditulis ulang disini? Bagaimana, hmmm, ah sudahlah.

Urutan kejadiannya tak kuingat karena daya ingatku memang kadang menjadi lemah disaat mengingat hal-hal yang tak tampak. Aku perlu berdoa dulu agar dapat mengingat-ingat beberapa kejadian yang tematik ini. Dan inilah penciptaanku tentang kejadian-kejadian itu.

Kejadian pertama: Pada sebuah senja saat kami sedang duduk manis menghadap televisi yang sedang biasa saja dan cenderung cupu, kami sedang berwajah serius tapi berpandangan santai sambil membincangkan benda-benda yang sedang ada di dekat kami, sambil mencari ide-ide yang membedakan sifat mereka.

Sambil mesra dan penuh senda gurau tapi juga serius, kami mengkurasi buah jeruk, rokok dan televisi, melerai gagasan-gagasan mengenai apa saja yang khas tentang buah pisang, pisang goreng, pohon pisang dan juga rokok kretek dan masih ada beberapa benda lagi.

Si anak kami ajarkan (anggap saja begitu) tentang siapa saja yang menciptakan benda-benda itu: Pohon Pisang menciptakan dirinya sendiri, Rokok Eyang diciptakan Pabrik Djarum Super, dan seterusnya. Walaupun aku, sebagai Bapak Kandungnya sudah membeberkan rahasia kehidupan dengan sangat antropologis, namun kadang Ibu Mertuaku sering “nongol” dan mengoreksi (dengan cara yang Jawa dan hangat) gagasan-gagasanku tentang benda-benda hidup dan siapakah dia Sang Produsen yang menciptakan aneka ria benda bernyawa. Ya tentu saja nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Pencipta perlu dihadirkan karena anak-anak perlu beragama dan perlu ber-Tuhan sejak sedini mungkin — sebenarnya wajahku sedang agak rata waktu menuliskan kalimat terakhir.

Lalu, keesokan harinya (ini kejadian yang kedua), saat itu di langit tak ada bulan dan kita biasa menyebutnya sebagai siang yang sedang menuju sore. Waktu itu kami bertiga lagi membungkuk (ada juga yang sedang membungkuk sambil merangkak karena perlu mencari sepatunya di sebuah rak yang sempit). Kami juga sekaligus sedang bersiap-siap mau pergi naik motor (pemotor yang baik selalu memakai sepatu).

Lalu Anak kami sudah siap duluan. Dia sedang menjejakan kakinya yang sudah mantap bersepatu. Dia mulai hilir mudik di sekitar kami, seperti seorang mandor kawat yang tak sabar menunggu rekan-rekannya menyelesaikan pekerjaan: mencari sepatu dan memakai sepatu.

Mama Opi masih sedang membungkuk, sementara aku sudah akan segera tuntas bersepatu, tapi Mama Opi malahan semakin sibuk membungkukan badannya seakan-akan sedang menenggelamkan kepalanya juga badannya di sebuah “kolam kecil yang berbentuk rak sempit-sesak penuh sepatu saling menempel tanpa spasi karena kemalasan manusia pemuja alas kaki” yang alangkah modern.

Lalu aku yang sudah tuntas dengan proses memakai sepatu mulai senyum-senyum sendiri melihat energi anak kami yang sering kali sangat gembira tapi tak sabar bagai mandor dinas pekerjaan umum.

Dia masih sedang hilir mudik tapi ya ampun, dia sedang berhenti dan bermetamorfosis: dari mandor menjadi ilmuwan. Dia sedang mengamati semut dengan tekun. Lalu pikiranku mengingat-ingat tentang berbagai memori masa lalu, masa-masa lucu yang berkelebat secara kilat karena hantu sentimentil akan si mahluk kecil yang ternyata sudah beberapa saat bisa mandiri bisa pakai sepatu sendiri sekaligus doyan melantangkan perintah minta tolong agar dipakaikan kaos kaki.

Ditengah-tengah keteduhanku yang sedang membentangkan rasa bahagia bercampur bumbu-bumbu penyedap rasa terkait keriangan si mahluk kecil nan ajaib, tiba-tiba dia bertanya, “Jadi kalau semut itu ciptaan Tuhan juga?”

Aku terdiam. Kenapa tiba-tiba dia ngomongin Tuhan lagi, sebuah produk yang tak tampak. Aku mulai merasa sungkan dicampur aroma mendadak bosan: lalu mulai lemah otak untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan Tuhan — padahal waktu aku menceritakan tentang sifat-sifat benda, aku membuat cukup banyak iklan layanan masyarakat yang menyingkap sebuah kebenaran masa kini: bahwa Tuhan itu sebuah misteri dan sebaiknya kita katakan saja hal-hal yang digolongkan sebagai “Ciptaan Tuhan” sebagai Ciptaan Kehidupan. Tapi waktu itu, aku mengungkapkannya dengan cara yang lebih manis.

Lalu, karena aku malas menjawab, kurespon dia dengan pelan sambil tersenyum,

“Coba tanya Mama,”

Lalu mama Opi langsung menjawab — Opi sambil merangkak, tersenyum & mendekati Nara,

“Iya, semut ciptaan Tuhan juga, sama seperti kita.”

“Tapi semut nakal, ya.”

“Semut api suka gigit kita, Ma. Kita mesti bunuh mereka!”

Masih kuingat kejadian tiga hari yang lalu waktu kita beramai-ramai melakukan pembunuhan secara besar-besaran pada Semut Merah yang sebenarnya gak berwarna merah. Dari jauh dia menyaksikannya. Kadang dia mendekat, tapi Eyangnya yang merokok Djarum Super, langsung lekas menyuruhnya menjauh. Semut merah yang kami bantai adalah semut yang sering kami lihat ada di Pohon Mangga. Jumlahnya sekitar setengah milyar. Ibu Mertuaku menghitungnya dengan hati-hati. Dan aku yakin dengan ketepatan perhitungan beliau sebab Ibuku memang sukses bermatematika.

Masih sambil membungkuk dan tersenyum, Mama Opi lekas menjawab, “Iya, semut api memang gigitannya sakit, tapi sebaiknya semut jangan dibunuh, kalau bisa diusir aja”.

Nara diam aja sambil memasang muka bingung sejenak lalu dia hilir mudik lagi, seperti seorang mandor Perusahaan Jawatan Kereta Api: dia mulai lagi menjejak-jejakan kakinya ke lantai, seperti sedang mencari sesuatu dan ohh lihaaaat, itu dia sedang berusaha mengejar semut yang sedang teriak-teriak ketakutan karena hidupnya sedang diancam malaikat maut. Oh semut merah yang malang nasibnya. Mahluk kecil ini, dengan keangkuhannya dan sepatunya, menginjak-injak semut merah. Ahh, mengerikan.

Tiba-tiba, Nara nanya lagi. Mukanya masih sedang puas, mungkin karena berhasil membunuh ciptaan Tuhan, eh semut merah.

“Kita naik motor, Pa?”

“Iya, dong”.

Aku mengucapkan iya dan tersenyum puas karena happy sebab topik pikirannya sudah berganti.

Diatas motor (ini kejadian yang keempat), obrolan bergonta-ganti. Aku sudah menghapus air mataku karena kematian semut merah yang baru saja dibunuh oleh anak kami yang membunuh mereka sambil senang bergembira itu.

Pikiran kami bergeser. Aku mengamati jarak kendaraan dengan cermat sambil melupakan tema seputar semut merah ciptaan Tuhan apalagi tentang pikiran-pikiran terkait perlunya membunuh semut.

Lalu sambil kecipratan aroma terapi asap kendaraan bermotor, terlintas sejenak bahwa cepat atau lambat, seperti anak-anak lainnya, dia akan punya pertanyaan-pertanyaan lebih melankolis tentang dunia penciptaaan, tentang dunia macam apa yang bisa kita ciptakan, dan tentang kehidupan para ciptaan lengkap dengan kematiannya.

Lalu untuk menghibur jalan raya, aku goyangkan kemudi motor ke arah kiri ke arah kanan dengan agak mendadak geol-geol semena-mena namun halus sekaligus menghentak. Kadang aku tekan rem agak mendadak: Lihatlah kami ini sedang menciptakan rangkaian elektronik gelak tawa sebab aku tahu bahwa Anak kami akan tertawa puas dengan gaya mengemudiku yang maha kreatif, aman tapi mungkin sedikit ngaco.

Seperti biasa, setelah ngaco beberapa lama, Mama Opi mulai menyanyikan lagu ngomel tapi sambil ketawa juga.

Sambil bermotor, sambil agak ngaco, sambil mencium asap kendaraan bermotor, pikiran kami jadi bahagia.

(Sleman, 12 Februari 2009)

Like what you read? Give Patrick Manurung a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.