[Nyatanya, cinta bukan hanya perkara dari hati yang saling memiliki.]

Aku tak berani menatap mata itu. Mata yang sesekali terpejam seiring dengan hela nafas yang dalam.
Di antara kita adalah sunyi. Kita memilih menghabiskan waktu ini dengan tak saling bertanya.

Kurasa, masing-masing dari kita sudah mengetahui bagaimana rasanya mengakhiri sesuatu. 
Lalu pada akhirnya, entah siapa yang tak sanggup, aku telah luruh berada dalam pelukanmu.

Tangan itu memeluk erat, sebelum aku menyadari kau yang tersedu pada bahuku.
Air mata tak mengenal pria dan wanita. Aku tahu saat itulah kau ingin meletakkan beban yang telah kita bawa bersama.

"Kau tak akan pernah kehilangan cinta dariku," katamu.

Pernah saling memperjuangkan namun dipaksa mengalah oleh keadaan. Menyakitkan pada awalnya. Sebab jika kubilang biasa saja, aku berdusta.

Pernah ada yang berkata, tak ada perpisahan yang baik-baik saja. Sebab sekecil apapun luka pasti tersisa di sana.

Setelahnya, manusia selalu bisa membuat sebuah pilihan :

Kau bisa memulainya kembali, berkawan lagi seperti pertama kali.
Kemudian yang kedua, ada juga yang memilih untuk tak saling mengenal lagi.

Walaupun banyak perasaan yang tak bisa terwakilkan oleh kata-kata, terima kasih sudah memilih yang pertama.

Dan pelukan itu, mungkin terakhir kali. Sebab setelah ini, kita berada pada jalan yang sendiri-sendiri. Jalan yang kamu ingini.

#SunyiBerbunyi