***
Jasmine Rose Pov
Lelaki yang kucinta sedang tertidur disampingku. Mungkin dia lelah karena percintaan kami. Aku hidup bersamanya sudah 2 tahun lebih. Dia memperlakukanku dengan baik selama ini. Membiayai kuliahku dan juga hidupku. Dia adalah lelaki pekerja keras di usianya yang masih muda sudah memiliki pekerjaan. Tapi aku membuatnya marah, dia sudah menekankan padaku tak ingin punya anak dalam hubungan kami. Tapi aku melanggarnya. Keinginanku untuk bersamanya sangat besar. Untuk kedua kalinya dia memintaku menggugurkan kandunganku. Tapi kali ini aku tidak bisa. Aku menginginkan anak darinya. Aku ingin menjadi wanita yang istimewa untuknya.
Tak terasa air mataku mengalir. Segera kuhapus air mataku lalu memaksakan diriku tertidur. Ku rasakan kasur kami bergerak. Noah memelukku, Aku merasa bahagia jika dia seperti ini. Kumohon biarkan malam ini bertahan lebih lama tuhan.
***
Ketika fajar menyingsing, aku terbangun kulihat dia sudah rapi. Aku tidak tahu ia mau kemana tapi aku yakin dia akan ke kampus. Sekarang dia sangat sibuk mengurus tesisnya.
"Sudah bangun ??". Tanya lelaki yang kucinta. Ku coba untuk mengukir senyum di bibirku.
"Jangan lupa ke dokter kandungan nanti. Aku tidak suka melihat tonjolan perutmu itu. Kau sangat jelek dengan bentuk tubuh anehmu itu". Jelasnya. Jika ku tolak dia akan marah lagi. Terpaksa aku memilih untuk diam.
Dia melangkah pergi meninggalkanku.
Lelaki itu masih mengatakan hal mengerikan itu lagi. Rasanya begitu mengiris hatiku. Apa aku tidak pantas menjadi seorang ibu ??. Aku termenung sesaat. Lalu ku putuskan untuk menemui dokter kandungan.
Pandanganku kosong, meski kota Cambridge sangat indah, Semua itu terasa buruk. Duniaku buruk ketika lelaki yang ku cinta tak menginginkan cinta yang abadi bersamaku.
"Kita sudah sampai". Kata supir taxi yang membangunkanku dari khayalan bodohku.
"Ini kliniknya ??". Tanyaku.
"Ya, ini klinik yang paling dekat nona". Jelasnya.
Perlahan aku keluar dari taxi. "Terima kasih".
Kataku pada supir taxi. "Sama-sama". Jawabnya lalu pergi meninggalkanku.
***
Ku ambil nomor antrian lalu menunggu giliranku. Tak berlangsung lama menunggu seorang asisten dokter memanggilku. "Nona Jasmine rose !!". Teriaknya.
"Ya". Kataku sambil berjalan masuk ruangan. Asisten itu tersenyum padaku. "Kini giliran anda". Katanya. Aku membalas senyumnya lalu masuk.
Ku pandangi dokter kandungan muda di depanku. Kurasa dia seumuran dengan Noah. Kulihat name tagnya. Disana tertulis nama Tobias Carlo A. Dokter itu menatapku.
"Kamu sendirian ?". Tanyanya dengan akrab.
"Single parent". Jawabku menjelaskan kondisiku.
"Wow, wanita secantikmu harus merawat anak sendirian !!, malang sekali". Katanya padaku membuat aku muak dengan kalimatnya.
"Aku ingin aborsi !!". Kataku mengungkapkan inti permasalahannya. Jujur saja aku tidak rela melakukan ini. Tapi aku terlalu menyayangi Noah. Dia terdiam sejenak kulihat tangannya mengepal.
Aku sangat kaget saat dokter itu memukul meja. "Aku tidak pernah membunuh !! Aku adalah dokter !!, jangan pernah menghina karir saya". Katanya dengan tegas. Nada bicara menunjukkan bahwa dia sedang marah. Aku menunduk lalu dengan tidak tahu dirinya aku menangis.
"Apakah kau pernah mencintai seseorang ?? Jika kau pernah pasti kau akan mengerti masalahku". Kataku dengan linangan air mata. Dokter itu mendekatiku, tangannya mengelus punggungku.
"Aku mengerti tapi membunuhnya bukan solusinya. Apa kau tahu resiko dari aborsi ?? Kau bisa mati. Nyawa adalah taruhannya". Jelasnya. Aku menepis tangannya.
"Kau tidak mengerti !!". Balasku lalu pergi meninggalkannya.
Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Bahkan aku tidak berani pulang jika perutku masih menonjol, meskipun tonjolannya tidak terlalu besar tapi tetap saja pada intinya noah akan berbuat kasar jika melihat kondisiku ini belum berubah. Akhirnya ku putuskan untuk ke rumah teman baikku yang bernama Victoria. Ayahnya victoria adalah pebisnis kaya asal tiongkok yang melebarkan sayap bisnisnya ke Inggris. Karena itulah dia memilih kuliah di kota idaman ini.
Rumah victoria tidak terlalu jauh dari klinik tadi. Waktu yang ku tempuh hanya berkisar hitungan menit. Hingga aku sampai. Di halaman rumah, ada mobil yang mirip dengan mobil noah. Tapi rasanya mustahil dia ke rumah temanku. Itu tidak mungkin terjadi. Kulangkahkan kakiku menuju depan pintu. Ku tekan tombol layar di depan rumahnya lalu muncul seorang wanita tua. "Cari siapa ??". Tanyanya.
"Victoria. Aku Jasmine. Temannya". Jelasku.
"Oke. Tunggu sebentar !!". Balasnya.
Beberapa menit kemudian pintu di buka oleh wanita yang tadi kulihat di layar. "Masuk !!". Pintanya lalu membimbingku masuk. Di ruang tamu kulihat ayah victoria berbicara dengan seorang pria. Ayah victoria menyapaku. "Hey gadis cantik, kau datang lagi !! Masuklah, victoria ada di kamar". Jelasnya. Lelaki di depannya berbalik melihatku. Ternyata pria itu adalah noah. Aku ketakutan karena tatapan noah bagaikan singa yang akan menerkamku. Aku menunduk lalu berjalan masuk ke kamar Victoria. Aku tidak mengerti kenapa dia ke rumah victoria. Apa selama ini dia bekerja di perusahaan ayah victoria ??. Entahlah. Aku hanya harus menyiapkan penjelasan untuknya.
"Hey jasmine !!". Seru victoria lalu memelukku.
"Aku merindukanmu!!". Tambahnya.
"Aku juga". Balasku.
"Masalah pacarmu lagi ??". Tanyanya menebak kedatanganku.
"Bukan pacar tapi lelaki yang ku cinta". Kataku memperbaiki.
"Sama saja". Balasnya. Sejujurnya itu berbeda. Pacar adalah orang yang mencintai kita sedang kan dalam hubungan kami hanya aku yang menyimpan cinta. Miris, membayangkannya saja air mataku sudah antri ingin keluar. Aku memang lebih lemah dari kebanyakan wanita inggris. Mungkin akulah yang paling rapuh diantara mereka.
"Aku hamil lagi !! Dan dia memintaku aborsi !!". Kataku padanya.
"Jasmine, dia pasti akan menerima kenyataan ini. Pokoknya jangan aborsi dan yakinkan dia !!". Nasihatnya padaku.
"Apa menurutmu dia akan luluh ??". Tanyaku dengan polosnya.
"Tentu saja. Seluruh pria akan luluh dengan kecantikanmu". Balasnya padaku.
"Terima kasih, Victoria. Semoga kamu benar". Kataku sambil mengukir senyum. Bersama victoria, dia selalu membuatku terbang dengan pujiannya. Meski dalam realitas itu bukan fakta. Tapi aku cukup senang setidaknya masih ada yang memujiku.
"Lebih baik kita ke salon. Buat pacarmu luluh. Kau akan semakin cantik!!". Ajaknya. Dengan senang hati, aku menerima ajakan itu.
***
Waktu yang ku habiskan di salon cukup lama. Aku pulang ke rumah pukul 07:00 malam. Biasanya Noah belum pulang, jadi aku bisa istirahat sebentar sebelum membujuknya. Ku harap saran victoria berhasil.
Ku buka pintu apartemen noah dengan password tanggal pertama kali kami bercinta. Itu memang password yang aneh bahkan mungkin vulgar. Dengan senyum manisku, aku masuk ke dalam apartemen.
"Dari mana kamu ??". Suara menakutkan itu mengagetkanku. Aku berbalik melihat ke arah sofa. Disana Noah sedang minum anggur. "Aku ke rumah teman". Jawabku dengan intonasi rendah nyaris tak di dengar. Noah berdiri dan mendekat ke arahku. "Kau berani pergi tanpa meminta izin dariku hah !!". Teriaknya.
"Noah ... aku hanya..." aku gugup. Noah memegangi perutku.
"Hanya apa ?? Kau bahkan tidak menuruti perintahku!!". Bentaknya lalu menamparku. Rasanya sangat ngilu.
"Maaf .?? Hanya itu". Tanyanya penuh amarah.
Matanya melotot membuatku merinding. Dia mencekik leherku dan menyandarkanku di dinding. Rasanya sangat sesak, semakin lama dan kurasa aku akan mati, ku pejamkan mataku. Aku tak ingin menatapnya, Kini kusadari lelaki yang kucinta adalah seorang psikopat. Tiba-tiba dia melepas tangannya. Rasanya kerongkonganku kering. Aku batuk disertai dengan linangan air mata yang keluar dari mataku. Dia memandangi tangannya sangat lama hingga ku putuskan untuk lari dari hadapannya. Aku tidak ingin melihat lelaki menakutkan seperti dia. Sekitar sepuluh langkah dia memanggilku tapi aku tidak peduli. Dia mengejarku. Mungkin dia akan membunuhku tapi aku akan mati dengan caraku sendiri. Aku tak ingin mengotori tangannya.
Aku berlari cukup lama. Bahkan dia tidak putus asa mengejarku hingga aku sampai di sebuah jembatan.
"Jangan mendekat, noah !!". Teriakku sambil menangis.
"Jangan mati jasmine. Jangan pergi ..". Katanya sambil berjalan kecil ke arahku. Dia menangis. Aku tidak akan percaya aktingnya lagi. Dia psikopat yang akan membunuh dan memotong-motong tubuhku.
"Berbahagialah noah, tidak ada lagi yang akan membuatmu marah .... selamat tinggal !!". Kataku. Ku pejamkan mataku lalu terjun ke bawah sungai yang berjarak 50 meter.
Bagaimana ceritanya ?? Masih aneh ya ?? Bahasanya absurd. Kalau kalian tidak mengerti harap di komen ya !! Atau ceritanya gak logis komen aja ok