Perubahan

Kita sering kali mengatakan perubahan itu menyakitkan. Terutama perubahan yang terjadi pada seseorang yang kita cintai. Kita selalu menganggap pada awalnya dia sangat jatuh hati kepada kita. Kita selalu menganggap bahwa diri kita adalah segala-galanya untuk dia. Namun, seketika perubahan itu datang kepadanya, dan mengubahnya menjadi seseorang yang lain. Perubahan itu mengubahnya menjadi sosok yang tidak kita kenali. Kita pun selalu bertanya-tanya mengapa dia tidak jatuh hati lagi kepada kita. Mengapa dia yang dulu menjadikan kita segala-galanya, kini menjadikan kita hanya segitu-gitunya? Sebab itu, kita pun ingin mencari alasan dibalik perubahan dia tersebut. Seketika kita berhasil menemukan alasan dibalik perubahan itu. Tidak hanya satu alasan, kemudian juga kita menemukan alasan lainnya dengan mudah. Kita pun kemudian mencaci maki semua alasan atas perubahan itu. Kita mengucapkan sumpah serapah kepada semua alasan tersebut. Kita menyesali kenapa alasan itu mengubah dirinya, dan kenapa alasan tersebut merenggut dia yang dulu. Sampai pada akhirnya kita lelah. Lelah mencaci, lelah memaki. Tapi terlebih itu, kita lelah menangis. Namun, ketika air mata telah surut, kita menyadari bahwa semua itu salah. Tanpa sadar, kebenaran seakan akan menunjukan dirinya yang sudah lama lelah bersembunyi. Seakan akan tidak tahan melihat kita menangisi perubahan. Kebenaran akhirnya mengungkapkan bahwa itu semua bukan karna perubahan. Semua alasan yang kita caci maki,sesali, dan kita tangisi merupakan bagian dari dirinya yang sebenarnya. Dalam arti, dia tidak berubah. Dia yang sekarang adalah dia yang dulu. Apakah dia pernah jatuh cinta kepada kita?Tidak. Dia tidak pernah sekalipun jatuh dari awal. Bahkan bisa dibilang dia tidak rela untuk jatuh. Apakah pernah dia menganggap kita segala galanya? Cih. Itu hanya bagian dari topengnya. Atau hanya bagian dari pementasan dramanya. Tanpa sadar, dia telah menjadikan kita kalah. Menjadikan kita seperti penonton sulap yang mudah sekali tertipu. Namun, sekarang semua sudah terungkap. Semua sudah terpapar jelas di hadapan kita. Caci makian sebelumnya pun tidak ada apa apanya, dan tangis pun tidaklah lagi dibutuhkan. Hanya sesal yang berada di puncak hati nurani. Karena, dengan sangat jelas kebenaran menunjukan bahwa aktor utamanya bukanlah perubahan. Perubahan tidak lebih hanya sekedar korban. Korban yang telah diakibatkan oleh yang namanya kebohongan.

Jakarta, 1 Februari 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Suma Maharani Putri’s story.