6

Ada 5 hukum dalam Islam. Kalau diurutkan itu dari wajib, sunnah, mubah/halal, makruh dan haram. Wajib dibagi dua, wajib ainy dan kifayah. Ainy maksudnya wajib dilaksanakan, kifayah maksudnya apabila satu orang sudah melaksanakan maka menggugurkan kewajiban yg lainnya. Tapi saya tidak berniat membahasnya lebih jauh, bukan orang yang tepat.

Lima hukum tersebut bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kalau kita kaitkan pada kata “Marah”. Marah bisa jadi haram hukumnya atau makruh, mubah, sunnah bahkan wajib tergantung kondisi, situasi dan kondisi yang melingkupinya.

Marah sebagai haram, berarti kita berada dalam situasi dan kondisi yang mengharamkan kita untuk marah. Misalnya, ketika di depan ibu dan situasi sedang bahagia-bahagianya atau di dalam masjid sedang beribadah saya rasa itu kondisi dimana marah menjadi sangat-sangat tidak etis.

Marah sebagai makruh,marahnya anda tidak jadi dosa tapi ya masa mau marah. Misalnya saat hari raya idul fitri terus sandal anda putus tepat di depan rumah tetangga, memang menyebalkan anda berhak marah-marah tapi ya masa mau marah.

Marah sebagai mubah/halal. Anda halal untuk marah kalau kondisi di sekitar anda memungkinkan untuk itu, misalnya anda menghadapi kesewenang-wenangan oleh tetangga, melihat tindak kriminal, atau menyaksikan pemerintah yang tidak perhatian pada rakyatnya. Anda halal untuj marah.

Marah menjadi sunnah, apabila kondisinya anda benar-benar dianjurkan untuk marah, misalnya melihat kemunkaran di depan mata, menyaksikan perampokan, KDRT, mendidik anak, dan seterusnya.

Marah bisa jadi wajib apabila ada kemunkaran di sana, ada yang tidak beres tapi tak ada yang mau mengubahnya, ada yang salah seharusnya bisa diubah tapi tak ada yang mau melakukannya, pemimpin yang dzolim, petinggi negara yang semena-mena, partai atau ormas yang meresahkan masyarakat, dan tidak ada yang bertindak satupun anda wajib marah, dengan catatan-catatan tertentu dan diiringi dengan tindakan yang benar, tidak hanya tindakan yang baik, tapi juga benar.

Bagaimana cara mengenali diri sendiri dan membedakan hukum yang mana yang harus dipakai ketika sedang merasa marah? Nah di sini Allah memberika latihan puasa. Puasa atau menahan diri itu melatih rasa kita, termasuk rasa marah, jadi ketika kita tiba-tiba marah, kita terlatih untuk mengetahui apakah marah kita itu manfaat atau mudharat, apakah sudah benar atau belum, baik atau buruk, dengan begitu kita jadi lebih hati-hati dalam melampiaskan amarah.

Pelatihan tersebut tidak hanya kita lakukan saat bulan puasa tapi juga dalam tindak tanduk kita sehari-hari. Memang tidak mudah, dan pastinya sering salah. Karena itu Allah menyediakan fasilitas namanya ampunan dan taubat. Ya karena lima hukum tadi adanya di Islam, puasa ramadhan biasanya yang melaksanakan adalah orang muslim, maka Allah memberi ‘alat’ yang bisa dipakai untuk wirid, namanya istighfar, astaghfirullah, astaghfirullah robbal baroya, astaghfirullah minal khotoya.

Like what you read? Give David Hukom a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.