Kau Tahu…

Hujan deras mengguyur kota itu, membasahi jalanan aspal dan benda-benda lain di luar sana. Beberapa memilih untuk tetap tinggal di rumah sambil menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan. Di waktu-waktu seperti ini rasanya akan begitu berharga apabila dilewati bersama dengan orang-orang terkasih.

Namun apa daya, semua pun hanya pengharapan. Ilusi yang tidak akan pernah menjadi nyata apabila hanya satu pihak saja yang membayangkan.

Kalian tahu bilangan imaginer ? Bilangan imaginer akan berubah menjadi real apabila kedua bilangan menjadi positif. Begitu juga sesuatu yang ilusi akan bisa menjadi kenyataan apabila kedua belah pihak saling memikirkan hal serupa. Semua bisa menjadi nyata.

Ponsel itu tak kunjung berdering, sekedar memberi kabar bahwa hari ini tidak bisa makan malam bersama seperti malam-malam sebelumnya. Atau sekedar menghubungi dan menyisihkan waktu sekian menit untuk bertanya sedang apa di hari yang dingin ini?

“Aku berharap bisa bersamamu, berada di bawah selimut yang sama. Saling menghangatkan diri satu dengan yang lain sambil bercerita banyak hal. Aku merindukanmu.”

Kalimat yang selalu berhasil membuat kedua sudut bibir ini saling tertarik ke sisi berbeda. Itu tidak akan pernah terjadi, sayangnya.

Kau meringkuk dalam senyap ruangan 3 x 5 meter itu. Membiarkan telivisi 16 inc yang menayangkan drama picisan menyala tanpa sama sekali tertarik untuk mencari tahu bagaimana bisa sang protagonis menangis sesegukan seperti yang terlihat sekarang. Alasannya sudah pasti bukan? Orang yang ia sayangi tidak melihatnya sama sekali barang sepersekian detik karena tidak tertarik, atau pembunuh kedua orang tuanya terungkap yang ternyata merupakan kekasihnya sendiri atau orang yang selama ini ia percaya sebagai seorang teman nyatanya tak lebih dari seorang penghianat.

Semua sudah menjadi alur yang biasa terjadi di kehidupan nyata, tinggal bagaimana sang penulis skenario merubahnya menjadi sesuatu yang berbeda namun tetap saja intinya sama : Orang yang membuatmu merasa seperti sosok yang paling berharga juga merupakan orang yang akan membuatmu merasa bahwa kau adalah sosok yang paling tidak diinginkan di dunia, nantinya.

Tak ada lagi harapan-harapan bahwa dia akan menghubungimu. Kau sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Kau bahkan nyaris lupa bahwa kau memiliki seseorang yang membuatmu merasa hidup, kau bahkan lupa bahwa kau memiliki seseorang yang menjadi alasan untuk senyum-senyum itu.

Setidaknya jarak yang terpaut semakin lebar ini membuatmu merasa demikian.

Meski dari awal kau juga tidak menuntutnya lebih, tidak mengharapkan ia menjadi satu sosok pangeran yang diimpikan para putri di luar sana. Kau tidak menuntut kesempurnaan. Mengetahui kau mencintainya dan dia mencintaimu. Mengetahui bahwa di hati masing-masing kalian saling memiliki. Rasanya hal itu sudah menjadi cukup. Kebahagiaan berada di tangan dan kalian hidup selamanya dengan itu. Selesai.

Walaupun kesibukkan itu menjadi permasalahan di dalam hubungan ini, namun kau selalu berpikir bahwa dia juga memiliki kehidupan lain. Bukan semata-mata hidupnya terfokus pada dirimu. Kau paham. Sangat sangat paham makanya tidak menginginkan lebih.

Andaikan pemandangan beberapa hari yang lalu tidak tertangkap oleh kedua netra malam pekat ini, mungkin kau masih akan tetap berpikiran hal senaif itu. Andaikan kau tidak mengiyakan tawaran seorang teman untuk menemaninya membeli red velvet di sebuah kedai kue, kau tidak akan melihat pemandangan yang membuat ulu hatimu terasa ngilu. Lebih sakit dibandingkan sakit maag. Lebih parah dibandingkan muntah-muntah sampai kau berpikir, inilah ajalmu. Lebih dari itu.

Di sini kau sadar, bahwa definisi sibuk di dalam kamusnya berbeda dengan definisi sibuk pada kamusmu. Kau sadar bahwa tidak ada seseorang yang benar-benar sibuk, itu tergantung pada level keberapa kau diletakkan pada prioritas hidupnya.

Mengetahui itu kau hanya tertawa sambil merasa kalau mencintai seseorang bukan berarti menjadikan ia segala-galanya dan satu satunya. Kau tahu bahwa setelah ini kau tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Luls.’s story.