Cita-cita
Saya tidak akan pernah tahu hidup ini akan membawa saya ke mana.

Dulu saat saya masih sekolah, saya memunyai cita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan) atau menjadi Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Seiring berjalannya waktu, keinginan yang kuat itu melebur karena banyak faktor yang membuat saya mengurungkan niat saya untuk mencapai cita-cita itu. Yang paling menjadi kendala adalah faktor ekonomi.
Pernah suatu ketika seorang bapak yang anak-anaknya berprofesi sebagai Polisi mengatakan kepada saya, “Kamu itu cocok jadi Polwan. Postur tubuh kamu sudah proporsional untuk menjadi Polwan. Mintalah sama Bapakmu untuk daftar”. Saya hanya tersenyum dan berkata, “Uangnya mana, pak?”
Bapak ini suka melihat saya yang hobi olahraga. Di kampung halaman saya memang terkenal karena seringnya bermain voli bersama remaja-remaja yang lain yang kebanyakan adalah lelaki. Mungkin karena seringnya olahraga, sehingga tubuh saya ini menjadi proporsional dan tahan banting.
Waktu berjalan. Keinginan untuk menjadi Koki di sebuah restoran, Pegawai Bank, Wanita Karier sempat terlintas di pikiran saya. Saya memang pernah berucap kalau suatu saat saya lulus sekolah, saya tidak akan bekerja di kampung halaman, saya akan pergi merantau entah ke mana. Mungkin Tuhan memang menghendaki saya untuk bekerja di sebuah tempat bernama Cikarang sampai saat ini.
Saya memang bukan berasal dari keluarga kaya raya. Bapak dan Ibu saya hanyalah orang biasa. Bapak saya berprofesi sebagai pedagang nasi goreng di sebuah tempat yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggal. Ibu saya hanya sebagai pembuat makanan ringan yang untungnya tidak seberapa. Saat saya kelas III SMK, saya pernah menjadi Ketua Kelas. Sebenarnya saya menyesal kenapa dulu saya mau menjadi Ketua Kelas. Sampai sekarang kalau ada teman yang ingat, pasti akan memanggil saya Buket alias Ibu Ketua Kelas. Ketua Kelas yang tak becus sebenarnya. Saat menjabat eh menjadi Ketua Kelas, saya sembari berjualan makanan yang dibuat oleh ibu saya dan tetangga sebelah rumah. Jajanan seperti Molen, Pastel, Comro, Dadar gulung, Bubur Kacang Ijo menjadi dagangan saya saat itu. Rasa minder pasti ada, apalagi ketika ada teman yang mengejek saya. Tak berlangsung lama saya berjualan jajanan seperti itu. Untung yang lumayan untuk menambah uang jajan tak membuat saya meneruskan berjualan jajanan. Bukannya apa, ada beberapa teman yang tak bayar setelah mengambil dagangan saya. Jadi, kadang saya malah nombok untuk membayar jumlah dagangan yang laku kepada tetangga sebelah rumah. Ah, saya memang lugu kala itu, sekarang pun masih.
Akhirnya setelah saya lulus SMK saya mendaftar di tempat penyalur tenaga kerja yang letaknya lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Mengajukan lamaran, kemudian mendapat panggilan, mengikuti tes tertulis dan wawancara. Dari sekian ratus orang hanya berapa belas orang yang diterima, termasuk saya. Tidak ada pengalaman kerja sama sekali karena baru lulus. Waktu itu kami kira akan ditempatkan di sebuah kantor yang mengurusi masalah visa. Kami salah perkiraan, ternyata bukan visa, melainkan piza. Jadi kami akan ditempatkan di sebuah restoran piza di Cikarang.
Saya bekerja di sebuah restoran piza di Cikarang selama dua setengah tahun. Sejak Desember 2004 sampai dengan Juni 2007. Kemudian di tahun 2008 saya kembali bekerja di sebuah perusahaan swasta. Saya bekerja tanpa adanya surat lamaran. Saat itu saya hanya dihubungi oleh rekan kerja saya yang bekerja di perusahaan tersebut. Beliau juga bekerja sebagai Dosen di sebuah Lembaga Pendidikan di Cikarang. Awal saya berkenalan dengan beliau saat rekan-rekan saya nge-kos bertetangga dengan beliau. Saya sering main ke sana untuk meminjam sepeda motor teman untuk pergi kuliah. Ya, dulu saya pernah kuliah di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Cikarang. Saya mengambil jurusan Akuntansi. Saya bekerja sembari kuliah. Kadang kalau saya masuk siang, sore harinya saya izin kepada pak Manager untuk pergi kuliah. Waktu bekerja saya yang tiga jam saya lebihkan sampai malam menjelang shift terakhir untuk mengganti waktu izin. Hanya sampai semester 4 saya mengenyam pendidikan itu. Saya berhenti karena saya mendengar kabar bahwa kampus kami tidak terdaftar di BAN-PT. Banyak di antara rekan-rekan saya yang kecewa. Tapi mereka tetap meneruskan pendidikannya karena ada jaminan dari kampus induk yang akan memberikan ijazah meskipun nebeng dengan kampus lain.
Bulan Januari tahun 2008 saya mulai bekerja. Saat itu saya tidak ada latar belakang untuk bekerja di bagian Finance. Saya hanya berdoa semoga saya bisa melakukannya. Tentang Akuntansi saya hanya mempelajarinya di sekolah dan sebentar di bangku kuliah. Kalau tentang surat menyurat saya sedikit tahu karena program studi saya di SMK adalah Sekretaris. Saat itu saya bekerja untuk menggantikan rekan saya yang akan cuti melahirkan selama 3 bulan lamanya. Namanya orang masih lugu dari kampung saya lebih banyak diam, jarang ngobrol dengan rekan-rekan. Masih ingat gaji pertama saya saat itu adalah Rp500 ribu. Jumlah yang lumayan dan sangat disyukuri ketika saya berharap mendapat pekerjaan yang layak ketimbang harus berurusan dengan calo tenaga kerja atau jasa outsourcing.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya masa cuti rekan saya selesai. Saya pun mencoba melobi ke atasan apakah ada lowongan pekerjaan untuk saya. Syukurlah ada. Berlanjut sampai sekarang.
Bekerja di sebuah perusahaan swasta sangat berbeda dengan bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Dari pengalaman saya sekarang bekerja di perusahaan swasta dengan dulu pernah Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Kantor Pos dan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) banyak memberi contoh. Kalau bekerja di Pegawai Negeri Sipil sudah pasti banyak kelebihan dan kekurangannya. Suasana kerja yang tidak sepadan dengan waktu dan penghasilan kerja. Tapi, di perusahaan swasta juga kadang seperti itu sih. Hanya saja yang sering saya lihat, kalau Pegawai Negeri Sipil waktu bekerja jauh lebih sedikit ketimbang waktu “bermain”.
Saat bekerja di perusahaan swasta, kita dituntut untuk memberi hasil yang maksimal. Memberikan laporan tepat waktu. Memberikan konstribusi untuk menjadikan perusahaan itu maju. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selama masih mau berusaha, apa pun bisa dicapai. Bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan latar belakang pendidikan SLTA sebenarnya banyak suka dukanya. Sukanya pada saat kita bekerja, ilmu yang diperoleh gratis. Semakin banyak kita dipercaya untuk mengerjakan pekerjaan lain, semakin banyak ilmu yang kita peroleh.
Bekerja adalah kuliah yang dibayar
Saya bekerja sembari belajar. Belajar dan juga menghasilkan uang. Dukanya adalah saat orang lain meremehkan latar belakang pendidikan kita dan membandingkan dengan yang lulusan sarjana. Kemudian saat rekan kerja kita tak mau membantu apa yang semestinya mereka lakukan untuk kelancaran pekerjaan. Di semua tempat kerja pasti ada suatu masalah, pasti ada orang-orang yang tak suka dengan apa yang kita lakukan. Tetapi, saya terima dengan lapang dada. Itu sebagai pembelajaran hidup, katanya. Saya harus selalu bersabar menghadapi omongan-omongan yang mungkin bisa membuat semangat saya menurun. Dari berbagai karakter rekan-rekan di tempat kerja semuanya berbeda. Ada yang mau mengerti, ada yang acuh tak acuh, ada juga yang tidak peduli. Dari kesekian banyak rekan-rekan di tempat saya kerja terutama di departemen kami, sudah banyak dari mereka yang pergi. Pergi meninggalkan tempat kerja yang sekarang karena sudah mendapat pekerjaan baru yang lebih baik dari sini. Selama lebih dari enam tahun, lebih dari sepuluh orang berganti termasuk atasan saya yang sudah 3 kali berganti. Semua akan (p)indah pada waktunya. Kalimat ini yang selalu terpampang di sebuah kertas berwarna kuning di dinding partisi meja tempat kerja saya.
Dengan rekan-rekan yang sudah keluar, saya masih melakukan komunikasi dengan mereka. Tidak terlalu sering, tapi sekadar menanyakan kabar dan pekerjaan. Beberapa di antara mereka mengatakan kepada saya untuk melanjutkan kuliah. Keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi masih ada sampai sekarang. Dari beberapa tahun lalu pikiran saya masih maju mundur tentang melanjutkan kuliah. Banyak pertimbangan. Kadang saya iri dengan teman-teman yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi sampai S2. Mereka kuliah juga karena dibiayai oleh orang tua mereka yang mampu. Saya sadar, dalam hidup ini adalah sebuah kompetisi. Bagaimana saya harus bisa bersaing dengan orang-orang hebat yang jauh di atas saya. Saya juga tidak akan pernah tahu hidup ini akan membawa saya ke mana. Cita-cita itu pasti ada. Suatu saat pasti terwujud. Jadi, doakan saya semoga tahun ini saya bisa melanjutkan kuliah. :D