Penantian

Sudah hampir lima jam aku berdiri disini
Tiada yang menggangguku selain terik matahari
Ya, hari ini begitu panas
Sepertinya matahari sangat menyukaiku
Tak ada gunanya berteduh pohon beringin
Jika anginnya saja berkoalisi dengan debu
Aku ingin pulang
Mendinginkan diriku
Bersembunyi dari matahari yang mengganggu
Aku ingin bersiap dengan payung
Dan memikirkan untuk pergi dari sini
Namun aku urung untuk membukanya
Aku urung pergi
Berita tentangmu membuatku seperti paku disini
Paku yang sudah lama tertancap
Dan sulit untuk dicabut
Pada hari Sabtu itu mereka membicarakanmu
Dengan sangat jelas aku mendengar berita kepulanganmu
Aku sangat menantikan hari ini datang
Berdiri di bawah pohon beringin
Menunggumu pulang kembali melihatku
Detik pun tidak terasa
Dan menit pun semakin menggila
Sampai jam pun sudah bernominal
Namun, kau tidak kunjung kembali
Matahari seakan meledekku
Sementara pohon beringin mengacuhkanku
Aku tidak peduli
Entah itu panas yang menggangu atau mungkin dingin yang membuat beku
Aku tidak peduli
Ketika matahari berubah menjadi bintang, atau terik menjadi hujan
Aku tidak peduli lagi
Ketika lima jam berkelipatan dua, tiga, atau sepuluh sekalipun
Yang aku pedulikan adalah dirimu disini
Memeluku sambil mengatakan kau rindu
Sama seperti dalam mimpiku kemarin
Sayang, jika kau membaca puisi ini, itu artinya aku sudah lelah
Lelah setia kepada penantian
Selanjutnya, kau tanyakan saja kepada pohon beringin
Dia adalah adalah saksi atas penantianku
Penantian yang sudah ku khianati karna waktu

Jakarta, 3 September 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.