Perkenalan dengan Pena

Liburan semester tiga yang membawaku bertemu denganmu, pena. Ini semua berawal dari dirinya yang selalu menunjukkanku akan tulisan indahnya. Dia tidak berada di bidangku, namun dia menyukai dan menguasai bidangku lebih bagaikan ahli. Dia selalu bercerita mengenai sastra entah itu tokoh, buku, puisi, ataupun hal lainnya yang aku sendiri pun tidak tahu. Seakan-akan dia mengajakku bersama dengannya untuk menyelami tulisan dan hidup dibawah naungan sastra. Ya, sedari awal aku bukanlah penikmat sastra. Membuat puisi tanpa nada, penulisan dengan KBI bernilai B, tokoh sastra yang kuketahui pun hanya Soe Hok Gie, Chairil, dan Sapardi. Namun karenanya, aku tersadar bahwa banyak hal di otakku yang harus kutuangkan dan kuabadikan. Pikirku, otak kan tidak selamanya bisa menyimpan ingatan. Bisa saja memorinya sudah penuh, rusak, ataupun hilang dicuri waktu. Yaa walaupun aku sendiri tidak ingin hal itu terjadi. Namun apa boleh buat, manusia hanya bisa berharap. Sejak saat itu, aku pun memutuskan untuk menemuimu, pena. Aku akan mengukir dengan tintaku. Sebenarnya, aku tidak tahu hal apa yang harus aku ukir nanti. Mungkin cerita mengenai hari-hariku yang membosankan, atau puisi yang tidak punya nada dan daya tarik. Namun aku berharap ukiranku itu mewakili diriku. Sisanya, aku serahkan semuanya padamu, pena.

9 Januari 2017

-Pena Biru-

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Suma Maharani Putri’s story.