Besok, aku akan jadi kafir

Jarak adzan dan iqomah yang singkat tidak cukup menarik untuk berbuat semaunya tapi di sela itu pula durasi kontrak hidup sama singkatnya. Diawali dengan adzan dan diakhiri dengan adzan, tidak ada iqomah yang menjadi penanda.

(lebih baik tulisan ini ditujukan buat si bungsu berbadan bongsor, Ainun.)

2017 tahun yang menggairahkan. Tahun ini tahun yang ideal untuk menyelesaikan masa studiku di kampus karung goni dan tahun yang tepat untuk kamu tidak melanjutkan pendidikan reguler. Aku setuju demi apapun. Bukan karena pendidikan tidak penting tapi karena sudah terlalu lama kita terbuai dengan konstruksi yang dilekatkan sampai kehilangan tujuan awal. Pendidikan yang mendidik agar terdidik. Bukan yang seperti ledik.

2017 tahun yang mengejutkan. Tahun di mana aku dikejutkan datangnya seseorang, sesuatu dan se se lainnya yang baru. Tidak lupa, seisi rumah yang mendadak kacau karena kamu pergi tanpa izin untuk menemui lelaki-lelaki yang aku sendiri akan hindari. Iya, Ainun sudah besar dan memilah-milih teman bukan pendapat yang baik kupikir. Silakan berkelana dan tetap ingat Mama.

Ain pasti belum paham ketika mempertanyakan agama apa yang sedang dianut. Ain pasti belum paham ketika tanda salib bukan sembarang tanda. Ain juga pasti belum paham kenapa semua orang di rumah marah untuk menyuruh shalat. Bagian ini aku belum bisa mengarahkan. Pencarian itu menjadi tugas individu sayangnya tapi aku akan membantu di bagian yang lain.

Ain, 2017 tidak pernah sepenting ini beberapa tahun lalu karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Hari ini seakan semuanya meledak dan isinya berceceran sampai aku jengah melihat sekelilingku berantakan. Jakarta tidak pernah tidur, Ain tahu? (Jakarta itu ibukota Indonesia sama halnya dengan Mama Dewi itu ibu kita. Semoga sampai sini Ain paham). 2017 pernah ada pilkada gubernur di Jakarta, Februari lalu. Itu lah kenapa aku pulang ke rumah dan yang lainnya berkumpul juga. Tahun ini Ain belum bisa ikut nyoblos karena belum cukup umur tapi di pemilihan-pemilihan selanjutnya Ain bebas mau bersuara apa. Ya apapun. Suarakan semuanya karena hati bukan takut dimarahi. Kemarahan mereka tidak ada apa-apanya dibanding kebebasan yang akan kamu jalani sendiri nanti. Aku akan ada di belakang seperti biasa karena kalau di sampingmu aku akan dikesalkan dengan hal menjengkelkan lainnya. Tidak akan kuat.

Perbedaan-perbedaan semakin terlihat pada tahun ini di Jakarta. Pernah ada calon pemimpin yang beragama bukan islam, itu petaka bagi beberapa. Perbedaan itu ada pada agama yang dianut, ada pada tanda yang dipakai, ada pada kitab yang dibaca. Sederhana kan? Hal-hal itu kan yang kamu pertanyakan sebelumnya? Hal yang harusnya mereka cari sendiri tapi sok mendikte. Katanya kafir kalau pemimpin bukan islam. Kafir itu tidak perlu Ain cari tahu, buang-buang waktu. Cari lagi perjalanan spiritualmu dengan cara yang damai. Katanya kafir kalau pemimpin bukan islam. Ya, Ain punya pilihan untuk mau atau tidak mendengarkan kalimat itu. Aku tidak akan memaksa.

Kalau perbedaan agama itu membuat seseorang menjadi kafir dan dibenci, Ain tahu ada yang salah disini. “Membenci tidak akan membuat kita menjadi pencinta” kalimat ini boleh Ain ingat?

Besok, aku akan jadi kafir di sela adzan dan iqomah untuk mengisi waktu. Untuk sekedar tahu bagaimana rasanya dibenci karena keyakinan dan kalau besok aku dikafirkan karena perbedaan yang lain, kamu perlu ingat, sajadah itu pernah aku bentangkan untuk kita berjamaah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.