dan Musik Bercerita (1)

Jika yang demikian telah tiba, aku berharap semuanya menjadi mungkin. Tapi persoalan ini tidak cukup dengan berbekal semangat saja. Pergi meninggalkan kampung halaman, meninggalkan gamelan, dan menahan rindu pada Ibu tembangkan lagu pujangga-pujangga lampau.

Aku mesti ke Eropa, menyaksikan sendiri kehidupannya. Menjadi bagian hidup mereka seperti menjadi bagian dari sungai yang membelah daratannya. Aku mesti ke Eropa, merasakan musim dingin yang putih namun gigil. Aku mesti ke Eropa, mencium aroma bunga yang mekar pada musim semi yang cerah.

Lalu, aku ingin mendengar musiknya yang terbawa angin di empat musim yang berbeda. Menyaksikan sendiri lukisan mereka. Menghayati sendiri kebudayaannya. Melahap yang mungkin dari capaian-capaian ilmu pengetahuan. Sekuatku!

Ah, perempuan itu. Ku kenangkan permainannya. Sungguh, ia yang terbaik di antara kami. Teknik dan penghayatannya. Namun, sesungguhnya yang ia miliki tidak hanya itu saja. Ia adalah perumpamaan mentari terbit pada langit yang cerah. Merah merekah pancarkan kehangatan. Aku tahu, apa yang aku rasakan juga pasti dirasakan mereka yang hadir. Bagaimana cara ia berjalan menuju tengah panggung, dan bagaimana mata kami semua tertuju pada segala yang ada dalam dirinya adalah sebuah perumpaan dua kutub magnet yang saling menarik. Kami tidak bisa menolak kehadirannya yang menyenangkan dan menyegarkan, dan ia menerima segala ketertarikan kami dengan diri yang mampu menerima segala pula!

Ah, permainannya. Itu adalah lagu yang kemudian akan selalu membuat aku kenangkan dirinya. Dan gelisah. Satu-satunya dari Beethoven, Violin Concerto in D Major Op. 61. Karya musik yang sepanjang waktu bercerita tentang cinta, asa, marah, onar, lelah, kalah, sepi, dan kalimat-kalimat yang tertunda, seperti rindu yang dipupuk waktu. Setidaknya itu menurutku.

Kini, ia telah ke Eropa. Pantaslah ia tempuh pendidikan di sana. Di sana ia akan bertemu dengan aneka cahaya lain yang benderang. Itu akan membuatnya semakin cerah tak terelakan. Dan ia akan menang, aku percaya! Di sanalah panggungnya! Panggung yang akan membuatnya semakin terang benderang. Panggung yang akan membuat dunia mengakui bahwa ia adalah pemberian alam, sebagaimana alam berikan wangi pada bunga kamboja, atau warna pada mawar yang mekar.

Aku mesti ke Eropa! Meski untuk mengikuti jejaknya adalah persoalan ribuan hari berlatih. Aku harus berada di sana! Bersamanya! Menyaksikan kecermelangan dan keindahan permainan musiknya. Aku mesti menjadi saksi!

…………………………………. bersambung ……….………………………….