Membunuh Rindu

Sering saya berjumpa dengan kawan lama semasa sekolah. Perjumpaan kami selalu tidak direncanakan. Kami berjumpa saat menunggu bus di halte, saat berbelanja, dan saat saya pergi ke konvensi atau acara di lapangan luas. Perjumpaan ini saya rasakan aneh. Karena kami tidak merencanakan tempat kami berjumpa, semua tempat tersebut adalah umum; publik dan penuh sesak orang. Namun, Tuhan memperjumpakan kami.

Aneh yang lainnya adalah saat saya berjumpa kawan lama, mereka selalu menanyakan hal yang sama.

“Kemana saja?”

“Kenapa sulit sekali dihubungi?”

“Kontak selalu ganti ya?”

Dengan kalimat yang sama saya selalu menjawab.

“Maaf, saya lupa memberi kabar”.

Sebenarnya jawaban tersebut tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan beruntun yang mereka berikan. Namun mereka tetap ber’ooh’ dan ‘oke’ kemudian meminta kontak saya setelah diberi penjelasan begitu. Sebenarnya pertanyaan beruntun itu ingin saya jawab dengan tanya pula, ‘untuk apa?’.

Untuk apa mereka tahu kontak saya, untuk apa mereka tahu hal yang saya lakukan sekarang ini dan untuk apa keingintahuan itu penting dalam hidup mereka ?

Jujur, saya bukan penggemar dari perkumpulan alumni atau geng karena ya dulu saya berpindah sekolah cukup sering. Orang lain menyimpan kontak sesama teman sekelas karena takut kehilangan mereka di masa depan, namun saya — di semester ajaran berikutnya akan pindah dan segera mendapatkan kawan serupa yang dapat mengisi kekosongan pemeran kawan lama dari sekolah sebelumnya. Dalam hitungan hari kawan lama tergantikan. Hanya nama, penampilan dan alamat saja yang berbeda. Itu sebabnya tidak ada basa-basi dalam hidup pertemanan saya. Tidak pernah pula saya mengeluarkan tenaga lebih untuk mengikat tali pertemanan. Mungkin terkesan angkuh, tetapi tidak ada kawan yang memiliki tempat spesial di kehidupan saya sehingga saya harus menerus menjaga kontak dengan mereka.

Pernah saya merasa kehilangan kawan namun toh manusia di dunia ada banyak, bahkan konon satu orang memiliki 7 kembaran tersebar di seluruh dunia, maka saya pasti akan tetap dapat kawan yang sama meski berbeda penampilan atau identitas.

Mungkin saat mereka — kawan lama saya membaca tulisan ini, mereka akan memaki dan mengumpat dalam hati atau langsung secara pribadi bila mereka memiliki kontak saya. Atau mungkin mereka akan menghargai dan memberi jarak untuk berpikir mengenai maksud saya membuat tulisan ini.

Maksud saya untuk menyampaikan alasan mengapa begitu sulit mereka mengontak dan berjumpa dengan saya. Alasannya adalah karena teman begitu mudah terganti bila (terpaksa) ditinggalkan, dan juga mudah dicari bila diinginkan — saya adalah keduanya.

Yang saya lakukan hanya membuat mereka bertanya-tanya tanpa kabar hingga rindu sudah tak sabar dan ingin bergegas menyapa; sebuah usaha agar saya tidak mudah terganti bila mereka atau saya terpaksa pergi. Saya tidak ingin sendiri, atau bersikap anti sosial dan kurang ajar. Saya hanya anak baru yang ingin dirindu oleh kawan dari semua tempat yang pernah saya singgahi.

Lagipula, sedikit rindu tidak akan membunuh bukan?

Like what you read? Give Zulfa Noor a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.