Bermain Teater

Pementasan
Poster Pementasan

Bermain teater adalah salah satu hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Namun, di jurusanku Sastra Indonesia, aku mendapat kesempatan untuk melakukan hal itu. Melalui pementasan Teater Pagupon ke-94 yang berjudul ‘Buku Harian Carla’, aku memerankan tokoh Luna. Luna adalah seorang anak kecil yang mempunyai sifat sangat penakut, dan dia berbeda dari kembarannya yang mempunyai sifat bodoh. Awalnya, aku tidak tertarik untuk bermain teater. Aku juga sedang mengikuti banyak kegiatan kampus, sehingga aku merasa tidak yakin dapat meluangkan waktu untuk latihan bermain teater. Namun, Bari selaku ketua Teater Pagupon, memberikan motivasi kepadaku agar aku ikut dalam pementasan tersebut. Dia juga meyakiniku bahwa aku adalah orang yang tepat untuk memerankan tokoh Luna.

Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya aku bersedia untuk bergabung bersama dalam pementasan dengan menjadi pemain. Susah sekali bagiku untuk memerankan tokoh Luna yang penakut. Walaupun, sebenarnya aku adalah seorang yang penakut, namun untuk memerankan tokoh yang penakut merupakan hal yang sulit bagiku. Aku sempat tidak yakin untuk bisa memainkan peran ini, karena aku merasa tidak punya dasar untuk ber-akting sama sekali. Selain itu, waktu latihan untuk pementasan tersebut kurang dari satu bulan. Hal itu membuatku semakin tidak yakin. Namun, ternyata pemain lain juga sama sepertiku, rata — rata dari mereka belum mempunyai pengalaman banyak dalam bermain teater. Akhirnya, aku meyakinkan diriku untuk bisa mendalami peran sebagai Luna.

Dengan adanya sutradara dalam pementasan ini, selama latihan aku diajari dan diarahkan olehnya bagaimana menjadi sesosok Luna yang penakut. Demi dapat mendalami peran, dia menyarankanku untuk menonton film horror. Tidak hanya itu, aku juga disuruh untuk berada di tempat sepi dan gelap agar bisa terbawa suasana takut. Awalnya memang sulit bagiku untuk melakukan semua itu, namun dengan berbagai macam reading, cut to cut, dan drill yang diberikan, perlahan aku dapat mendalami tokoh Luna. Tidak hanya pendalaman karakter tokoh yang menjadi masalahku, volume dan vokal suaraku belum bisa lantang dan jelas. Namun, aku dapat mengatasi hal itu dengan mengikuti latihan dengan rutin. Latihan untuk suara juga berbeda beda setiap harinya. Pernah aku diminta oleh sutradara untuk memakan potongan kencur dan meminum madu pada saat selesai latihan. Dia menjelaskan bahwa dengan memakan kencur dan meminum madu dapat melegakan tenggorokan dan membuat suara menjadi lebih jelas terdengar. Aku sangat tidak suka memakan kencur karena rasanya yang pahit. Namun, aku dapat merasakan perubahan besar pada suaraku setelah makan potongan kencur tersebut. Setelah semua masalahku dapat teratasi, aku menjadi sangat yakin dapat memerankan tokoh Luna dengan baik.

Ketika hari pementasan tiba, aku berusaha untuk memainkan peran dengan maksimal. Sebelumnya, aku sangat deg — degan karena melihat penonton yang sangat banyak memenuhi Auditorium Gedung IX FIB UI. Aku tidak menyangka bahwa mereka sangat antusias untuk menonton teater ini. Namun, hal itu juga membangkitkan semangatku untuk tampil yang terbaik di depan mereka. Aku tidak ingin mereka kecewa dengan penampilanku. Aku ingin benar — benar menunjukan bahwa aku ini adalah seorang anak kecil bernama Luna yang sangat penakut. Benar saja, ketika aku tampil, banyak penonton yang tertawa karena gerak — gerik dan ekspresiku yang ketakutan. Aku senang akan hal itu, tapi aku merasa belum memberikan yang terbaik di penampilanku. Aku merasa bahwa gerak — gerikku monoton dan tidak bervariasi, selain itu juga ada satu dialog yang sempat aku lewatkan karena lupa. Namun, aku tidak menyesal akan hal itu. Di akhir pementasan, penonton memberikan tepuk tangan sangat meriah. Aku tidak akan lupa suara gemuruh tepuk tangan itu.

Pementasan ini merupakan salah satu pengalaman yang tidak akan aku lupa sampai kapan pun. Aku berharap dapat terus menambah pengalaman dan pengetahuanku dalam bermain teater, dan alangkah senangnya jika aku mendapat kesempatan berharga untuk memainkan peran kembali.

2017

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Suma Maharani Putri’s story.