Rumah Untuk Kopi

Ada yang serupa tumbuh di hatimu. Seperti aroma yang kauhirup saat membuka pintu ini di setiap pagi. Jantungmu berdebar, bertanya-tanya tentang rasa apa di biji kopi yang tersimpan pada lingkar kaca.

Kepadanya, Yogyakarta. Cara pandangku tetaplah sama. Tak berubah. Seperti kali pertama aku memutuskan datang dan menempuh pendidikan di kota ini, kota yang jauh sebelum aku datang telah dikenal sebagai kota pendidikan dan budaya.

Meski pembangunan menciptakan ruang-ruang terpisah dan kepadatan lalu lintas. Meski ruang-ruang publik, ruang-ruang seni, ruang berjalan kaki, juga pohon-pohon tak pula kunjung ditingkatkan. Meski orang-orang keluhkan matahari yang terik dan pengendara dengan knalpot yang bising semakin tak tahu diri. Yogyakarta bagiku tetaplah sama, ruang belajar yang rindang dengan pepohonan di sekitarnya. Kota di mana keramah-tamahannya ialah desa.

Karena itu, rumah untuk kopi ini aku harap mewarisi nafas yang telah tercitra dari kota ini. Ruang bagi buku-buku yang memuat pemikiran-pemikiran peradaban. Ruang bagi kesenian yang denyutnya ialah lingkungan. Bertemunya mereka dengan cara yang wajar adanya.

Seperti setiap pagi kau buka pintu ini, keajaiban akan datang dari kopi.
Like what you read? Give Ponco Kusumo a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.