Demokrasi
Memilih adalah hak setiap warga negara Indonesia
Memilih bukan paksaan. Bukan pula menjadi alasan untuk saling membenci dan mencaci maki. Kita hidup dalam sebuah negara demokrasi. Negara yang dikenal dunia sebagai negara demokrasi paling baik di antara negara-negara lain. Pernahkah kita membayangkan demokrasi yang dulu dan yang sekarang? Menurut pendapat saya, demokrasi sekarang sudah lebih baik dari yang dulu.
Saya memang bukan seorang yang pandai dalam hal berpolitik apalagi kalau disuruh berdebat dengan orang lain tentang politik. Kemampuan saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan mereka yang sudah banyak makan asam garam politik. Saya masih belajar dari apa yang saya lihat, saya baca, dan saya lakukan.
Demokrasi memang luas pengertiannya. Saya hanya ingin memberi contoh demokrasi yang ada di lingkungan keluarga. Sebagai contoh dalam masa Pilpres saat ini. Kedua orang tua dan adik saya mendukung dan memilih Capres A, akan tetapi saya lebih mendukung Capres B, tapi ada kemungkinan saya untuk tidak memilih. Jadi mendukung belum tentu memilih. Karena apa? Banyak faktor yang menyebabkan saya tak bisa datang untuk memilih. Keluarga yang demokratis akan memberi kebebasan kepada anggota keluarganya untuk menentukan sikap dan pilihan. Tidak memaksakan kehendak apalagi sampai bertengkar karena hal ini.
Meskipun kami berbeda pendapat. Saling menjagokan masing-masing pilihan, tapi intinya kami masih tetap menghormati satu sama lain. Bukan karena memang ada hubungan saudara. Akan tetapi karena dalam diri kami tidak ada yang namanya istilah mempermasalahkan perbedaan pendapat. Berbeda pendapat dalam sebuah lingkup keluarga itu sudah pasti ada. Bagaimana menyikapinya adalah dengan cara yang baik, berpikir rasional, dan tidak mengedepankan emosi.
Tapi, saya yakin, di Indonesia semua rakyat masih bisa mengendalikan emosinya. Justru yang saya heran dari Pilpres tahun ini adalah setiap orang semakin dewasa dalam berpikir. Tidak ada yang namanya adu hantam di dunia nyata, melainkan di dunia maya dengan berbagai macam cara dan upaya. Satu hal yang saya tak habis pikir adalah putusnya pertemanan di dunia maya yang disebabkan karena perbedaan pendapat atau mendukung salah satu capres.
Saya memaklumi akan hal itu. Setiap orang berhak untuk mengambil keputusan yang baik untuk dirinya. Mungkin lebih baik harus seperti itu. Kembali ke masing-masing orang. Dunia maya dan dunia nyata itu berbeda. Ada batasan di antara keduanya. Serta bersikap dewasa dalam menanggapinya.
Mengutip postingan Jarar Siahaan di Google+
Tanda-tanda POLITIK telah MERACUNI pikiranmu: engkau jauhi teman-temanmu, dan saling diam, hanya karena kalian mendukung calon presiden yang berbeda.
Itu konyol, seperti siswa SMP yang bermusuhan dengan teman sekolah gara-gara status FB-nya tidak di-LIKE.
Saya perhatikan di Twitter ada beberapa “artis” media sosial yang dulunya akrab tetapi sekarang jadi bermusuhan hanya karena twit-twit soal calon presiden. Kayak anak SMP saja!

Email me when Elly Ermawati publishes or recommends stories