Makan Malam Bahagia

Saat makan malam, kami — aku, Riana, Ayah dan Ibu biasa membicarakan apa saja hal yang terjadi hari itu. Kami bercengkrama dan menyantap hidangan ayah yang luar biasa lezat. Sayang tidak pada malam ini, ayah tetap memasak hidangan yang enak namun percakapan kami tidak seperti biasanya. Ibu baru saja mengatakan hal yang tidak masuk akal dan aku berharap Tuhan membuatku tuli saat itu juga.

“Ibu ulangi, Ibu mau berhenti menjadi Ibu” tidak ada satu katapun yang aku mengerti dari kalimat Ibu.
“Mmm..Ibu ingin bercerai dengan Ayah?” Riana, kakak ku yang paling cerdas di keluarga ini dan baru saja masuk sekolah tinggi intelijen negara bertanya dengan santai, dalam keadaan masih mengunyah perkedel jagung.
Engga, Ibu ingin pulang ke rumah Eyang Putri dan tinggal disana mulai akhir bulan ini”
“Mmmh hingga?” Riana masih mengunyah.
“Ibu belum menentukan.” Ibu menatap Ayah di seberang meja. Ayah menaruh sendok di atas piring dan menyeka mulutnya, ia sudah selesai makan. 
“Ibu kalian butuh istirahat. Jadi hanya Ayah yang kalian punya selama Ibu di rumah Eyang” Ayah berkata sambil menaruh potongan buah jambu ke pisin dan membagikannya kepada kami bertiga. Riana mengangguk dan mulai memakan buah jambu. Ibu tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya kepadaku yang masih tidak dapat mencerna — bukan makanan yang ada di dalam perutku, melainkan percakapan absurd ini.

Aku berpikir keras apa yang membuat Ibu ingin pergi dari rumah ini, apa yang membuat Ibu tidak bahagia, apa yang membuat Ibu ingin berhenti menjadi Ibu di keluarga ini? Apakah ini hal yang normal? Tidak menurutku. Riana adalah anak sulung dambaan semua Ibu ibu di kompleks rumah ini, ia cerdas, cantik dan ramah. Ayah mantan koki hotel mewah di pusat kota yang kabarnya hampir memiliki bintang michelin. Aku, anak yang berprestasi rata rata, bersekolah di sekolah negeri terbaik dan mendapat beasiswa.

“Apa yang kurang dari kami untuk Ibu?” Pertanyaan ini meluncur begitu saja dari mulutku hingga Ayah dan Riana melotot. Ibu berdehem kemudian menggenggam tanganku yang gemetar, membuatku menoleh dan menatap lekat kedua matanya.
“Tidak ada. Kalian sempurna di mata Ibu.”
“Lalu kenapa Ibu mau pergi? Kenapa Ibu mau berhenti jadi Ibu? Kalau kami sempurna, kenapa Ibu masih tidak bahagia juga?”
“Mira jaga nada bicaramu” Ayah mengingatkanku.
“Mira, wajahmu pucat ‘Nak. Jangan terlalu khawatir dan berpikir terlalu jauh. Ibu memang tidak merasa bahagia, tapi ini bukan salah siapapun diantara kamu, Riana dan Ayah”
“Mau tidak dipikirkan bagaimana? Ibu membawa percakapan ini saat makan malam keluarga yang seharusnya mendekatkan sebuah keluarga.. ini sama saja Ibu membuat aku tidak bahagia!”
“Mira jangan berteriak kepada Ibu!” Riana membentakku. 
“Ibu bahkan sudah berhenti jadi Ibu, Riana!” 
“Ibu tetap akan menghubungi kamu, Riana dan Ayah. Kalian juga bisa mengunjungi Ibu di rumah Eyang saat liburan” Ibu tersenyum kepadaku. 
Aku mulai merasakan keringat dingin turun dari pelipis dahi dan merasa mual. Wajah Riana diseberang terlihat memburam.
“Kalau..”
“Ya?”
“Kalau Ibu berhenti jadi Ibu..aku harus memanggil Ibu apa?”

Semua bergeming dan menjadi gelap.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.