So, mau jadi impactful? — (In Islamic Perspective)

Membaca tulisan fenomenal teman saya soal impact, jadi kepikiran menuangkan apa yang saya pikirkan juga.

Ketika saya join inkubasi startup di kampus saya, tujuan saya adalah mencari environment baru karena bosan dengan anak-anak kampus yang aktif ngevent sana-sini. That’s not my life. 
So, setelah saya diterima di inkubasi, kami di edukasi untuk memberikan impact seluas-luasnya untuk Indonesia. “Bikin bisnis itu ga usah mikir duit. Duit will follow you ketika bisnismu punya impact di masyarakat. Money will follow.” 
Dengan otak lemot dan jiwa yang cupu, saya mempercayai itu. Dengan mindset saya yang lagi belajar agama pun, saya sangat yakin akan hal itu. What a noble deed. Mulia sekali.

Diperjalanan saya dan teman-teman membangun startup, saya sempat berfikir, “oke sekarang kita yg menghidupi startup ini, modal duit jajan dan lomba habis buat ini startup. Tapi sampai kapan kaya gini? Kapan ini startup bisa ngidupin kita?” 
Lalu saya mikir lagi dengan dongonya. Oh, mungkin kurang impactful nih ini bisnis. Lalu saya melakukan validasi lagi. Dan ga selesai-selesai. And I started to think.. “Kok mau bantu orang aja susah amat sih?” Padahal udah berkorban pulang malam, dimarahin orang tua dan lain sebagainya.

The thing is that.. Ketika kita mau bantu orang, kita harus melakukannya dengan approach yang sesuai dengan orang yang mau kita tolong. Misalnya, kamu mau bikin bisnis untuk membantu peternak lokal bersaing dengan peternak luar dengan sapi impor-nya melalui aplikasi. Kita perlu tahu si peternak ini sefamiliar apa dengan teknologi, percayakah dia dengan teknologi, dan apakah idemu bener-bener menjadi solusi bagi mereka? Atau jangan-jangan, mereka sendiri merasa baik-baik saja dan ga perlu ditolong?Kita perlu menyelam ke dunia mereka. Tapi kalo kita cuma nolong dari permukaan like “hey gue mau bantuin lo, mau gak?” ya ga akan bisa. Dan again, untuk menyelam sedalam itu, butuh modal. Modal=Duit.

Dan yang perlu saya garis bawahi, kalo emang benar niatnya adalah membantu orang lain, kenapa mikir money? Harus ikhlas doong apapun yang terjadi. Padahal mereka percaya kalo money hanyalah side effectnya? Padahal bisa jadi side effectnya bukan money tapi sesuatu yang lain. Ini kayak ibaratnya orang jadi penceramah yang tujuannya terkenal supaya banyak duitnya. Padahal pendakwah sebenernya ga boleh pasang tarif. Paling dibayar uang lelah dan transport aja secukupnya.

Kalo niatnya bisnis adalah mencari nafkah, ya niatkanlah untuk mencari uang, toh itu sah-sah aja. Kalo dalam Islam, ketika kamu berjuang buat cari duit untuk memenuhi tanggung jawabmu misalnya untuk menafkahi keluarga, itu namanya juga Jihad Fii Sabilillah kok. As long as niatnya for good. 
Jadi kalo mau bisnis, menurut saya ya emang harus money oriented. Sesimpel bisnis menjual sesuatu yang bermanfaat buat orang, misal sikat gigi, bikin orang rajin sikatan dan bersih, itu udah impact dan baik. jadi ga usah muluk-muluk dulu. Goalnya teteap money. Entah money itu mau dipake buat bantu orang, dats different thing.

Mudharatnya, kalo kita langsung ingin impact yang besar, jatuhnya jadi panjang angan-angan. Yaitu menginginkan atau mendambakan sesuatu yang sebenernya diluar kuasa kita.

“Ada dua hal yang paling aku takuti menimpa kalian, yaitu: menuruti hawa nafsu dan banyak angan-angan. Sesungguhnya menuruti hawa nafsu itu dapat menghalangi dari kebenaran, dan banyak angan-angan itu melupakan akhirat” — HR. Ibnu Abi-d Dunya
Diriwayatkan dari Ummil Mundzir, sesungguhnya ia berkata, suatu sore Rasulullah terlihat datang di hadapan manusia, lalu beliau bersabda: “Wahai manusia, tidakkah Anda merasa malu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?” Mereka bertanya: “Apakah yang dimaksudkan dengan itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda:
“Anda mengumpulkan sesuatu yang tidak Anda makan, berangan-angan sesuatu yang tidak akan dapat Anda gapai, dan membangun sesuatu yang tidak Anda tempati. ”

Hadist diatas bukan bermaksud bilang kalo mengejar dunia itu gak boleh. Justru dunia adalah sarana untuk ngumpulin tiket sebanyak-banyaknya buat selamat di hari akhir. Termasuk dengan cara bantuin orang dan bikin impact yang beasr. 
Mengejar dunia boleh tapi mencintai jangan. Karena kalo sudah cinta, seakan ga rela untuk meninggalkan dunia padahal kita disini cuma sementara. Terus hubungannya apa dengan impact? 
Ketika kita bikin startup membuat impact tapi niatnya jadi bubrah karena mengharapkan jadi terkenal seperti Steve Jobs, kaya raya seperti Bill Gates. Padahal kita sebenarnya tidak mampu, atau kemampuan kita bukanlah disitu. Jadi seperti kucing dipaksa terbang. Menghayal terus ingin terbang padahal dia spesies yang berbeda.

Efeknya malah ga realistis. Dan wasting time karena kita terlalu fokus ke hal-hal yang sebenarnya kita ga mampu. Dan yang niatnya mau buat impact malah belok ke niatan yang lain. Mau jadi sekaya Bill Gates misalnya. Dengan ambisi tersebut, ya kita akan lupa dengan nilai-nilai kebaikan pada impact tersebut. Dan ujungnya, itu cinta dunia banget kalo udah ga ada unsur positifnya. Ga jadi nabung buat akhirat.

“Halakam-ruun lam ya’rif qadrahu”
Hancurlah seseorang yang tidak mengetahui kadar dirinya

Islam itu ngajarin kita rasional dan logis. Jadi inspek diri kita, ketika kita paham diri kita seperti apa, lakukanlah hal bermanfaat sesuai dengan kemampuan kita. A good deed will affect your society kok, sesimpel di circlemu aja.

Lain halnya jika membuat impact secara tulus dan serius untuk bantu orang lain. Nah kalo sudah seperti ini mending bikin NGO aja, malah nanti banyak dapat volunteer yang punya tujuan sama. Gak usah pake kedok bisnis.

This is a journey afterall..

I am telling this karena saya belum tuntas dengan diri saya dan masih butuh banyak sekali belajar. Dan untuk orang-orang seperti saya yang merasa dibohongi dengan doktrin-doktrin impact yang tidak ada duitnya, tidak perlu menyesal. Toh ini pembelajaran. No offense ya.

Pernah suatu hari saya diinterview saat masuk kerja, saya ditanya akan sesuatu yang saya sesali hingga dapat jadi pembelajaran. Saya menjawab bahwa saya tidak pernah menyesali apapun. Toh penyesalan sebagian dari setan yang hanya membuat kita tidak bersyukur. Yang ada hanyalah pembelajaran.

Saya bersyukur dengan otak pas-pasan dan lemot ini, saya tidak buru-buru menandatangani kontrak yang harus lama-lama berada di ekosistem berburu impact. Dan saya tidak menyesal atas waktu yang saya buang untuk validasi dan lainnya karena itu proses belajar. Walaupun I put effort banget disitu, saya percaya bahwa segala effort akan ada buahnya.

Inna Sa’yakum saufa Yura
sesungguhnya kesungguhanmu yang akan dilihat (Allah).

Allah menilai sesuatu berdasarkan effort. Bukan result. Kalo sekarang kamu merasa belum impactful, it’s ok. That’s journey. Niatin aja yang baik-baik, buat apa kamu melakukan itu. And what you expect. Tapi ekspektasi harus sesuai kadar kemampuan. Then, you’ll never regret anything.