TAK LENYAP

Pekan pemula di bulan Maret 1966. Sesosok pemuda begitu riang menyemburkan ujaran. Di depan hidung jurnalis The Evening Standard mulutnya tetiba saja berlaku serupa ungkal bagi penajaman kata-kata,

"Kristen akan hilang. Ia akan lenyap dan menyusut. Aku tidak perlu berdebat perihal itu. Aku benar dan aku akan terbukti benar. Kami lebih populer daripada Yesus sekarang. Aku tidak tahu siapa yang akan lenyap lebih dulu, rock 'n roll atau Kristen..."

Kala ucapan itu meluncur, John Winston Lennon belum genap 26 tahun. Bersama Paul, Ringo dan George, mereka tengah terbang tinggi. Terbang terlampau tinggi bahkan. Hingga John tak takut lagi dengan batas apapun. Manapun.

Tak ayal, tentu saja ada yang terluka dengan tajam lidah pedangnya. Protes lantas membuncah. Bakar poster dan piringan hitam di jalanan. Ajakan boikot ikut membahana. Klu Klux Klan tak luput usung bicara.

Tapi tengkuk band asal Inggris tetap tak tersentuh. Dan John, dia itu malah ajeg tak merajuk maaf. Pemuda Liverpool benar-benar berkepala batu.

Jaman itu sendiri jalar api The Beatles memang tak bisa dipadamkan. Usai meggulung Britania, "British Invansion" lalu ditunaikan The Beatles. Amerika bukan lagi tak tertaklukan. Musisi Inggris yang biasanya gugup datang kesana, sekarang bersiap menjadi raja.

“I Want to Hold Your Hand" terjual 2,6 juta keping hanya dalam tempo 14 hari. Selanjutnya, penampilan di The Ed Sullivan Show menyita atensi 40 persen populasi. Amerika benar-benar telah bertekuk lutut. Hipnotis The Beatles tak sanggup ditangkal mantra yang mana saja.

Namun hari dimana yang menyala kemudian padam, lazimnya pasti datang. Bagi Beatles mungkin lebih tampak seolah akan padam untuk kemudian menjadi kekal.

9 April tahun 1970, kali pertama dunia mengendus bubarnya The Beatles dari pernyataan Si Wajah Bayi, Paul McCartney. Sehari berselang, The Daily Mirror menulis headline dengan huruf kapital, 'PAUL IS QUITTING THE BEATLES. Berlanjut CBS News yang latah mengangkut judul "The Beatles are breaking up."

Hampir separuh abad berlalu sejak kabar bubarnya The Beatles terdengar. Rock n Roll tetap hidup, menjangkar, menjajah milyaran telinga. Gereja dan Kristiani sama juga, masih bernafas sebagai teologi dengan penganut terbesar sejagad. The Beatles pun abadi, berjibun legasi. Menderetkan pengikut multi generasi.

Dan ternyata bukan Rock n Roll atau Kristiani yang pada akhirnya menemui ajal lebih dulu. Melainkan John yang ambruk ditangan Mark David Chapman. Ditembak mati. Tewas. John lenyap, jasadnya. Namun dongengnya tidak.

****

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hanya Fajar’s story.