Menyelisik Nilai Estetis dalam Novel Kelomang karya Qizink La Aziva

— dan sebagai tugas akhir mata kuliah estetika saya

ABSTRAK. Artikel ini mengeksplorasi aspek estetika novel Kelomang karya Qizink La Aziva. Aspek estetika yang diterapkan di sini sesuai dengan teori Horace, yaitu dulce et utile. Dengan menganalisis melalui aspek-aspek tersebut, seseorang dapat menyimpulkan pada keputusan apakah karya sastra itu bagus atau tidak. Hasil analisis menunjukkan bahwa novel Kelomang karya Qizink La Aziva menerapkan kualitas duice et utile yang cukup baik. Ini terlihat masuk akal dengan adanya kesatuan dalam keragaman (unity in variety), kontemplasi objektif (disinterested contemplation), jarak estetis (aesthetic distance), penciptaan kerangka seni (framing), penciptaan (invention), imajinasi dan kreasi, serta orang dapat membaca bahwa penggunaan diksi-diksi yang dipilih dan dapat memperoleh nilai atau pesan dari membaca novel tersebut.

Kata kunci: nilai estetis, dulce et utile, jarak estetis, novel

Pendahuluan

Menelaah sebuah karya sastra dan sampai pada kesimpulan apakah karya tersebut berkualitas atau tidak, bukanlah persoalan mudah karena penilaian yang dilakukan tidak mungkin hanya didasarkan pada salah satu elemennya, melainkan harus dilihat secara keseluruhan. Oleh sebab itu, karya sastra yang hanya bagus dalam salah satu aspeknya, belum tentu dapat dikatakan sebagai karya sastra yang berkualitas atau sastra yang baik.

Pradopo (dalam Aziz & Samsyuri, 2011:56) menguraikan bahwa kritik sastra adalah pertimbangan baik buruk karya sastra, pertimbangan bernilai baik tidaknya. Dalam kata bertimbangan terkandung arti memberi nilai. Sebab itu, dalam kritik sastra tak dapat ditinggalkan pekerjaan menilai. Karya sastra adalah termasuk karya seni dan di dalamnya sudah mengandung penilaian seni. Dan kata seni itu berhubungan dengan pengertian indah atau keindahan.

Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu karya sastra itu mahakarya atau bukan adalah segi estetisnya. Kriteria yang lain dapat berupa reputasinya atau kecemerlangan ilmiahnya, ditambah penilaian estetis atas gaya bahasa, komposisi dan kekuatan penyampaian yang tercermin dalam berbagai ujaran (Wellek dan Werren, 1995:22).

Novel sebagai prosa fiksi juga memiliki nilai guna karena bertujuan memberikan hiburan dan kepuasan batin serta manfaat bagi pembacanya. Melalui sarana cerita itu, pembaca secara tidak langsung dapat belajar merasakan dan menghayati pelbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan pengarang sehingga prosa fiksi dapat membuat pembacanya menjadi manusia yang lebih arif dan dapat memanusiakan manusia. Novel sebagaimana karya sastra yang lain dapat dibaca, dinikmati dan diapresiasi. Telaahnya meliputi kekhasan sastra dan sistematis. Dalam hal kekhasan karya sastra, telaahnya bertujuan menguraikan ciri-ciri khas karya sastra, misalnya fiksionalitas, ciptaan, dan imajinasi.

Artikel ini ditulis bertujuan untuk menganalisis nilai estetis dan dulce et utile dalam karya Qizink La Aziva berjudul Kelomang. Alasan pemilihan novel tersebut sebagai objek penelitian yang berujung penulisan artikel ini adalah karena Tb. Ahmad Fauzi atau yang biasa disapa Qizink La Aziva awalnya sempat mengalami penolakan dalam penerbitan untuk novelnya. Pihak penerbit sendiri melakukan penolakan karena mereka lebih senang dan tertarik terhadap cerita-cerita tentang remaja, sedangkan isi dari novel tersebut lebih kepada isu sosial dan politik daerah Banten. Qizink memang pemain baru dalam hal pernovelan, dalam hal ini Qizink baru mempunyai dua buah novel yang salah satunya berjudul Gerimis Terakhir. Walaupun terbilang baru, namun saya pun tetap mengasumsikan bahwa setiap karya sastra baik itu semua atau sebagian besar karyanya pasti memiliki nilai-nilai estetis.

Nilai-nilai Estetis

Kesatuan dalam Keragaman

Dari segi kesatuan dan keragaman, novel ini memiliki koherensi yaitu keselarasan antara tema yang diangkat serta beragam konflik yang disuguhkan melalui konsistensi plot cerita dari setiap bab pada novelnya. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya konflik yang ada, mulai dari isu politik, sosial, kesehatan, dan kemiskinan.

Isu politik yang coba ditampilkan oleh Qizink disini adalah berupa seorang pengusaha ternama bernama Sakib yang berusaha untuk menyuap Bupati Jamaludin agar memberikan izin penambangan.

Tautan itu berupa kliping berita delapan tahun silam dari sebuah situs berita nasional. Diberitakan bahwa pengacara PT Bintang Laut mendatangi Mabes Polri untuk melaporkan dugaan suap dalam proses penerbitan izin penambangan pasir laut. Uang suap diduga mengalir ke sejumlah kalangan, mulai dari pejabat pemerintahan hingga pemangku kepentingan lainnya. (Kelomang, 2014:63)

Adapula bagi kita pecinta sastra, dua nama tokoh Saija dan Adinda dihadirkan dalam novel ini. Kita tahu, bahwa dua tokoh ini ada dalam novel Max Havelaar karya penulis Belanda, Eduward Deues Dekker atau yang lebih populer dengan nama Multatuli. Jika dulu Saija dan Adinda menceritakan tentang kisah pahit penderitaan rakyat Indonesia di masa penjajahan kolonialisme Belanda, maka kali ini mereka berdua hadir mengungkap kasus suap penambangan pasir di teluk Banten.

Ketika itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Di luar, hujan turun rintik-rintik. Layar kaca menyuguhkan berita malam yang disampaikan penyiar cantik dengan suara renyah. Perbincangan Yanto dan Citra tentang buku itu belum berakhir. “Nong, bagaimana kalo kita ambil nama tokoh dalam buku ini sebagai nama anak kita?” tiba-tiba Yanto mengusulkan. Matanya memandang bayi mungil yang terlelap di boks bayi di dekat mereka… Ulama berjanggut tipis itu lalu mengeja nama bayi yang sudah tertulis pada secarik kertas yang diselipkan di bawah kain penutup baki. “Saija bin Haryanto Nataprawira…” suara Kiai Syafiq sangat tegas membaca nama si jabang bayi. (Kelomang, 2014:27–30)

Selain kental akan nilai estetis lokal dan sejarah, Kelomang juga syarat akan kritik sosial. Seperti apa yang dikatakan oleh Saija dalam percakapannya dengan Adinda, yang sedang membahas binatang kelomang. Dapat diasumsikan bahwa Qizink menggambarkan para pejabat korup itu seperti binatang kelomang, karena bersembunyi di balik kemewahan statusnya hanya untuk kekuasaan. Seperti halnya kelomang, kalau ada ancaman pastilah dia bersembunyi di dalam cangkangnya.

“Ya, pejabat sekarang lucu-lucu banget, lebih lucu dari pada pelawak, lebih pintar bersandiwara dibanding aktor, dan lebih pengecut dibanding kelomang karena selalu bersembunyi di balik kemewahan statusnya hanya untuk mempertahankan kekuasaan.” (Kelomang, 2014:162)

Kontemplasi Objektif

Novel ini ditulis oleh pengarangnya dengan “kontemplasi objektif” karena pengisahan yang dilakukan pengarang merupakan hasil dari perenungan yang objektif, netral, dan tidak memiliki tujuan atau tendensi tertentu.

Di bawah pohon ketapang, hidung Saija digoda aroma ikan asin goreng yang menyeruak dari dapur rumah warga di tepi pantai utara. (Kelomang, 2014:160)

Jarak Estetis

Novel ini memiliki “jarak estetis” karena pengarang bersikap netral, objektif, dan tidak melecehkan suatu komunitas atau etnis tertentu. Jarak estetis yang ada pada novel ini terbilang cukup realis dan relevan dengan kehidupan manusia pada umumnya. Juga konflik yang dipaparkan pada tiap babnya seakan mengalir dengan sesekali dibalut dengan kisah roman Saija dan Adinda, dimana banyak kita jumpai kasus-kasus korupsi, penyuapan dan lain sebagainya.

Penciptaan Kerangka Seni

Dari segi “penciptaan kerangka seni” (framing), novel ini memiliki framing yang baik tetapi sempit. Dari ke-13 bab yang ada, hanya menceritakan tentang polemik yang ada di daerah Banten. Namun justru dari sempitnya tema pokok yang diangkat, novel ini cukup jelas dan tujuannya untuk kritik sosial. Penciptaan kerangka seni sudah dapat dilihat ketika memasuki bab pertama yaitu “Buah”. Dalam bab ini Qizink menceritakan lahirnya tokoh Sakib, yang terlihat sifat tamak dan bringasnya ketika berusaha menggoda Citra yang sedang menari jaipong.

Ciptaan

Dilihat dari segi ciptaan (invention), misalnya dalam penokohan, Qizink berhasil menciptakan tokoh-tokohnya yang fiksional dan dari tokoh-tokoh tersebut kita mendapat gambaran umum mengenai manusia, sifatnya, tingkah lakunya dan pendapatnya. Disamping itu, novel ini menggambarkan hubungan yang terduga dari tokoh-tokoh tersebut, dan memiliki originalitas dalam bentuk dan isi. Seperti Sakib yang tamak dan pejabat korup, Saija yang menggambarkan seorang aktivis lingkungan, dan Yanto penggambaran dari wartawan sekaligus ketua redaksional yang tidak bisa disuap dan jujur.

Imajinasi

Dilihat dari “imajinasi” novel ini memiliki imajinasi yang baik karena menggambarkan atau melukiskan apa yang terjadi di dunia nyata dengan bahasa yang imajinatif serta metafor.

Mata Adinda berbinar melihat seekor kelomang berlari cepat memasuki lubang ketika ombak datang. Hampir saja binatang bercangkang siput laut itu tersapu ombak. (Kelomang, 2014:162)

Kreasi

Dilihat dari segi “kreasi”, novel ini merupakan proses pelukisan yang kreatif dan unik, Qizink banyak sekali melukiskan segala sesuatu dengan penuh kreatif melalui kata-kata dan pemahaman yang unik. Seperti pemahaman kita tentang binatang kelomang yang disini sebagai kata lain dari pejabat korup.


Segi “Dulce et Utile

Novel ini memiliki nilai “dulce et utile” karena novel memberi kesenangan dan hiburan serta sekaligus manfaat bagi para pembacanya. Berikut ini hasil analisis novel tersebut.

Nilai kesenangan

Novel ini terutama dalam pengungkapan fakta, pikiran, pendapat, dan perasaan dalam menyikapi fakta tersebut, pembaca dapat merasakan bahwa cerita-ceritanya dikemas secara unik tapi menarik dan memberi kenikmatan dan hiburan. Bagi orang yang telah dewasa dan sedikit paham tentang dunia politik, membaca novel ini pasti akan merasa terhibur. Dan juga kisah cinta Saija dan Adinda yang tidak kalah menghibur untuk kalangan dewasa sampai remaja sekalipun. Karena selayaknya orang dewasa yang telah mampu berpikir matang untuk urusan politik dan isu-isu sosial yang lain.

Nilai manfaat

Novel ini memberikan wawasan tentang semangat perjuangan melalui tema yang disajikan. Dimana seorang pemuda yang dengan gigih menolak penambangan pasir laut yang banyak menimbulkan efek negatif bagi lingkungan sekitarnya. Dan juga menceritakan wartawan yang menolak penyuapan dari petinggi sebuah perusahaan swasta, yang menginginkan agar hanya memuat berita-berita yang positif tentang dirinya.

Disamping itu, novel ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami serta tema cerita yang diangkat adalah tema kehidupan yang pernah ada dimana pada zaman sekarang masih banyak dijumpai kasus dan isu sosial politik seperti yang ada pada novel. Namun demikian, novel ini secara implisit berupaya memberikan kita pengalaman membaca yang menyenangkan, karena seolah-olah pembaca dibawa dan dipaksa menikmati atmosfir daerah Banten.

Simpulan

Dari uraian diatas, dapat ditarik simpulan bahwa novel Kelomang karya Qizink La Aziva memiliki nilai estetis yang cukup baik, dalam segi kesatuan dalam keragaman (unity in variety), kontemplasi objektif (disinterested contemplation), jarak estetis (aesthetic distance), penciptaan kerangka seni (framing), ciptaan (invention), imajinasi dan kreasi. Ditambah dengan gaya bahasa dan pilihan bahasa yang mudah dipahami menjadikan novel ini mempunyai nilai tambah tersendiri. Serta menampilkan sedikit nilai sejarah pada daerah Banten. Disamping itu, novel ini dapat memberikan hiburan dan manfaat serta nilai bagi para pembacanya.


Daftar Pustaka
Wellek, Rene dan Warren, Austin. 2005. Teori Kesusasteraan (Terjemahan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
La Aziva, Qizink. 2014. Kelomang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.