Ya Serendem itulah ….

“Between what is said and not meant and what is meant not said, most of love is lost” — Kahlil Gibran

Sebuah gol dianulir di menit 90. Setelah perjuangan selama sembilan puluh menit, gol tercipta. Umpan silang dari pemain sayap kanan, dapat dituntaskan dengan tajam oleh sundulan kepala penyerang bernomor punggung 9. Itu sebuah gol penting. Gol penentu kemenangan. Namun wasit dengan dingin menganulirnya.

Peluit dibunyikan. Tanda akhir pertandingan. Gol yang dianulir itu menjadi gol yang membekas sebagai kenang-kenangan pahit.

Hal-hal penting berlalu. Begitu saja. Lalu usai kehilangan, usai perpisahan, satu persatu sesal berkunjung mengetuk pintu ingatan. Pertemuan adalah awal dari pesta. Ritual memaknai perpisahan.

Entah apa pula hubungannya antara kalimat Kahlil Gibran dengan gol yang dianulir. Demi venus, aku ingin menyambungkannya. Tapi gagal!

Telah kau telusuri rindu dalam kalimat. Telah kau kenangkan peristiwa dalam kata. Detakmu, detakku, berarak awan menjelma hujan.

Hidup tak semenye-menye seperti yang kau kira. Meski banyak hal penting kau lewatkan. Meski banyak kata-kata penting yang ingin kau sampaikan kepadanya tetap tak terucapkan. Simpan. Tulis untuk surat kabar pagi. Lalu, biar penjual tempe gunakan kertasnya sebagai bungkus penuntas perjalanan. Faking Shit-lah ya …

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.