Semoga Lekas Sembuh

Luls.
Luls.
Aug 22, 2017 · 1 min read

“Saya masih mencintainya.”

Sebuah kalimat yang terdiri dari tiga kata itu mampir mengetuk gendang telinga. Yang mendengar tersenyum simpul, masih setia memfokuskan pandang pada jalan protokol. Lengang, banyak ruang dan hanya dipenuhi pejalan kaki di sisi trotoar.

“Maaf…”

“Tidak perlu. Untuk apa? Saya tahu.”

Karena cincin pada jari manis masing-masing bukan bentuk sebagai kepemilikan hati namun bukti bahwa cinta ini menerima apapun bentuknya. Karena setiap ucapan cinta milikmu tak ayal sebagai bentuk kebohongan atas hati yang masih belum siap untuk pindah. Sebab setiap lagu yang dia mainkan hanya mampu mengingatkanmu perihal kepingan-kepingan kisah yang belum diselesaikan. Setiap cumbu yang kau berikan tak lebih dari ucapan maaf tersirat di mana tak mampu lidahmu ucapkan. Setiap tempat yang dikunjungi hanya menimbulkan harapan bahwa kau mampu membalas yang dia berikan. Setiap hujan yang turun menjadi doa bahwa kau akan melupakan.

“Saya tahu dan akan tetap mencintaimu walau dengan hati yang patah, karena saya memilihmu.”

Dan biarkan menjadi masalah waktu. Semoga lekas sembuh.

)

Luls.

Written by

Luls.

Aku menulis agar tidak meledak seperti geranat.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade