Bab 6 : Konsep Manusia & Penciptaannya

Manusia Sebagai Insan

Jika dilihat dari aspek bahasa, kata (إنسان) Insan menurut Ibn Mandzhur
diambil dari tiga akar kata, yaitu: أنََس(anasa), أنََّس (annasa)dan نسي (nasiya)
Kata anasa أنََس memiliki erti ْأبصر (abshara), علِم (‘alima), إْسَتاذَنََ (istȃdzana).

1 ) Kata abshara berarti melihat, menaakul, berfikir. Dengannya manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat. Kata ‘alima bererti mengetahui atau berilmu. Dengan ilmunya manusia dapat membezakan suatu perkara apakah itu benar atau salah. Sedangkan kata ْistȃdzana memiliki erti meminta izin. Manusia merupakan makhluk yang beradab yang akan meminta izin ketika ingin melakukan sesuatu atau menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. (Lisan al-Arab)

2 ) Kata annasa bererti jinak, ramah. Manusia merupakan makhluk yang bersahabat dan ramah dalam pergaulan.

3. Sedangkan kata nasiya bererti lupa.

Firman Allah s.w.t. :
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”. (Az-Zumar: 8)

6 Faktor Yang Meletakkan Status Manusia Sebagai Mulia

1. Dari segi jasmani, Allah telah jadikan manusia dalam bentuk yang paling
indah. Tidak ada makhluk yang mempunyai bentuk yang lebih indah dari manusia. Malaikat dan jin tidak mempunyai bentuk : hanya mereka dapat menyerupakan diri mereka dengan manusia atau lain-lainnya.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya”. (al-Tin:4)

2. Dari segi rohani, Allah telah menjadikan manusia di atas fitrah yang hanif, iaitu: sifat semulanjadi manusia adalah lurus, bersih, suci dan sukakan kebaikan.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (ar-Rum:30)
  • Bercanggah dengan pandangan Kristian yang memandang setiap
    manusia yang baru dilahirkan sudah ada dosa yang diwarisi daripada
    nenek moyang mereka (Adam dan Hawa)

3. Akal. Dengannya manusia dapat mencapai ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk memanfaatkan segala yang Allah cipta untuk mereka. Dapat membezakan baik dan buruk, betul dan salah, yang bermanfaat dan berbahaya. Dengannya juga manusia beroleh kelayakan untuk menerima bebanan atau tugasan daripada Allah s.w.t.

4. Allah memuliakan manusia dengan tugas mendekatkan diri kepadaNya iaitu tugas ibadat. Dalam sehari semalam, sekurang-kurangnya lima kali
manusia diperintah untuk menghadapkan diri kepadaNya.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku”. (al-Zhariyat: 56)

5. Dilantik sebagai khalifah: menguruskan, mensejahterakan dan menjaga
keamanan di muka bumi.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (al-Baqarah:30)

6. Diturunkan petunjuk-Nya dengan perantaraan wahyu kepada para
Rasul-Nya yang diangkat dari kalangan manusia itu sendiri untuk kemaslahatan manusia supaya manusia tidak tersesat jalan.



Hidup Di Dunia Sebagai Ujian

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, 2. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (AL-MULK: 1–2)
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (MUHAMMAD: 31)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. 
(AL-ANKABUT: 2–3)
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. 
(AL-INSAN: 2)