Refleksi Diri Pementasan Matahari di Sebuah Jalan Kecil Karya Arifin C. Noer

Poster buatan saya

Nama saya Suma Maharani Putri, Sastra Indonesia 2015. Dalam Pengkajian Drama Indonesia, saya mendapat kelas A. Kelas ini dibimbing oleh Ibu Riris. Sebelumnya, saya pernah mendengar bahwa Ibu Riris adalah dosen yang sangat galak dan banyak aturan kelas yang ia tentukan. Pada hari pertama masuk kelas, Ibu Riris memang menunjukkan sifat beliau yang galak. Ibu Riris menetapkan peraturan di kelas bahwa tidak ada yang boleh masuk kelas setelah beliau berada di kelas. Beliau juga mewajibkan mahasiswa untuk mempunyai folder masing-masing untuk menyimpan materi mengenai drama yang akan dikumpulkan di akhir mata kuliah. Pada hari itu, saya begitu takut dengan beliau karena di hari pertama masuk kelas saya sudah terlambat beberapa menit dari jam 8 pagi. Di pertemuan kelas selanjutnya, saya juga terlambat lagi dan tidak membawa folder yang beliau perintahkan untuk dibawa. Beruntungnya, Ibu Riris masih mengizinkan saya masuk kelas pada hari itu. Namun, pandangan saya berubah mengenai Ibu Riris pada saat itu ketika beliau menerangkan mengenai sejarah drama atau teater. Saya sangat kagum oleh wawasan dan pengalaman luas yang dimiliki oleh Ibu Riris. Dan ternyata Ibu Riris adalah seorang yang humoris dibalik ketegasannya. Beliau kerap kali membuat saya tertawa ketika sedang menceritakan pengalamannya dengan berbagai ekspresi wajah. Mulai pada saat itu, saya menyukai kelas Pengkajian Drama Indonesia. Ibu Riris memberikan SAP yang berisi timeline kegiatan belajar tiap minggunya. SAP tersebut memudahkan saya dalam mengerjakan tugas yang sudah dijadwalkan tiap minggunya, sehingga saya dapat mengerjakan tugas tersebut dari jauh hari. Memang awalnya saya merasa kaget karena setiap minggunya di SAP selalu ada tugas yang diberikan. Tidak hanya tugas kelas Pengkajian Drama Indonesia saja, mata kuliah lain pun juga tugasnya tidak kalah banyak. Sehingga saya pun terkadang merasa seperti dikejar deadline setiap harinya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, perlahan saya dapat me-manage waktu saya untuk dapat mengerjakan tugas sesuai dengan batas waktu pengumpulan yang tertera di SAP.

Ujian Akhir Semester kelas Pengkajian Drama Indonesia yaitu membuat pertunjukan drama masing-masing kelas. Dengan kata lain, tidak digabung kelas B. Dari hari pertama masuk, Ibu Riris sudah menyarankan kelas saya untuk membentuk struktur kepanitiaan drama kelas untuk UAS. Beliau memberitahukan dari jauh hari agar kelas saya tidak terburu-buru dalam mempersiapkan semuanya. Terlebih dahulu, Ibu Riris menyarankan agar menentukan sutradara dan pemimpin produksi. Beliau juga menjelaskan mengenai bagaimana pementasan teater itu dilakukan. Setelah sekitar satu minggu Ujian Tengah Semester selesai, kelas saya sudah memutuskan untuk menjadikan Alif Pradhana (Ale) sebagai Sutradara pementasan dan Ayyubie Cantika (Yubi) sebagai Pimpinan Produksi. Awalnya, saya ragu terhadap UAS Pengkajian Drama Indonesia ini karena persiapan menuju UAS hanya sekitar dua bulan. Yang membuat saya ragu bukanlah teman-teman saya di kelas A, melainkan terhadap diri saya sendiri. Di semester tiga ini, saya memiliki banyak kegiatan diluar akademis. Saya adalah salah satu anggota aktif BEM FIB UI di bidang olahraga. Selama bulan Oktober dan November, ada salah satu acara olahraga terbesar di Universitas Indonesia yang tengah berlangsung bernama Olimpiade UI 2016. Saya dipercayakan menjadi PJ Atletik FIB dan juga saya turut ikut berpartisipasi menjadi atlet atletik di ajang tersebut. Hal tersebut yang menjadikan saya ragu tidak bisa maksimal dalam membagi waktu antara akademis dan organisasi. Di satu sisi, saya harus rutin latihan atletik selama dua bulan agar saya menang dan membawa nama baik FIB, namun di sisi lain saya juga harus membantu teman-teman saya untuk mempersiapkan UAS Pengkajian Drama ini. Saya pun akhirnya hanya bisa meyakinkan diri sendiri untuk bisa membagi waktu diantara keduanya.

Setelah Pimpinan Produksi dan Sutradara ditentukan, kelas A berdiskusi mengenai genre yang akan dibawakan dalam pementasan terlebih dahulu. Diskusi mengenai genre pementasan dilakukan di pelataran Gedung IX FIB UI. Diskusi ini juga menjadi rapat pertama dari kelas A. Pada waktu itu, Pimpinan Produksi dan Sutradara menanyakan kepada masing-masing anggota kelas A untuk memilih genre apa yang ingin dibawakan dalam pementasan. Genre yang menjadi pilihan adalah komedi, tragedi, dan tragikomedi. Saya pun mengusulkan genre komedi karena saya menganggap bahwa komedi lebih mudah dibandingkan tragedi dan tragikomedi. Selain itu, Hampir semua anggota kelas A memilih komedi, hanya satu orang saja yaitu Noni yang memilih drama tragedi. Pada akhirnya, musyawarah untuk menentukan genre pun dilakukan. Teman-teman yang memilih genre komedi pun mengutarakan alasan mereka. Rata-rata alasannya adalah karena di semester satu kami pernah mengikuti Petang Kreatif bergenre komedi. Petang Kreatif adalah drama seni pertunjukan yang dikhususkan untuk Mahasiswa Baru FIB UI. Dengan pertimbangan lainnya juga, maka Sutradara pun sepakat dengan anggota yang lain untuk menggunakan genre komedi. Setelah menentukan genre, Pimpinan Produksi dan Sutradara ingin mendiskusikan mengenai naskah yang akan dipilih. Sebelumnya, penyunting naskah pun sudah ditentukan orangnya oleh Sutradara. Mereka adalah Cantika, Dara, dan Noni. Terdapat empat calon naskah yang akan dipilih untuk dibawa ke pertunjukan. Namun, karena anggota yang lain belum semuanya sempat membaca keempat naskah tersebut maka pemilihan naskah pun tidak jadi dilaksanakan hari itu. Sebagai gantinya, sutradara pun melakukan musyawarah kembali untuk menentukan apakah naskah tersebut akan disadur atau tetap dibiarkan seperti aslinya. Kelas A pun sepakat untuk melakukan sedikit saduran terhadap naskah yang nantinya akan dipilih sebagai naskah utama, apabila dirasa ada suatu adegan atau perkataan yang tidak sesuai. Hari itu, tidak ada lagi yang harus dimusyawarahkan. Yubi, selaku Pimpinan Produksi mengumumkan bahwa rapat akan dilaksanakan kembali di akhir pekan dengan agenda yang telah ditentukan, yaitu pembagian divisi masing-masing anggota. Sementara itu, Alif sebagai sutradara belum bisa menentukan pemain dengan alasan naskah belum ditentukan dan pemain ditentukan setelah reading naskah dilakukan.

Rapat selanjutnya pun dilaksanakan pada hari Jumat, tepat setelah kelas Pengkajian Drama Indonesia selesai. Semalam sebelumnya, Yubi sudah mengumumkan di akun grup whatsapp anggota divisi yang sudah ia tetapkan. Saya pun ditunjuk Yubi menjadi PJ Desain untuk pementasan. Saya bekerja sama dengan Galih dalam urusan desain. Pada awalnya, saya ragu untuk menjadi PJ Desain karena laptop saya sedang rusak dan tidak bisa dibawa kemana-mana. Selain itu, saya tidak pernah membuat poster teater sebelumnya, saya hanya pernah membuat banner welcoming dan backdrop saja. Namun, dengan adanya Galih sebagai partner saya dalam membuat desain, saya jadi tidak terlalu khawatir. Galih setidaknya sudah mempunyai banyak pengalaman membuat desain poster di Baksos FIB UI. Alasan Yubi memilih saya menjadi PJ Desain adalah dia mendapat saran dari teman-teman saya bahwa saya bisa membuat hal yang terkait dengan desain. Tetapi, sebenarnya saya sama sekali tidak pandai membuat desain dan tidak ada pengalaman. Namun, saya sudah diberi kepercayaan oleh teman saya, bagaimanapun juga ini sudah menjadi tanggungjawab yang harus saya jalani. Naskah pun juga sudah ditentukan bersama. Naskah pertama yang terpilih berjudul Jeng Menul karya Putut Buchori. Naskah ini menceritakan mengenai seorang wanita cantik bernama Menul yang berjualan bubur di sebuah desa. Dengan kecantikannya itu, ia mampu menarik perhatian pelanggan terutama para laki-laki yang sudah beristri. Oleh karena itu, Menul tidak disukai oleh kebanyakan warga terutama Mas Romo. Mas Romo adalah saingan Menul dalam berjualan bubur. Usaha bubur Mas Romo menjadi tidak laku karena pelanggannya sudah berpaling ke usaha bubur Menul. Pada akhirnya, terjadi pertentangan antara Menul dan Mas Romo yang diselesaikan dengan musyawarah satu sama lain. Naskah Jeng Menul ini begenre komedi yang ditunjukkan di beberapa dialog warga seperti pada saat para suami menggoda Menul. Hari itu juga, naskah sudah diperbanyak untuk kegiatan reading. Reading pun dilakukan tiga hari sesudahnya setelah kelas di Pelataran Gedung X. Anggota kelas yang datang pada hari itu sangat sedikit, hanya sekitar 10 orang sehingga reading pun hanya dilakukan selama 2 kali putaran. Sebelumnya, saya pernah menjadi pemain di Teater Pagupon yang membuat saya diajarkan teknik reading yang benar oleh sutradara pada waktu itu. Oleh karena itu, saya tidak mengalami kesulitan sewaktu reading kali ini. Hanya saja bedanya, reading kali ini harus memainkan semua peran karena peran dan pemain belum ditentukan. Selang satu jam, reading pun selesai. Ale akan mengumumkan mengenai pemain yang terpilih dari hasil reading di grup whatsapp pada malam selanjutnya. Setelah diumumkan ternyata saya menjadi pemain dalam naskah Jeng Menul. Saya pun sempat sedikit kaget ketika Ale mengumumkan bahwa saya menjadi pemeran utama Jeng Menul di rapat selanjutnya. Saya langsung menolak kepada Ale bahwa saya tidak ingin menjadi pemeran utama karena saya merasa bahwa peran Jeng Menul sangat tidak cocok bagi saya. Selain itu, dikarenakan kegiatan saya diluar akademis yang padat, menjadikan saya ragu untuk dapat membagi waktu menjadi pemeran utama. Ale pun mengerti akan alasan saya, dia pun akhirnya bilang akan memikirkan lagi bagaimana nantinya. Selain itu, Ale dan Yubi juga mengumumkan agar Kharisma menjadi Koordinator Latihan.

Jadwal latihan pun sudah ditentukan oleh Kharisma, Ale dan Yubi. Latihan dilaksanakan 3 kali dalam seminggu. Yubi juga sudah memberikan timeline yang berguna sebagai target jadwal kerja per divisi agar tahu apa yang harus dilakukan setiap minggunya. Absen pun sudah mulai berjalan. Reading pun sudah selesai dilakukan selama satu minggu di hari latihan. Sejauh itu, saya masih bisa membagi waktu dengan kegiatan lain diluar drama walaupun terkadang saya sering kali absen latihan. Saya juga menghadapi masalah mengenai desain karena laptop yang saya gunakan rusak. Hal ini membuat saya harus mengerjakan desain di kampus dengan menggunakan laptop Galih. Sebenarnya, bekerjasama dengan Galih dalam hal desain sangatlah sulit. Bisa dibilang, Galih bukanlah orang yang cekatan dalam mengerjakan tugas yang diberikan sehingga saya harus sering mengingatkan dia untuk mengerjakannya. Namun, saya yakin dan percaya bahwa saya dan dia dapat bekerja sama dengan baik. Sempat terjadi kesalahpahaman antara saya dengan Yubi dalam hal membuat poster coming soon. Terjadi perubahan jadwal yang tidak sesuai dengan timeline mengakibatkan pembuatan poster coming soon saya kerjakan dengan buru-buru. Yubi lupa akan memberi tahu saya mengenai perubahan jadwal tersebut. Namun masalah tersebut dapat saya atasi pada akhirnya.

Terjadi penggantian naskah pada waktu kurang dari seminggu pementasan. Hal tersebut dikarenakan Bari, selaku ketua Pagupon menyarankan agar tidak memakai naskah Jeng Menul dengan beberapa alasan. Bari menyarankan naskah yang berjudul Matahari di Sebuah Jalan Kecil karya Arifin C. Noer. Naskah ini menceritakan mengenai seorang pemuda yang menipu dengan makan tidak bayar di sebuah warung makan di pinggir kota. Ale pun akhirnya merundingkan penggantian naskah tersebut kepada anggota kelas A. Anggota lain pun setuju apabila naskahnya diganti, begitu juga saya. Dengan adanya penggantian naskah, maka pemain pun juga diganti. Saya sangat bersyukur karena ketika Ale mengumumkan daftar pemain yang baru, saya tidak termasuk kedalam daftar tersebut. Saya bersyukur tidak jadi pemain karena saya bisa sedikit merenggangkan waktu saya yang padat disela-sela kegiatan diluar akademis. Namun sejujurnya, saya kasihan dengan pemain yang terpilih seperti Kharisma, Izzat, Noni, Aghnia, Tyas, Galih, Ichsan, Rojali dan Tifany karena mereka harus menghafal ulang naskah baru dalam waktu satu minggu. Akan tetapi, saya percaya bahwa mereka bisa melakukan itu. Dengan pergantian naskah, maka saya juga harus membuat konsep baru pada desain utama untuk poster drama yang akan dibuat. Dikarenakan laptop saya yang rusak, saya tidak membuat poster di photoshop ataupun aplikasinya lainnya. Saya membuat poster tersebut di website online khusus untuk membuat poster di laptop saya. Saya menentukan warna biru dan hitam sebagai warna dasar poster tersebut. Mengacu pada judul dan cerita naskah, saya mengambil tema matahari terbit pada poster, dan menambahkan seseorang yang berdiri di tengah. Setelah desain jadi, saya mengonsultasikan hasil desain yang saya buat ke grup kelas A di whatsapp. Tetapi sayangnya, lama sekali untuk menerima respon dari mereka sehingga saya langsung mengirimkan desain tersebut ke sutradara. Ale pun memberikan saran pada desain saya. Dan sarannya pun sudah saya perbaiki di desain saya. Ketika tidak ada lagi komentar yang diberikan, saya merasa bahwa desain saya sudah cukup bagus dimata mereka. Saya sangat senang karena pada akhirnya saya dapat mengerjakan desain tersebut dengan lancar tanpa hambatan. Saya berhasil mengerjakan desain tersebut selama 4 jam lamanya. Saya sangat bangga akan hal itu. Sayangnya, Galih tidak ikut membantu saya dalam mengerjakan desain poster tersebut. Namun, saya tidak kecewa terhadapnya, karena saya tahu dia juga menjadi pemain dalam drama ini. Ketika 2 hari menuju pementasan drama, saya diminta Tia selaku PJ Tata Rias untuk menjadi tim tata rias dadakan. Hal tersebut karena tata rias kekurangan anggota. Saya pun menyetujuinya karena saya juga ingin belajar mengenai cara make-up yang baik untuk pementasan teater. Di hari itu juga, tim tata rias belajar mengenai make-up dipandu oleh Putri Buddin, senior 2013. Saya senang sekali karena dapat menambah pengetahuan saya dalam bertata rias. Hari itu juga, gladi kotor pementasan dilakukan. Semua divisi sibuk menyiapkan segala kebutuhan pementasan. Persiapan pemain seperti make-up dan kostum sudah dilakukan dari siang hari, walaupun gladi kotor dilakukan sekitar pukul 8 malam. Dikarenakan Teater Daun yang tidak bisa dipakai pada hari itu, maka gladi kotor dilakukan di Pelataran Gedung IX. Selama running berjalan, tim manjerial melakukan eval dan briefing hari H bersama Yubi. Hal yang dibahas adalah kesiapan tim manajerial dalam mempersiapkan hari H. Tidak banyak yang kurang, hampir semuanya lengkap. Walaupun sebenarnya masih ada yang kurang seperti peralatan untuk setting.

Keesokan harinya adalah satu hari menuju pementasan. Latihan dilakukan dari pagi di Teater Daun bersama dengan kelas B. Saya datang pada siang hari di hari itu dikarenakan tidak enak badan. Make-up pemain pun dimulai dari jam 5 sore dan running dilakukan pada jam 8 malam. Setelah running selesai, Kelas A melakukan eval dan briefing seluruh tim manajerial bersama pemain. Malam itu, Yubi dan Ale ingin masing-masing memberikan evaluasi di hari itu. Tidak banyak yang memberikan evaluasi, rata-rata malah memberikan semangat satu sama lain, bahkan ada yang menangis. Suasana pada malam yang begitu haru itu adalah suasana yang akan saya dirindukan bersama dengan teman-teman kelas A. Saya dan teman-teman mengharapkan susah payah dan kerja keras selama kurang lebih dua bulan ini harus menghasilkan sesuatu yang terbaik di keesokan hari. Setelah semua mengutarakan evaluasinya, briefing pun dimulai. Malam itu, selesai tepat pada pukul 10 malam. Saya pun bergegas pulang kerumah karena besok tidak ingin datang terlambat di pagi hari karena saya harus merias salah satu pemain dan wajib datang jam 5 pagi.

Hari yang telah saya dan teman-teman tunggu pun tiba. Saya datang terlambat 15 menit pada hari itu. Setelah sampai di Teater Daun, tanpa basa-basi saya segera membantu tim tata rias lainnya dalam memberikan make-up kepada pemain. Ternyata, belum banyak orang yang datang pada jam segitu. Sekitar satu jam, tata rias pun selesai memberikan make-up kepada pemain. Teman-teman mulai berdatangan, dan FIB pun semakin ramai dengan mobil dan motor yang masuk. Sekitar jam 7, Yubi meminta agar semua divisi beserta pemain melakukan briefing terakhir bersama dengan kelas B sebelum pertunjukan. Briefing dilakukan di ruang 8201. Yubi membahas mengenai teknis setting dan lainnya. Setelah briefing selesai, doa bersama pun dilakukan, sementara pemain briefing dengan Ale. Pementasan Pengkajian Drama Indonesia dimulai jam 8 dengan pementasan dari kelas A terlebih dahulu. Akan tetapi, dikarenakan Ibu Riris yang mengabarkan akan datang terlambat, pertunjukan kelas A tidak dimulai jam 8. Pertunjukan dimulai pukul 9 ketika Ibu Riris beserta dosen kelas B, Mas Yoesoev datang. Penonton yang datang lumayan banyak. Mereka rata-rata adalah mahasiswa FIB UI yang sedang tidak ada kelas di jam itu. Selain itu, ada senior Sastra Indonesia yang sudah lulus juga menonton pertunjukan tersebut. Saya senang sekali, walaupun pementasan dijadwalkan pagi, namun tidak sepi dengan penonton. Sekitar satu jam, pementasan drama kelas A pun selesai. Saya pun tidak kuat untuk menahan air mata haru karena kerja keras bersama teman-teman lain membuahkan hasil yang baik. Saya juga melihat Ibu Riris menitikkan air mata sama seperti saya. Sekitar jam 11 siang, kelas B selesai dengan pementasannya. Hari itu, ditutup oleh foto bersama Ibu Riris dan Mas Yoesoev. Setelah itu, saya dan teman-teman merapihkan Teater Daun seperti semula.

Melalui pementasan ini, saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Belajar menjadi orang yang selalu menghargai orang lain dan untuk tidak menjadi orang yang egois. Saya juga belajar untuk me-manage waktu disela kesibukan saya diluar akademis. Muka bahagia karena lelah yang terbayarkan terlihat dari wajah teman-teman saya. Mereka sudah berjuang dari jauh hari agar membuat pementasan yang terbaik. Mereka tidak pernah mengeluh walaupun harus pulang malam bahkan pagi demi mempersiapkan pementasan. Saya bersyukur karena saya berada di kalangan orang-orang yang dapat dipercaya. Orang-orang yang akan bersama saya kedepannya sampai lulus kuliah nanti. Orang-orang yang telah memberikan banyak perubahan pada diri saya. Terima kasih juga kepada Ibu Riris yang telah membagi ilmu dan pengalamannya dengan saya dan teman-teman. Semoga, di lain waktu saya dapat lebih mengenal Ibu Riris dan kita bisa berbagi cerita kembali seperti yang biasa ibu lakukan di kelas.

2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Suma Maharani Putri’s story.