Jangan Lupa Bahagia, Kamu~

gambar diambil dari : imdb

Directed by : Peter Chelsom

Produced by : Klaus Dohle, Trish Dolman, Christine Haebler, Phil Hunt, Compton Ross, Judy Tossell

Screenplay by : Peter Chelsom, Tinker Lindsay, Maria von Heland

Based on : Hector and the Search for Happiness by François Lelord

Starring : Simon Pegg, Toni Collette, Rosamund Pike, Stellan Skarsgård, Jean Reno, Christopher Plummer

Music by : Dan Mangan, Jesse Zubot

Cinematography : Kolja Brandt

Edited by : Claus Wehlisch

Production company : Egoli Tossell Film, Film Afrika Worldwide, Erfttal Film, German Federal Film, Board (de), Screen Siren Pictures

Distributed by : Koch Media

Release dates : 15 August 2014

Running time : 120 minutes


Hector adalah seorang psikiater yang hidupnya sudah sangat berkecukupan. Uang cukup, tempat tinggal, istri cantik, karir baik. Hidupnya sudah sangat teratur yang sangat dengan senang hati juga dilakukan oleh Clara. Bahkan kesalahan sekecil apapun sudah bisa diantisipasi dengan baik. Hector juga sangat bisa menangani pasien-pasien yang datang kepadanya, mulai seorang tentara, ibu-ibu insecure, bapak-bapak putus asa hingga seorang cenanyang bernama Anjali. Teknik yang selama ini dilakukannya sesungguhnya sangatlah sederhana, mengembalikan pertanyaan si pasien tentang masalahnya dengan pertanyaan ulang tentang masalah tersebut hingga si pasien menemukan sendiri jawaban dari persoalan hidupnya.

Clara adalah istri Hector yang bisa dibilang perfeksionis. Selalu merencanakan segalanya dengan matang dan terpola dengan baik. Karena kepandaiannya dan loyalitasnya pada perusahaan tempat ia bekerja, Clara mendapat penghargaan dari pimpinan perusahaannya itu. Di sisi lain Clara sebenarnya adalah orang yang insecure, karena sampai saat itu ia belum siap mempunyai momongan. Hal tersebut yang juga menjadi kegalauan bagi Hector.

Hidup mereka baik-baik saja, sampai pada saat malam pesta penghargaan Clara sebagai pegawai teladan, Hector bertemu dengan ibu-ibu yang tidak fasih mengucapkan happiness menjadi terdengar a penis, dan ini adalah clue dimana petualangan hector dimulai.

Cerita bergulir menuju Hector yang sedang menangani Anjali. Cenayang yang merasa kehilangan kemampuannya menerawang masa depan ini merasa ada yang salah dengan dirinya. Anjali merasa gelisah karena ia menggunakan teknik yang sama dengan yang dilakukan hector dalam menangani pasien mereka, mengembalikan pertanyaan dengan pertanyaan. Anjali pula yang membuat Hector berpikir ulang tentang sebuah ((( PERJALANAN ))). Sementara itu Clara menjadi semakin gelisah memikirkan hubungannya yang selama ini baik-baik saja dengan Hector karena menemukan foto lama Hector dengan mantan pacarnya di lemari kaos kaki.

Ditambah dengan pasien-pasiennya yang selalu mengeluhkan betapa kehidupan mereka begitu menyedihkan, Hector memutuskan untuk melakukan perjalanan berkeliling dunia untuk mencari tahu apa yang membuat orang merasa bahagia.

Clara dengan berat hati dan perasaan takut Hector akan kembali pada mantannya (yang di dalam foto yang ia temukan di lemari kaos kaki) akhirnya mengijinkan Hector untuk pergi. Ia sendiri yang mempersiapkan semua perlengkapannya, ditambah hadiah sebuah diary lengkap dengan tulisan “lakukan dengan penuh totalitas” di dalamnya. s

Perjalanan Hector and The Search for Happiness pun dimulai.

Dari Paris, Hector ke Cina, mendaki kaki Himalaya, lalu lompat ke Afrika dan ke Amerika sebelum akhirnya pulang. Perjalanannya yang penuh spontanitas itu tentu diwarnai beragam keajaiban. Ia tiba-tiba akrab dengan seorang bankir supertajir yang kemudian membawanya ke dunia malam Cina. Ia bertemu dengan biksu Himalaya yang doyan Skyping. Di Afrika, bahkan Hector sempat nyaris dibunuh oleh kelompok pemberontak dan selamat karena ia sempat berkenalan dengan mafia narkoba.

Di sela-sela keajaiban yang chaos dari perjalanannya itu ia tetap menjalankan misinya. Tiap kali menemukan hal-hal yang membuat orang bahagia, Hector mencatatnya di buku hariannya yang dikasih sang pacar.

Berikut adalah beberapa arti kebahagiaan di film ini

  1. Making comparisons can spoil your happiness.
  2. A lot of people think happiness means being richer or more important.
  3. Many people only see happiness in their future.
  4. Happiness could be the freedom to love more than one woman at the same time.
  5. Sometimes happiness is not knowing the whole story.
  6. Avoiding unhappiness is not the road to happiness.
  7. Does this person bring you predominantly a. up b. down?
  8. Happiness is answering your calling.
  9. Happiness is being loved for who you are.
  10. Sweet Potato Stew!
  11. Fear is an impediment to happiness.
  12. Happiness is feeling completely alive.
  13. Happiness is knowing how to celebrate.
  14. Listening is loving.
  15. Nostalgia is not what it used to be.

Kebahagiaan disadari atau tidak menjadi tujuan manusia. Menurut beberapa orang bahkan motif yang menggerakkan kehidupan manusia sebetulnya adalah keinginan untuk menjadi bahagia. Pembeda di sini adalah definisi atau pemaknaan masing-masing orang tentang kebahagiaan dan cara mereka mencapainya. Dua hal tersebut seringkali menjadi kontradiksi antara orang satu dan yang lainnya.

Sebagian orang kebahagiaannya ada pada hal-hal yang bersifat rohani dan spirituil. Antithenes yang dikenal sebagai tokoh aliran asketisme menekankan pencapaian kebahagiaan adalah dengan menjauh dari kesenangan-kesenangan materil Menurut Antithenes, kebahagiaan adalah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan materil, karena sejatinya kebahagiaan adalah bersifat metafisik. Sementara yang lain lebih memilih untuk mengikuti pemikiran Aristippus yang berpendapat bahwa kebahagiaan adalah bagaimana memuaskan hasrat jasmaniyah. Aristippus yang dikenal sebagai tokoh aliran hedonisme yang menekankan kebahagiaan dengan pemenuhan kesenangan-kesenangan materil (hedone).

Sedang menurut Aristoteles, kebahagiaan tidak bisa didapatkan hanya dengan menuruti keinginan jasmani, kalau hanya menuruti keinginan jasmani, misalnya makan, minum, seks, ya jadinya panjenenganipun kewan. Maka pencarian kebahagiaan dengan menuruti keinginan-keinginan jasmani hanya akan menuntun pada kekecewaan. Kenikmatan yang hakiki menjadi tertutup apabila hanya jasmani yang kita urus, misalnya nikmat berteman dengan manusia lainnya, nikmat berkasih sayang dengan sesama, nikmat dari Tuhan. Mbah Aris menekankan bahwa untuk mendapatkan kenikmatan yang hakiki maka manusia seyogiyanya melakukan sesuatu yang bermakna. Lakukan sesuatu yang bermakna maka kenikmatan akan mengikuti dengan sendirinya.

Hal ini serupa dengan yang diaminkan oleh Boethius dalam bukunya “Hiburan dan Filsafat”. Boethius menulis bahwa ketika ia membayangkan berdiskusi dengan Dewi Fortuna, sang Dewi Kebahagiaan dan Keberuntungan. Ia pun bertanya, mengapa kebahagiaan begitu rapuh, dan begitu cepat meninggalkan manusia? Sang Dewi lalu menjawab, bahwa tugasnya sebagai Dewi hanyalah mendorong roda kebahagiaan, yang juga merupakan roda takdir itu sendiri.

Terkadang, manusia berada di atas, dan dia merasa bahagia. Namun, terkadang, ia berada di bawah, dan merasakan penderitaan. Maka dari itu, manusia tidak perlu untuk mengeluh atas keadaannya. Ketika ia menderita, ia harus ingat, bahwa roda terus bergerak, dan ia akan segera mengalami kebahagiaan. Sebaliknya juga benar, bahwa ketika ia bahagia, ia harus bersiap akan penderitaan yang menanti di depan matanya. Itulah roda kebahagiaan dan roda takdir bagi setiap manusia, kata sang Dewi.

Sedikit lebih mendalam tentang kebahagiaan ruhani, [seperti yang dikatakan Anwar Sanusi dalam bukunya Jalan Kebahagiaan], bahwa Al Ghazhali berkata ada beberapa sumber kebahagiaan antara lain adalah akal budi yang meliputi :

  1. Sempurna akal

Kesempurnaan akal harus dengan ilmu. Ilmu yang membuat manusia dapat memehami sesuatu. Ilmu yang member kemudahan teknis bagi manusia untuk mengekspresikan nilai-nilai keimanannya. Bahkan, sebuah ibadah kalau tidak diiringi dengan ilmu, ibadah tersebut diragukan kualitasnya. Tipis kemungkinannya diterima oleh Allah SWT. Demikian pentingnya ilmu ini sehingga wahyu pertama yang diturunkan oleh allah berkaitan erat dengan ilmu yaitu iqra’ (membaca). Kata ini sangat kompendium (mencakup segala-galanya). Dia juga bermakna memahami, menganalisis, hipotesis, eksperimentasi, dan mengaplikasikannya.

2. Iffah (menjaga kehormatan diri)

Orang yang berupaya terus-menerus dengan sungguh-sungguh untuk memelihara kesucian hati sehingga akan tetap tegar dalam menghadapi ujian dan kesulitan-kesulitan hidup. Ia mencoba meraihnya dengan mengawali bersikap wara’ dan tawadhu’. Dari situ, terbuka tabir-tabir yang menuntun dirinya ke arah sikap dan perbuatan yang berkualitas. Perbuatan yang diridhoi oleh Allah SWT. Kebahagiaan hati akan terasa kalau hidup kita diridhai oleh-Nya.

3. Shaja’ah (berani)

Kebaranian dalam menegakkan kebaikan dan menyingkirkan keburukan dengan berbagai risiko dan konsekuensinya. Selain itu, berani untuk mengakui kelebihan orang lain. Berani untuk tidak mengungkit-ungkit aib dan cacat-cela orang lain dan berani memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Artinya, keberanian bukan ditunjukkan pada saat melakukan pelanggaran, seperti membunuh orang lain tanpa hak, berzina, berjudi, berdusta, korupsi, dan lain-lain. Itu semua tidak termasuk dalam sajaah.

4. Al ‘adl (keadilan)

Keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempat dan porsinya. Keserasian dan keteraturan dan memperlakukan sesuatu dapat menghadirkan kebahagiaan. Pemimpin yang adil hatinya akan tenang. Dirinya disukai oleh banyak orang. Namun sebaliknya, jika zalim, yang tidak bahagia bukan orang lain saja, dirinya pun akan merasakan penderitaan, paling tidak penderitaan batin.

Jamaah yang berbahagia. Kita tinggalkan Mbah Aristoteles, Om Boethius, dan Al Ghazali sejenak di tempatnya. Sementara itu, jauh dari tempat dan jauh sebelum bapak-bapak tadi memikirkan arti dan cara berbahagia. Resi Byasa menuliskan dalam Kitab Bhagawadgita tentang tiga jenis kebahagiaan, yaitu rajasa, tamasa, dan sattvika. Rajasa menunjukkan kebahagiaan yang disebabkan antara objek dan pancaindera seperti keindahan, rasa enak, kehalusan fisik, kekayaan, kebanggaan dan sejenisnya. Tamasa menunjukkan kebahagiaan karena kepasifan seperti kemalasan, tidur berlebihan, dan tidak peduli terhadap orang lain ataupun pengembangan spiritual diri serta kekuasaan, dan kekerasan. Sattvika menunjukkan kebahagiaan yang bersumber dari kepeduliaan terhadap pengembangan diri spiritual dan orang lain, keluhuran budi serta ketenangan hati. Manusia boleh memiliki tujuan kebahagiaan Tamasa ataupun Rajasa karena merupakan sifat dasar manusia. Namun kebahagiaan yang ideal adalah Sattvika. Manusia tidak boleh dominan mengejar kebahagiaan Tamasa atau Rajasa.

Pembaca yang budiman. Setelah menelisik abad Yunani kuno, abad pertengahan dan melompat ke yang paling kuno. Kita akan mendatangi seorang filsuf yang tidak kediamannya dan masa hidupnya tidak terpaut terlalu jauh dari para pembaca sekalian. Beliau adalah Ki Ageng Suryomentaram, beliau adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Pria yang lahir di Keraton Yogyakarta pada 20 Mei 1892 itu, juga dikenal sebagai paman dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Raja Yogya paling berpengaruh, dan terkenal dengan bukunya, “Tahta untuk Rakyat”.

Ki Ageng Suryomentaram [yang dulu pernah saya baca dan koleksi beberapa bukunya tentang kejawen dan makrifat jawa lalu kemudian hilang entah dimana rimbanya] berkata bahwa kebahagiaan adalah kondisi tentram, nyaman, tidak berkonflik, bebas dari keinginan yang tidak pada tempatnya dan tidak terikat sesuatu.

Suryomentaram membagi tiga jenis manusia berdasarkan orientasinya yaitu semat, kramat, dan drajat. Manusia jenis semat orientasi kebahagiaannya adalah harta, benda, dan kekayaan. Manusia jenis kramat orientasi kebahagiaannya adalah kekuasaan atau power. Sedangkan drajat orientasi kebahagiaannya adalah gengsi, kebanggaan, atau status sosial. Konsep kebahagiaan filsafat Suryomentaram yang utama adalah bebas dari konflik atau ketentraman hati yang mana konsep ini hampir sama dengan konsep Sattvika dalam Bhagavat Gita.

Dari beberapa pemikir-pemikir tersebut sudah jelas bahwa cara mencapai kebahagiaan adalah tidak hanya memikirkan jasmani saja yang terutama adalah rohani. Bagaimana rohani dilatih, dipelajari dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk sesuatu yang bermakna dan berguna melalui perilaku spiritual atau kebajikan universal demi mencapai kebahagiaan ketentraman hati yang sejati.

Dengan mengangkat pesan moral dan tema yang begitu universal, selayaknya Hector and the search of Happiness bisa menggali lebih dalam lagi keseluruhan pondasi cerita yang ditawarkan. Di luar kelemahan yang sedikit disayangkan tersebut. Hector and the Search of Happiness merupakan film dengan imajinasi visual dan score yang memang layak untuk dinikmati bersama keluarga di akhir pekan dengan ditemani secangkir kopi.

Jadi pemirsa sekalian, jangan lupa bahagia :)


Quote :

Professor Coreman: How many of us, I wonder, can recall that childhood moment when we experienced happiness as a state of being. That single moment of untarnished joy. That moment when everything in our world, inside and out, was alright. Everything was alright.
Dying Woman on Plane: I’m not afraid, Hector. People who are afraid of death are afraid of life.
Professor Coreman: We should concern ourselves, not so much with the pursuit of happiness, but with the happiness of pursuit.
[class laughs and applauds]
Hector: You know what smothering is, Clara? It’s mothering, with an S!
Old Monk: Would you like to come in?
Hector: Yes, please. ‘Cause I might not be around next week.
Old Monk: The moment of death is indeed uncertain. Come in.
Hector: You’ve been a fugitive. You’ve been in prison for your beliefs, you’ve lost family and loved ones. I mean, you’ve just been through so much. How is it you’re so happy?
Old Monk: Because I’ve been through so much.
Hector: I mean, searching for happiness is one thing, but making it the goal, it just doesn’t work, does it?
Old Monk: Higher than that, Hector. More important than what we are searching for is what we are avoiding.
Hector: Like unhappiness. So, don’t make unhappiness *not* the goal?
Old Monk: Higher than that.
Hector: Avoiding unhappiness is *not* the road to happiness.
Old Monk: You hold all the cards, Hector.
[both laugh]
Edward: You’re a very very strange person, Hector. The kind of person I normally avoid like the plague. I’m glad I didn’t.
Alan: There a big difference between being here, and being here to be photographed being here.
Agnes: Kids, this is… this is mommy’s Hector.
[first lines]
Hector: [waking suddenly from a nightmare] Clara!
Clara: Hector… Morning, sweetheart. Time to raise and shine.
Hector: [narrating] One upon a time, there was a young psychiatrist called Hector, who had a very satisfactory life. His world was tidy, uncomplicated. And he liked it that way. He took great comfort in its predictable patterns. Patterns his girl friend Clara was happy to maintain.
Hector: Your English is very good. Where are you from?
Diego Baresco: Would you like to see my passport?
[shows him a $100 bill]
Hector: I prefer your hair that way it is now.
Diego Baresco: I bet what I farm makes more people happy than what you dish out.
Hector: I see, farmer. I get it, drugs. Forgive me, but if your happiness causes other people’s unhappiness, then how can there be happiness. Doesn’t that bother you?
Diego Baresco: [throws him onto the bar for the second time] I don’t cause unhappiness, I respond to it, same as you! We both feel the need, but the demand we don’t create.
Professor Coreman: [narrating] One upon a time, there was a young psychiatrist called Hector, who was very satisfied with his life.
Hector: [to stewardess] Far be it for me, and forgive me for asking, and I don’t mean to pry, but can this plane go any faster?
Professor Coreman: His world was complex, sometimes even chaotic. And he liked it that way. He took comfort in the rich, random patterns of his life. He listened to his patients with real patience.
[chuckling about an encounter]
Professor Coreman: Oh ho, see what I mean? Sometimes with surprising results.
Hector: [trying on a castle guard’s hat] It looks… it looks acceptable.
[last lines]
Professor Coreman: Everything was up for change. And he loved like he never loved before.

Source :

1

2

3

4

5