It Was Love by 지코

The Last Session / Sesi Terakhir
“We can start now. Please tell me your story”
“My story?”

Dokter mengeluarkan buku harian pasien dan mulai mencatat. Buku harian itu merekap kondisi pasiennya yang berusia 37 tahun, seorang ilustrator di perusahaan desain ternama, dan pengidap Antisocial Personality Disorder.
“Do I have to? I think I only need a prescription after 6 months counseling”
Dokter itu masih sibuk menulis dan membolak balik halaman. Dilihatnya kembali rekapan setiap sesi pertemuan. Pasiennya berpindah duduk ke sofa dan merebahkan kepalanya karena menunggu lama jawaban sang Dokter.
Aku tidak akan menceritakan mimpi buruk itu. Mimpi buruk yang nyata, selalu hadir selama dua puluh tahun hidupku.
Dokter itu menaruh buku harian dan melepas kacamatanya.
“I can’t give you any more prescriptions if you’re not having a progress. Why don’t you tell me the truth? You may here because your company said this is an APD, but I haven’t heard from you yet”
Pasien itu memandang atap ruangan yang berhiaskan lampu gantung. Dia tidak pernah memperhatikan lampu itu sebelumnya. Atau mungkin dia tidak ingin melihatnya sama sekali.
“Will you end this session and write good evaluation if I tell you my story? I really need a Sunday so it feels like weekend again”
“Only if you tell the truth”
Cerita pun dimulai.


“Anda kena disiplin lagi?”
Seluruh kelas mendadak riuh. Semua anak berkumpul di jendela, melihat seseorang sedang membersihkan kandang kelinci. Namun kali ini mereka tidak menertawakan Anda, yang biasa menjadi biang onar karena melawan guru bahkan mendikte. 
“Daru, kamu ‘gak bantuin Anda? Kasihan dia”
Ketua kelas bertanya kepada Daru, murid pendiam yang selalu menjadi sekretaris dan kesayangan para guru karena kepintarannya.
“Masa bodoh. Kalau kamu kasihan, kamu bantu Anda saja sendiri”
Daru mengambil tas dan pergi. Terdengar seisi kelas yang menggerutu saat ia menutup pintu. 
Mengadakan pentas seni di minggu ujian dengan uang yayasan adalah hal terbodoh yang bisa terpikirkan oleh seseorang. Apalagi orang tersebut adalah murid yang akan ujian, dan juga penggiat acara pentas seni.
Daru menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dia harus segera menuju tempat les karena hari ini ada soal matematika yang harus dibahas.

“Mereka pikir anak SMA ‘gak bisa bikin pentas seni? Toh ujian juga selesai di hari jumat pagi, Sabtu atau Minggu nya bisa dipakai”
Anda masih menyapu kotoran kelinci yang berserakan di taman. Daru berhenti saat mendengar Anda yang masih tidak terima proposal pentas seni nya ditolak dan justru dia dihukum karenanya.
“Memang bisa, tapi memang kamu tidak belajar? Tidak ikut ujian?”
Anda menengok, mencari suara Daru.
“Ya ujian tetap ikut! Pentas bisa direncanakan setiap pulang sekolah. Yang kita butuhkan panitia yang berkomitmen dan kompeten”
Daru melihat anak kelas yang masih bertengger di jendela kelas lantai dua. Kemudian menunjuk mereka.
“Kamu lihat panitia mu disana? Mereka menyuruhku untuk membantu mu membersihkan tahi kelinci karena mereka jijik, karena mereka tidak mau kena dispensasi. Rapor merah atau nilai yang sedikit di atas rata rata tidak sebanding dengan pentas seni kurang biaya. Mereka juga belum tentu mau meminjamkanmu catatan dan mengajarimu soal integral — ”
“Kamu suruh aku berhenti kan? Kamu pasti kiriman guru BK! Justru orang kayak kamu yang buat semua orang malas! Jangan salahkan yang lain kalau kamu pengecut”
Anda memotong kalimat Daru dengan suara lantang layaknya provokator dalam demo di alun alun kota, wajahnya pun berubah menjadi merah. Terlihat dengan jelas dia tidak bisa mengontrol emosinya.
“Mereka tidak akan membantu dan mengajarimu apapun karena mereka bodoh. Mereka tidak tahu cara menyusun proposal, dan takut dengan guru. Merekalah yang pengecut. Sedangkan aku berbeda, terutama dengan murid yang kena disiplin lebih banyak dari menghadiri upacara bendera di hari Senin”

Anda berdiri termangu. 
Mungkin perkataanku terlalu kejam padanya. ‘Duh kebiasaan buruk ini.
“Ah — maksudku”
Anda melemparkan sapu ke tanah dan mengambil sesuatu dari tasnya dengan terburu buru, menyodorkannya kepada Daru. Kertas Susunan Acara Pentas Seni SMA Mara.
“Kalau kamu memang berbeda, coba buktikan. Bantu acara ini dengan kepintaranmu. Aku akui wajahku ini sudah terlalu sering disamakan dengan pembolos. Sulit untuk para guru mendengarku”
Daru pikir, Anda akan marah atas perkataannya yang menghina. Namun dia justru meminta bantuan. Dengan tatapan matanya yang membesar dan nada suara pelan yang terdengar hampir menyerah.


“Terus ke sebelah kiri! IYA KIRI! YA SUDAH PAS!”
Anda memberi aba aba kepada panitia yang sedang memasang banner di panggung. Hari ini adalah hari Minggu, di mana acara pentas seni akan berlangsung.
“Anda kamu tahu kan fungsinya pengeras suara yang kamu pegang?”
Daru menghampiri Anda yang tertawa sambil mengangkat pengeras suara. Mengarahkannya kepada Daru seperti senapan. Dia terlihat sangat ceria meskipun berpeluh keringat.
“Aku tidak bisa pakai benda seperti ini. Lagipula hari ini terakhir kalinya mereka akan mendengar teriakanku.”
“Oh betul juga. Besok Senin kita sudah mulai cari Universitas ya. Tapi kan masih ada pesta perpisahan hari Sabtu depan?”
“Hari itu aku tidak bisa datang. Aku akan pergi.”
“Ya, aku tahu kamu akan pergi kemana. Tapi sepertinya tidak secepat itu?”
Anda tersenyum dan menyuruh Daru untuk memulai acara. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.50, acara akan dimulai 10 menit lagi. Mimbar sudah disediakan di atas panggung. Seharusnya Anda bersiap siap untuk memberikan sambutan namun dia memilih Daru yang menyampaikannya.

Acara berlangsung dengan sukses. Pertunjukan wayang dan pembacaan puisi karya penyair terpilih berakhir dengan tepuk tangan riuh dari hadirin. Tidak terasa sudah pukul 22.15, panggung sedang dibereskan dan atribut lainnya mulai di lepas dari auditorium. Di tengah ramainya panitia yang sibuk yang berhilir mudik, Daru tidak melihat Anda di manapun.
“Anda? Dia tadi bilang mau ke toilet.”
Ketua kelas menunjuk arah toilet yang berada di belakang gedung auditorium. Aneh rasanya memilih toilet di luar, karena di toilet auditorium terlihat tidak ramai. 
“Kayaknya dia kebelet. Ditanya pun ‘gak jawab. Coba aja kamu cek.”
Daru mengangguk dan menghampiri Anda. Toilet di luar jarang dipakai oleh murid, kecuali memang toilet dalam ruangan sedang penuh. Karena itu toilet umum, tidak ada papan penunjuk pria atau perempuan, WC nya bermodel jongkok, dan ruangannya masih berbentuk bilik yang agak terbuka di dekat atapnya. Lampu toilet pun hanya berupa bohlam yang tersambung kabel dan di kaitkan ke balok kayu seadanya. Namun Daru tidak terlihat cahaya lampu dari kejauhan. Ia kemudian menyalakan senter dan berjalan sambil mengarahkannya ke atap toilet, lampunya mati.
“Anda?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kamu sembelit, aku bisa balik lagi nanti. Tapi ini ambil senternya.”
Masih tidak ada jawaban.
“Nanti ada yang ingin aku bicarakan. Soal pesta perpisahan Sabtu depan. Aku tahu kamu masih bisa ikut, mungkin nanti aku yang izinkan ke orangtua mu. Hei, Anda kamu dengar ‘gak?”
Tuk.. 
Daru mengetuk pintu toilet yang ternyata sudah terbuka. Dilihatnya Anda sedang tergantung. Lehernya terlilit tali tambang yang disangkutkan ke balok kayu tempat bohlam berada. Daru dengan segera mengangkat tubuh Anda dan berteriak sekencang yang dia bisa. Ketua kelas dan panitia lain pun segera berdatangan. Saat sudah dibaringkan, Daru masih dapat merasakan detak jantung Anda meskipun nyaris sunyi. Para guru yang masih ada di sekolah segera menyalakan mobil dan membawa Anda ke RS terdekat. Daru membuka pintu mobil namun dicegah oleh wali kelas.
“Daru kamu tidak bisa ikut! Semua guru harus ke RS dan menemui orangtua Anda. Tolong awasi dan segera selesaikan semuanya!”
Wali kelas langsung menjalankan mobil dan meninggalkan sekolah. Daru menangis dan tangannya dingin gemetaran. Tidak terlihat raut wajah serius dan penuh kendali seperti Daru biasanya. Air mata bercucuran tiada henti, namun tubuhnya bergeming.
Anda tidak boleh meninggal.
Ketua kelas menepuk pundak Daru dan memberi kunci motor miliknya.
“Daru, kamu bisa pergi menyusul ke RS. Biar aku yang ambil alih.” 
Daru mengambil kunci motor dan langsung melesat pergi.


“Then what happened?”
Dokter memecah keheningan di udara. Air mata pasiennya terus menerus bertetesan dari pelupuk mata. Seakan sudah tidak sanggup lagi membendung air mata dari dua puluh tahun yang lalu.
“Someone got killed and it was me”
“But you didn’t killed — ”
“It was me! I killed someone! I killed him, Doctor! I killed Daru..”

Dokter berdiri dari kursinya dan menghampiri Anda di sofa. Diambilnya jurnal berwarna hitam yang jatuh dari genggaman. Andaru Septian, Kelas XII SMA MARA, tertera di sampul depan jurnal. Dibukanya halaman jurnal satu persatu. Semua tertulis dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Sampai pada ke halaman terakhir yang semuanya ditulis dalam bahasa Inggris.

I’m going to write today’s journal in english. Since I heard Anda is going to Australia. I overheard the teachers’ conversation after the last meeting. I asked her how she gets to study abroad and she told me to shut up. Andayani Putri, she’s bad at almost all subjects except english, maybe that’s how she gets in. I wonder how she will react tomorrow when I confess. Yes, I will confess in english! She doesn’t necessarily have to answer, I only need her to listen. I’m Daru anyway, I’m different. I won’t die just because unrequited love.

Dokter Gustav menutup jurnal dan menaruhnya di meja. Tatapannya kembali kepada Anda.
“My parents said, it was miracle I’m still alive after 10 minutes hung. But I’d rather died right away at that time. Because I asked for it! I wanted to die but why Daru who wanted to live, die instead?” 
Anda bangun dari sofa dan duduk bersampingan dengan Dokter. Ia melihat Dokter yang sedang menunduk. Kedua tangannya terkepal, sangat erat hingga urat nya yang berwarna biru pucat timbul dengan jelas.
“He drove to the hospital and a sleepy fucking truck driver crashed into him while he was waiting the green light. He was a good kid, while I’m a bastard child whose parents wanted to send her away! I hung myself because I had enough..”
Dokter masih menunduk. Ia mengambil kembali jurnal Daru di meja. Anda berteriak dan mengguncang pundak Dokter.
“How was that fair, Doctor? Tell me how could I live with that for twenty years? What pills can get me off of this nightmare? I’ve been living like a dead person since Daru’s funeral but I’m still here”

Dokter melepaskan cengkraman Anda di pundaknya. 
“Anda, you don’t have APD. You’re griefing for twenty years. You could live better, without any pills. It’s not fair for him. He saved you and you are so regretful, even angry for his good deed. That’s not fair for Daru”
Anda menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis dengan suara pilu yang universal, yang dapat dirasakan sebagai kehilangan teramat sangat. 
“You want today as the last session, then it should ends here. Your grief should end now”
Dokter itu kemudian menyerahkan jurnal Daru beserta pulpen. Anda tepekur sesaat, Dokter itu mengangguk mengiyakan untuk Anda menulis sesuatu di akhir halaman jurnal,

I love you too, Daru. And thank you.


EPILOG

Seorang ibu paruh baya, menghampiri Anda yang tengah memasukkan kopernya ke bagasi mobil. Ia akan segera meninggalkan Indonesia sehingga tidak banyak orang yang menjumpainya. Namun Ibu itu terlihat familiar. 
“Andayani Putri? Yang absennya di bawah Andaru?”
Di pemakaman. Anda pernah melihat Ibu itu di pemakaman Andaru.
“Iya betul, saya.”
Ibu itu menarik nafas lega dan mengeluarkan jurnal hitam dari tasnya. Menyerahkannya kepada Anda, terlihat keriput halus di sekitar matanya yang sembab. Ibu itu tersenyum dengan senyuman setulus yang Anda pernah lihat saat Daru menyapanya di malam pentas seni. 
“Daru selalu menulis buku harian setiap hari, dulu waktu SD dia sulit bicara jadi dokter kasih terapi menulis, eh hingga SMA keterusan. Daru sebenarnya anak yang cerewet dan ramah. ‘Nak Anda bisa baca sendiri dari tulisannya. Ibu ingin kasih ini, karena Daru selalu menulis tentang Anda. Ibu juga tidak mengerti tulisan Daru di halaman terakhir. Jadi mungkin itu pesan khusus untuk Anda. Maka lebih baik, Anda yang simpan buku ini”
Anda diam termangu. Ia mengambil jurnal Daru dan membuka halaman terakhir, membacanya seksama. Kemudian dia menangis dan memeluk Ibu Daru. Meminta maaf tanpa henti dengan suara parau. 
“Tidak apa, Nak. Semua sudah kehendak Tuhan”
Ibu Daru mengusap kepala Anda dan berbisik di telinga, memintanya untuk tetap sehat, tidak telat makan dan selalu berdoa.

Berdoa untuk Daru dan Anda.

*Cerita pendek pertama yang akhirnya tuntas juga. Terimakasih telah membaca.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.