[How I See The World] Mengapa Wanita Harus Pandai Bekerja

Sebelum anda membaca tulisan saya, perlu diketahui bahwa saya bukanlah seorang feminis. Saya sangat menghargai perbedaan wanita dan pria sebagaimana porsinya masing-masing. Penyetaraan gender menurut saya tidaklah perlu karena bagaimanapun secara lahiriah kebutuhan wanita dan pria sangatlah berbeda.
Tulisan ini adalah opini saya probadi tanpa merepresentasikan pihak manapun.
Saya adalah wanita dan saya bekerja sebagai Product Manager di salah satu e-commerce di Indonesia. Sebenarnya saya tidak hanya bekerja sebagai PM, saya juga memiliki side job yang dapat saya kerjakan secara flexible dan online. Dua pekerjaan ini membuat saya harus bekerja minimal 10 jam dalam sehari, 8 jam untuk full-time sebagai PM dan 2 jam sebagai part-timer. Karena side job saya ini bayarannya per-jam, ketika saya butuh income tambahan saya harus bekerja diatas 2 jam, jadi sehari bisa kerja maksimal 15 jam. Bayangkan kamu hanya punya 24 jam sehari dan 15 jam kamu habiskan untuk bekerja. Itu berarti kamu hanya punya waktu 9 jam untuk istirahat dan lain-lain.
Karena dirumah tidak berlangganan internet, saya lebih suka nebeng internet kantor selepas kerja. Jam kerja kantoran selesai pada jam 6 sore, namun biasanya saya tetap stay di kantor untuk mengerjakan side job sampai jam 10 malam. Selesai kerja saya pulang dan bersih-bersih badan jadi kira-kira saya tidur jam 11 atau 12 malam, dan bangun pagi kemudian berangkat kantor lagi jam 8.30 pagi.
Teman-teman saya yang mayoritas pria terheran-heran dengan rutinitas saya yang bisa dibilang agak gila. Beberapa teman memang menyebut saya pekerja keras. Disatu sisi saya tersanjung karena hal tersebut merupakan sebuah pujian. Sampai suatu hari timbul candaan “Duh wanita idaman banget, pekerja keras. Nanti suaminya pensiun aja ongkang-angking dirumah.”
Hmm.. gini gini. Saya adalah orang yang percaya bahwa gender punya porsinya masing-masing. Mengapa laki-laki menjadi kepala keluarga dan mengapa laki-laki yang wajib mencari nafkah? Karena secara logika mereka lebih tajam dan secara fisik mereka lebih kuat. Wanita, secara emosi lebih tajam namun secara fisik lebih riskan. Saya tidak bilang wanita lemah secara fisik tetapi riskan karena ditubuh wanita terdapat banyak titik-titik beresiko apabila tidak dijaga dengan baik, seperti rahim dan lain sebagainya. Makanya orang bilang wanita ga boleh kerja berat-berat karena secara fisik memang riskan.
Kembali lagi ke candaan yang tadi. Jujur saya kecewa dengan pemikiran mereka apabila hal tersebut lebih dari sekedar candaan. Maksudnya, saya akan kecewa apabila mereka benar-benar akan ongkang-angking dirumah jika memiliki pasangan yang pekerja keras.
Saya sangat percaya bahwa yang wajib mencari nafkah adalah laki-laki. Dan siapasih yang ga mau hidupnya enak dirumah tinggal disuapi nafkah?
Tapi gini… walaupun kewajiban itu terletak di pundak laki-laki, menurut saya wanita tetap harus pandai bekerja untuk survival. Kadang ini yang kurang terpikirkan oleh orang banyak.
Hidup Tidak Selamanya Diatas
Ketika kamu berumahtangga, apakah kemudian finansialmu akan selamanya baik-baik saja?
Manusia kadang diatas kadang dibawah. Pun dengan si tulang-punggung pencari nafkah. Ketika orang yang menafkahimu berada dibawah, apakah kamu kemudian diam saja? Kamu harus putar otak supaya problem bersama dapat dihadapi bersama. Maka dari itu wanita harus berlatih bekerja keras supaya tidak manja dan merepotkan oranglain. Karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Yang bisa kita lakukan hanya bersiap dan berjaga.
Pun karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dimasa depan, karena orang datang dan pergi dengan alasan yang kita tidak pernah dapat menerka. Sehingga apabila suatu hal membuat kita harus berjuang seorang diri, skill ini sangat amat dibutuhkan.
Karena semakin kita bertambah umur, semakin orang yang kita kenal memiliki kesibukan masing-masing dan kepentingan masing-masing sehingga kadang kita tidak punya tumpuan. Jadi mau tidak mau kita harus menhadapinya sendiri. Apabila skill of survival ini tidak dilatih sejak dini, dikemudian hari ketika hal ini terjadi, kita tidak akan dengan mudah menanggulangi masalah ini.
It’s about endurance
Bekerja dual job yang hampir gila seperti ini bukan hanya semata-mata mengejar salary. It’s about endurance. Perlu digaris bawahi bahwa pekerja keras tidak sama dengan workaholic. Pekerja keras hanya kerja sesuai porsinya, tidak melebih-lebihkan dan disiplin. Bekerja tetap bekerja. Kadang sucks dan kadang bikin stress. Tapi endurance kita dalam menghadapi tantangan bekerja menyiapkan kita untuk tahan banting apabila ada masalah-masalah yang lain yang datang dimasa depan.
Oke, mungkin orang bilang kalo kamu mau bekerja dengan fun, bekerjalah sesuai passion. Well, I did. Saya sudah berada dijalur sesuai passion saya. Tapi walau demikian, apakah berarti masalah tidak akan ada menghampiri kita saat bekerja? No, sepassion apapun kamu dengan pekerjaan, kamu pasti menemukan sesuatu yang bikin stressful. Dan ketika masalah datang apakah kamu harus quit? Semudah itu?
Ada kalanya kita mudah untuk quit dan ada kalanya tidak. Ketika kita ga bisa quit maka pilihannya cuma stay dan menghadapi tantangan yang ada. Nah disaat inilah kamu butuh endurance, ketahanan secara fisik atau mental untuk mempertahankan apa yang kamu harus pertahankan.
Siapa sih yang nggak mau dimanja?
Pada dasarnya semua manusia membutuhkan affection dari lawan jenis dan begitu pula wanita yang lebih memiliki karakter ingin dimanja dan dilindungi oleh pria. Wanita ingin selalu diberi perhatian entah dalam bentuk materi atau afeksi. Wanita normal mana yang nggak mau dimanja? Tapi lantas apakah wanita harus manja?
Men, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dan apabila terbiasa manja atau dimanja, kesiapan kita akan tantangan hidup lebih minim sehingga tidak banyak yang dapat kita lakukan dengan cepat. Bahkan beberapa orang memilih untuk bunuh diri atau ada juga yang terlalu stress hingga sakit jiwa.
Sebagai manusia yang normal saya sih tidak mau hal itu terjadi pada saya. Apalagi wanita yang emosinya lebih terpacu apabila ada hal-hal yang tidak biasa ia hadapi. Dan saya tidak dapat mengontrol apapun yang akan terjadi di hari esok. Oleh karena itu saya harus mengantisipasi, paling tidak mengondisikan diri saya sendiri terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu jadi cewek jangan manja!
