Kenangkan Bubur Pagi Hari

Sebelum segala upaya berbuah. Sebelum segala angan menjadi indah. Sebelum engkau pejamkan mata kemudian terlelap. Biar sejenak tulisan ini terangkai sebagai karangan sederhana untukmu.

Di hari-hari yang biasa, seorang wanita membangunkan lelaki dari tidurnya. Matahari belum juga nampak kembali dari peraduan, sementara kokok ayam jantan lantang memecah keheningan. Kokok itu sahut-menyahut bersamaan dikepakkan sayapnya yang sekali-kali tak pernah dapat membuatnya terbang layaknya burung gereja. Keranjangmu sudah siap sedari malam, biasa kau letakkan pada meja di ruang makan. Dan pagi ini, pagi yang biasa.

Motor tua ini sudah cukup setia menjadi penghubung antara kau dan aku. Sudah cukup mengenal berapa jumlah berat badan kita yang memang tak kunjung bertambah juga. Sudah sangat hafal dengan jalan-jalan yang rutin kita lalui. Entah sudah berapa kenangan tersimpan pada warna-warnanya yang semakin pudar. Motor ini juga yang setiap pagi mengantar kita berdua ke pasar. Segala keperluanmu, sayuran, bahan-bahan masakan dan penjual yang biasa menjadi langgananmu. Segalanya berjalan singkat dan teratur saat hal-hal yang kita kerjakan telah melewati ribuan hari.

Kembali ke rumah, gerak tubuhmu di dapur menjadi keluwesan tersendiri untukku. Nyala api seolah seperti lilin penanda waktu kapan akan padam. Cekatan, terampil, penuh perhatian. Sekalipun kadang menjemukan menjadikan sebuah kelelahan, namun segala yang sederhana ini begitu bermakna. “Kepada siapa yang memaknai hal sederhana, ia akan memperoleh bahagia.” kata kedua orang tua kita.

Bila segalanya sudah masak, semua itu akan kau pindahkan pada panci-panci yang tertata dekat dengan piring-piring. Daun-daun pisang yang sudah kau cuci telah kering dan bersih. Bubur hangat ini kau jajakan di depan rumah kita dengan meja kursi seadanya. Kau selalu berkeyakinan,”Setiap pagi adalah pagi yang sempurna dan akan semakin baik jika perut-perut terisi, terlebih kepada putra-putri yang hendak bersekolah”. Keteguhanmu terbayar dengan selalu habis masakanmu. Sekalipun lelah tergambar di wajahmu, tak surutkan bahagia atas apa yang telah kau lakukan.

Bubur di pagi hari adalah sebuah perumpamaan bahwa yang sederhana itu bukan karena tak memiliki apa-apa. Bahwa yang sederhana itu bukan karena tak memiliki daya upaya.

Selalu ada kasih pada bubur ini. Hingga setiap kisahmu adalah sebuah kedalaman tentang memberi manfaat kepada sesama.

Like what you read? Give Ponco Kusumo a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.