Pharmacy Startups (1st story)
Sebelum dimulai saya wajib dulu mengingat satu kalimat dari istri saya di awal pertemuan kami, “Jika semua orang didunia ini ga ada yang percaya kamu bisa, maka saya akan tetap percaya kamu bisa!”. Kepercayaannya membuat keraguan dan ketakutan saya selama bertahun-tahun hilang saat itu juga. Ya, sekitar tahun 2012 tercetuslah ide membuat aplikasi di android untuk mendigitalisasi seluruh informasi obat yang ada di Indonesia dalam sebuah rencana pembuatan aplikasi IDO (informasi digital obat). Saat itu, medscape.com dan drugs.com sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di dunia medis. Seingat saya belum muncul halodoc atau alodokter atau sejenisnya, sehingga bagi saya yang nilai toeflnya dibawah standar akan sulit memahami informasi kesehatan terutama obat dalam bahasa inggris. Beli buku ISO atau MIMS rasanya memang kurang lengkap untuk menambah pengetahuan (uangnya juga ga ada buat beli buku, hehe). Bertemulah dengan beberapa teman di farmasi kemudian merasa satu visi satu misi juga dengan dua orang teman dari jurusan elektronika & informatika yang lagi pengen nyobain bikin aplikasi. Mulai tuh, kumpul-kumpul, sok-sok an bikin timeline lah, roadmap lah, bussiness model lah. Mockup siap, proposal untuk ikut-ikutan lomba bisnis siap, dan tibalah tugas kuliah yang rasanya makin menumpuk, beban kerja organisasi mahasiswa yang semakin kompleks, kisah dan drama pun mengiringi berhentinya kegiatan kami. Cukup lama memalingkan diri dari ide informasi digital obat, saya pribadi jadi setengah hati mengerjakan, teman lain mulai mengejar lulus cepat, yang lain punya kerjaan baru. Terus berlanjut seperti itu, ragu rasanya kalau mengajak orang baru, takut juga gagal ketika berjalan terus. Disaat kami lari ditempat, orang lain luar biasa perkembangannya. Sekarang orang mungkin sudah tidak asing untuk membuka ponsel kemudian klik, search, bahkan buy drugs or service di situs online maupun aplikasi mobile semacam halodoc, alodokter, gomed, klik24, dan masih banyak lagi. Begitulah sekilas perjalanan keraguan dan ketakutan yang berujung penyesalan. Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses betul-betul terjadi pada kami. Tahun 2019 ini menjadi titik balik untuk bekerja lebih baik dalam merealisasikan cita-cita di bidang teknologi kesehatan. Dimulai dari sering main-main ke Digital Valley-nya telkomsel, buka-buka lagi materi seminar maupun workshop bisnis yang dulu pernah diikuti, ikut apapun kegiatan yang berhubungan dengan startup dan teknologi, saya akhirnya mendapat kesempatan untuk show up IDO di acaranya DiLo Makassar serta startupday.id, menang penghargaan di TDA MakassarPreneur, berdiskusi langsung dengan Dewan Pertimbangan Presiden periode 20014–2019, dan tentunya speed-dating dengan angel investor untuk mendapatkan insight baru bagi pengembangan IDO serta tentunya pemodalan usaha. Hal yang paling berkesan tahun ini bagi saya adalah bisa pulang kampung ke Bandung di tanggal 1 November 2019 yang lalu, karena bertepatan dengan Hari Inovasi Nasional, saya diundang untuk bisa berbagi cerita dalam kemasan kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Bandung. Bertemu dengan para mahasiswa kesehatan, apalagi farmasi, yang tertarik dalam perkembangan teknologi informasi terkini menambah semangat saya untuk menjaga ekosistem dunia startup kesehatan. Sederhananya, saya ingin kejadian pada diri saya tidak terjadi pada orang lain, cukup saya saja yang ragu, takut, dan gagal dalam menyusun strategi di zaman mahasiswanya. Dari sudut pandang perintis startup, saya selalu membandingkan waktu dan kesempatan saat menjadi mahasiswa itu ternyata lebih besar dibanding dengan ketika sudah lulus (bekerja dan/atau berumahtangga). Mengapa? Karena saat ini iklim yang ada di Indonesia memang sedang mendorong anak muda untuk berani berwirausaha. Dimulai dari masa mahasiswa tentunya menjadi nilai tambah tersendiri karena mahasiswa memilii energi yang cukup besar. Tumbuh dalam era milenial menjadikan seorang mahasiswa generasi Z mampu dengan cepat menguasi teknologi. Pikiran cabangnya paling cuman satu, lulus kuliah, udah itu aja bagi sebagian besar mahasiswa. Berbeda dengan yang sudah lulus, ada pikiran cabang lain yang bisa menguras waktu dan energi lebih banyak,paling utama adalah pekerjaan dan rumah tangga. Mendirikan startup adalah pilihan yang dilematis. Startup itu memang bisa membuat kita bebas (free). Bebas mengatur waktu tapi termasuk bebas dari uang alias ga ada pemasukannya, satu dari sekian banyak sumber masalah di kehidupan, hehe.
Cukup sekian prolog dalam proses pendirian sebuah perusahaan rintisan di bidang farmasi atau pharmacy startup.
