Tentang Rasa
Salah satu resep yang paling penting dalam masak-memasak adalah membuatnya dengan sepenuh hati
Saya memang bukan seorang koki yang ahli dalam bidang masak-memasak. Saya juga bukan seorang penggemar kuliner seperti Pak Bondan Winarno. Saya pernah menjadi koki di sebuah restoran fast food di Cikarang. Di usia 17 tahun saya meniti karier sebagai seorang Back Of the House Crew alias bagian masak-memasak dan membuat minuman. Bidang pekerjaan yang saya jalani pertama kali adalah sebagai Bartender. Membuat berbagai macam minuman ringan untuk disajikan sebagai pelengkap dari makanan pembuka, menu utama, dan menu penutup di restoran piza. Belajar di sebuah restoran yang sama di Sport Mall Kelapa Gading selama satu bulan. Berangkat dari dan pulang ke Cikarang setiap hari bersama dengan rekan-rekan lain dari berbagai daerah di pulau Jawa.
Belajar bagaimana meracik sebuah minuman siap saji dengan takaran yang benar dan rasa yang pas. Mengenal berbagai macam bahan yang disiapkan untuk membuat sebuah minuman. Bersama dua orang lainnya yang sama-sama sebagai Bartender, kami bekerja sama supaya kompak.
Perasaan gelisah, takut kalau suatu saat salah satu di antara kami akan ada yang dieliminasi karena penilaian kinerja sebelum terjun langsung ke tempat bekerja kami sesungguhnya. Lega rasanya bisa bertahan dan melanjutkan kontrak kerja kami di restoran yang akan dibuka di awal tahun 2005 saat itu.
Mr Muller, pemilik dari nama restoran fast food yang berasal dari Hawaii datang langsung ke acara pembukaan restoran di Cikarang. Berbagai macam souvenir dan piza gratis telah disediakan khusus untuk pelanggan pertama di hari pertama. Ya, saat itu kami semua merasa senang dan deg-degan. Senang karena banyak pengunjung yang datang. Deg-degan karena kali itu kami secara langsung berhadapan dengan pelanggan yang sesungguhnya.
Meskipun saya seorang Bartender, tidak harus selalu fokus dengan minuman. Kami juga harus belajar tentang menu makanan lain yang disajikan. Dengan buku setebal 10 cm kami mempelajari resep-resep yang telah disiapkan. Mengenal berbagai macam bahan dasar piza, topping, peralatan, dan lain sebagainya. Berapa takaran yang harus disiapkan dalam membuat masing-masing topping.
Seiring waktu berjalan, kami dirolling dari Bartender menjadi Cook. Kalau saya memilih, saya lebih senang menjadi Cook ketimbang menjadi Bartender. Nama-nama bahan dasar, bumbu, istilah asing, sudah hapal di luar kepala. Tanpa melihat buku resep pun kami bisa membuatnya. Hanya sesekali kalau ada menu baru yang dikirim dari pusat untuk kami pelajari lagi. Dari berbagai macam jenis piza dengan topping dan saus yang berbeda meskipun dengan mata tertutup dan mencium aromanya saja, kami bisa menebak nama dari piza itu.


Tentang rasa, sebuah masakan dalam bentuk apapun tidak sembarang membuatnya. Perlu takaran dan cara yang baik dalam mengolahnya untuk mendapatkan rasa yang pas dan sedap. Seperti membuat piza. Kali pertama yang dibuat adalah adonan untuk bagian dasar yaitu roti. Untuk mendapatkan gigitan yang crispy tidak sembarang adonan itu ditaruh dalam sebuah ruang yang suhunya asal-asalan. Sedikit saya bagi tips-nya. Sebagai contoh kita membuat sebuah adonan sebanyak 5 kg tepung terigu, dicampur dengan bumbu seperti pengembang roti, garam, dan penyedap yang sudah disiapkan. Air yang digunakan tidak sembarangan. Suhu air yang digunakan tidak lebih dari 50 derajat celcius. Takaran airnya juga tidak lebih dari 3 liter untuk mendapatkan adonan yang kalis, tidak lembek, dan tidak terlalu keras.
Adonan harus diaduk dalam mesin pengaduk selama kurang lebih 45 menit. Setelah alarm berbunyi di menit ke 45, adonan harus segera dipotong-potong, ditimbang sesuai dengan ukuran loyang. Dibagi rata sesuai dengan kondisi di pagi hari. Beberapa loyang untuk ukuran Large, Medium, dan Small. Tidak selamanya adonan ini akan dipakai, setelah lebih dari 8 jam, adonan harus segera dibuang karena lamanya waktu menentukan tingkat rasa adonan.
Setelah adonan dipipihkan dengan mesin lalu ditaruh di dalam loyang. Loyang yang telah berisi adonan ditutup dan disimpan dalam mesin penghangat dengan suhu kurang lebih 70 derajat celcius selama 45 menit supaya mengembang. Sesuai dengan garis batas yang terdapat pada loyang. Loyang yang sudah berisi adonan mengembang segera diangkat lalu dimasukkan ke dalam chiller yang suhunya sekitar 20 derajat celcius untuk menjaga supaya adonan yang sudah mengembang tetap stabil.
Saat mesin doket berbunyi, tertulis disitu pesanan dari pelanggan yang diminta. Jika pelanggan memesan 1 TUNA SESAME SEED LARGE, itu artinya kita harus mempersiapkan satu loyang adonan besar dengan Chilli Sauce, Mozarella Cheese, topping Tuna, Mushroom, dan Garlic serta ditaburi biji wijen di atasnya. Salah satu jenis piza yang menjadi kesukaan saya. Selain dari tidak terlalu banyak topping, aroma garlic dan rasa piza ini yang selalu membuat saya ketagihan apalagi kalau disajikan dalam bentuk yang tipis. Cukup satu potong saja sudah membuat kenyang.

Selain dari piza masih banyak menu yang lain seperti Salad, berbagai jenis pasta seperti Fettucini, Spaghetti, dan lain-lain memang selalu bikin ngiler jika melihatnya. Tapi, bagi kami makanan itu sudah menjadi hal yang biasa, dan tidak ada ketertarikan untuk mencoba membuat untuk diri sendiri karena memang tidak diperbolehkan.
Sekilas cerita tentang pengalaman kerja saya di sebuah restoran cepat saji. Di rumah, saya memang jarang memasak, memasak hanya saat hari libur. Itu kalau tidak ada acara dan kesibukan lain. Memasak masakan sederhana memang mengasyikkan. Masakan saya selalu dirindukan, dia (pacar) bilang jika masakan saya adalah masakan paling enak di dunia. Apa yang menyebabkan masakan saya enak? Salah satu resep yang paling penting dalam masak-memasak adalah membuatnya dengan sepenuh hati. Seperti slogan Kecap Bangau. ;)
Email me when Elly Ermawati publishes or recommends stories