[Bulan Agustus]

Nanti, kelak kamu akan lecet dan berdarah-darah di pelipis kananmu, aku tidak tahu, kamu akan tetap terseok-seok. Pekan lalu dijelaskan dan dikeluarkan teriakan-teriakan sampah di pinggir jalan, pemuda bersepeda menghampiri dan menasihati, aku berteriak dan kamu menyembunyikan geraman yang sebelumnya kamu siapkan untuk adu kuat pita suara.

Nanti, kelak kamu akan beranjak dan menuju tempat yang isinya sudah dipesan sesuai hawa nafsu, aku tidak tahu, kamu akan tetap merasa kekurangan. Aku bisa mendengar baut-baut di antara ban mobil yang melaju kencang itu berbunyi tapi tidak dengan ceritamu tentang dada seorang perempuan yang semakin menarik saat tangannya sedang mengikat rambut ke belakang. Sayangnya aku tertawa dan kamu tetap tidak ingin menyuruhku pulang lalu mengamati perempuan sekitar yang menguncir rambutnya ke belakang lalu melihat bentuk dadanya. Ini kelewatan, pikirku sendiri. Ini kelewatan. Ingin sekali aku ke ruang karyawan dan mengambil obeng atau sendok makan atau bahkan sendok garam untuk mencongkel matamu yang kemerahan itu. Bukan masalah bentuk dada perempuan yang sedang diperhatikan itu tetapi kamu yang tidak ingin menyuruhku pulang padahal sudah malam.

Suara sekumpulan ABG yang mengganggu ketenanganku di samping rumah pernah aku balas dengan makian dan seember air dari teras rumah. Mereka bubar dan kamu menyusul datang, menyesal karena membuat amarahku keluar seperti bunyi ceret air yang mendidih atau suara gerobak kue putu yang sekian oktaf. Sekarang sudah tidak ada nanti karena sekarang aku tidak tahu dengan nanti yang sudah dikatakan sebelumnya, lagian itu hanya bualan. Kamu tahu aku tidak pintar membual tapi aku suka melihatmu dari kejauhan saja. Ternyata aku tidak perlu tahu nanti karena aku suka melihatmu dari kejauhan saja. Tunggu.. aku kira aku mulai membual.

Kamu masih percaya kalau bualan itu artinya menggoda? Kalau begitu besok kita harus pergi mencari mata air dari tujuh tempat berbeda sebelum jam makan siang karena nanti akan macet dan panas, aku tidak suka keringetan pasti aroma badanku seperti bekicot. Sampai di sana, kamu yang harus meminum seteguk dari setiap mata air itu, aku tidak perlu menemani sampai ketemu. Usahaku sebatas memberikan informasi dan menemani di perjalanan saja, lagipula aku lebih suka melihatmu dari kejauhan saja.

Tetap di mata air itu dan mencipta jarak, aku ingin makan siang sebentar.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.