Surat Yang Tidak Terkirim

Porto, 20 Januari 2015

Hey, sadarkah kamu jika tadi (untuk ke sekian kalinya) ketika di sana kau mulai terlelap, aku berulang kali mengambil gambarmu. Aku rasa, cantik yang sesungguhnya tak butuh eyeliner, lipstick, atau berbagai perangkat di meja rias dan almari. Karena toh justru dengan melihat satu lengan menopang kepalamu, mata terpejam, bibir sedikit terbuka, nafasmu mulai teratur, dan pipimu yang takluk oleh gravitasi aku melihat cantik yang tak bisa lagi aku gombalkan ke kamu.

Kamu — perempuan yang suka sekali menutupi wajah ketika kucoba merayu — seperti bicara ”aku tak percaya diri” dan aku — pria yang tak pernah lelah meyakinkanmu bahwa bahagiaku tak memandang bagaimana kamu; begitupun hati yang tak jatuh hanya pada penampilan yang rupawan, katamu. Aku setuju.

Pernah aku membaca di satu surat yang lain, si penulis berkata bahwa lelaki memang diciptakan lemah dengan matanya, namun tak berarti mereka hanya gila dengan fisik perempuan. Dengan membuatku mau meyakinkanmu, kamu sudah berhasil membuat lelaki ini tergila gila.

Aku, lelaki yang tak terlalu ambil pusing dengan fisik pasangannya, ingin menjadi lelaki hebat yang mau lebih menghargai hal kecil, yang melihat sosok perempuan seperti kamu dari hal hal kecil lalu menyukainya, yang mencintai perempuan seperti kamu dengan cara mencintai fisiknya juga, yang tak hanya menerima segala kelebihan namun juga tak menutup tangan untuk segala kekuranganmu.

Katanya untuk sekali lagi, bahwa kelebihan memang diciptakan untuk disyukuri, sedangkan kekurangan diciptakan untuk membuatku tetap ingat bahwa kamu bukanlah malaikat, tetap manusia biasa.

Ada satu kabar lain; aku rindu kamu.

Aku ingin tertidur di pangkuanmu — tempat dadaku bermain untuk mengelabuhi dingin — pengukur suhu terbaik ketika tubuhku mulai didemamkan rindu. Lalu rapal rapal doa terucap agar semua tak begitu saja terlewat.

ah, bukankah waktu tak bisa berhenti? aku harus membahagiakanmu secepat yang aku bisa, pada tiap detik yang berharga, pada tiap detak yang tak bisa kuduga. Memang tak pernah mudah menerangkan betapa aku mencintaimu. Serupa menjelaskan sebuah debar, dengan perumpamaan-perumpamaan yang belum pernah kita dengar.

Aku tak sabar bertemu denganmu bulan depan. Cepat sembuh dan jangan lupa minum air putih ya!

Servus!

_____________________________

Aku menemukan draft surat ini. Tadinya pengen aku kirim sebagai surat pertama untukmu sebelum kita berjumpa waktu itu. Tapi sekarang aku rasa percuma, toh kamu juga tidak peduli aku ada atau tidak ada.

Terimakasih sudah pernah membuat aku benar benar sayang sama kamu. Terimakasih sudah pernah memberi semangat. Sekarang waktuku buat belajar tanpa kamu.

Berbahagialah. Aku pamit.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.