Kau yang singgah tapi tak sungguh

Andi Mawada
Jul 30, 2017 · 2 min read

Meminjam sepenggal lirik dari Amigdala -yang kamu boleh dengar karena pantas didengar- tanpa izin pun tanpa berpikir ulang, aku jadikan pengawal racauan. Racauan yang berakar pada sebuah siang di telepon atau pada kemarin malam pada sebuah pertemuan. Percakapan yang tidak disangka meninggalkan kesan sebegitu dalam dan jauh. Pertemuan yang tidak diharapkan dan tidak bisa dihindari pada larutku yang ingin pulas. Konspirasi semesta, mereka bilang. Ah iya, juga pada sebuah siang di mesin ATM. Sejumlah angka yang tidak kusadari muncul dan membuat panik. Angka-angka yang kamu sangka pasti berupa nominal tapi bukan. Kali ini dengan berani aku bilang, alam bawah sadarku bekerja dengan serampangan. Tidak ada santun-santunnya, mengacau dan berusaha terlihat anggun.

“BAJILAAAK! KAMVREEET! KURANG AJAAAR” begitu seorang teman menanggapi whatsappku. Aku hanya tertawa dan bertanya di bagian mananya dia bisa sesewot itu.

Kamu tidak perlu tahu cerita itu tentang apa. Kamu hanya perlu sibuk berbagi dan menyadari. Berbagi hal baik yang bisa kamu berikan dan menyadari hal-hal yang sedang kamu hadapi. Kadang, menjadi keras kepala dan minim kepekaan butuh dilempar kursi aja rasanya. Bukan pernyataan-pernyataan sengit yang merusak rasa syukur sebelumnya.

Buang-buang waktu itu tidak benar-benar ada tapi memulai semuanya dari awal? Hmhhh semoga aku bukan sisifus yang kamu bayangkan bahagia. Setelah muak dengan semua kemawutan, aku akan bertanya dimana ujungnya. Setelah ujungnya terlihat tapi nyatanya itu tidak berhenti begitu saja. Talinya menyambung ke bagian yang lain seperti daratan-daratan yang dipisahkan lautan juga bibir pantai yang kewalahan didatangi ombak, sebentar basah sebentar kering dengan format pasir yang berbeda.

Aku mencoba mengumpulkan alasan-alasan kalau aku bertahan dengan lepas; tidak ada rasa malu karena teman-teman yang diganggu, tidak ada berita opname-opname kampungan di tengah malam, tidak ada yang membatasi anakmu yang keras adat ini untuk berbagi kasih pada porsinya, Ma. Percakapan di telepon siang tadi tetap menyenangkan seperti percakapan-percakapan lainnya. Walaupun masih campur tawa beliau menutup dengan “tuh PR nya udah banyak ya harus begini harus begitu semua-muanya yang lebih baik…” ya, tetap sengit. Tidak mau kalah, aku membalas kalau aku tuan rumahnya, aku yang akan merapel beberapa PR itu. Aku yang mempersilakan rumahku menjadi tempat singgah seperti warung kopi atau bungalow atau bentuk lainnya. Sayang, bukan kapasitasku untuk menentukan siapa yang datang.


“Tapi yang baik menurut kita kan belum tentu baik menurut Tuhan…” aku membalas chatnya — dan masih tertawa.

    Andi Mawada

    Written by

    I’m sickening of survive then i let my soul go first by writing.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade