Di Dalam Gerbong

Dalam gerbong ini kita belajar tentang perkenalan. Ketika dua pasang mata kita saling beradu, di tengah-tengah himpitan kemeja putih biru. Aku pun tenggelam dalam manik-manik coklat tuamu. Dan kamu ikut menghilang di balik senyum renyah ini.

Dalam gerbong ini kita belajar tentang percakapan. Saat hangat Minggu pagi menebarkan kata demi kata di sepanjang lorong. Tawa kita ikut berhamburan, menetralisir dinginnya tempat duduk lusuh ini. Dunia kita mendadak statis.

Dalam gerbong ini kita belajar tentang menunggu. Satu dua detik bisa berubah menjadi jam-jam majal nan bisu. Menjajah singgasana favoritmu di sampingku pada malam ini. Tidak, tidak sepatah katamu buru-buru datang untuk mengusirnya.

Dalam gerbong ini kita belajar tentang perpisahan. Cara telapak tangan kita menyatu lebih lama, namun ternyata tak bisa. Semua karena arak-arakan hujan di luar jendela. Tetiba mereka menyusup dari balik kelopak matamu dan hadir sebagai kado penutup cerita kita.

Dalam gerbong ini kita belajar tentang merelakan. Bahwa segala hiruk pikuk di dalamnya hanya ilusi belaka. Begitu pula dengan lini-lini pemandangan luar yang kian mengabur. Semua tentang perjalanan tanpa arah kembali, tanpa kepastian tujuan akhir kita.

Dalam gerbong ini kita belajar tentang hidup.

Jakarta, Agustus 2016.